Tanah Pak Lambiak : Perpaduan Belanda-Jawa di Kota Serambi Mekah 

Iklan Semua Halaman

Tanah Pak Lambiak : Perpaduan Belanda-Jawa di Kota Serambi Mekah 

Admin Minangkabau
16 December 2016
Kantor Kelurahan Tanah Pak Lambiak 


Tanah Pak Lambiak adalah sebuah nama kelurahan di Kecamatan Padang Panjang Timur - Kota Padang Panjang . Wilayah yang sejarahnya adalah sebuah lahan perkebunan, Tanah Pak Lambiak kini  berkembang menjadi sebuah daerah pemukiman yang favorit bagi masyarakat Padang Panjang.

Wilayahnya yang berada tepat di belakang Sekolah Calon Tamtama B / Rindam I BB , menjadikan Kelurahan Tanah Pak Lambiak menyimpan banyak cerita dan kisah  di masa lalu.

Kompleks Secata B dimasa penjajahan Belanda sekitar tahun 1870 - an  dikenal sebagai tangsi. Yaitu Kantor Pusat Affdelling ( setingkat Residen )  Belanda untuk mengontrol dan mengendalikan daerah-daerah di Minangkabau. 

Pasca bergabungnya Kaum Adat dengan penjajah Belanda dalam perseteruannya dengan Kaum Paderi, sebagian besar wilayah Minangkabau memang dikendalikan oleh Belanda. Sebagai pimpinan Affdelling biasanya dipegang oleh orang Belanda, sementara jabatan di bawahnya dipegang oleh pribumi. Di tangsi inilah banyak orang Belanda bermukim dan menjadi Tuan Tanah di wilayah sekitarnya.


Dari penjelasan seorang Tokoh Masyarakat di Tanah Pak Lambiak Bapak Asrizallis, S.Sos,M.Pd.I,MM,M.H yang biasanya dipanggil Pak Zen, tersebutlah seorang Tuan Tanah bernama Van Lambrex.

Asrizallis , atau biasa dipanggil Pak Zen
Tuan Van Lambrex yang berkebangsaan Belanda ini konon memiliki kebun tanaman Nilam yang cukup luas. Kebunnya berada di belakang tangsi. Dari tanaman nilam ini nantinya diolah menjadi minyak Nilam . Komoditas minyak Nilam merupakan komoditas primadona kala itu, sebagai bahan baku sabun, parfum, cat, dan pelumas  peluru.

Selain kebun nilam , Tuan Van Lambrex juga memiliki pabrik limun ( minuman bercitarasa buah ).  Untuk menjalankan usahanya tersebut, Van Lambrex memperkerjakan banyak orang. Sebagian besar pekerjanya berasal dari etnis Jawa yang dikirim oleh Pemerintah Kolonial ke Pulau Sumatera.

Seiring berjalannya waktu, jumlah para pekerja Jawa ini terus bertambah. Mereka bermukim di sekitar tanah perkebunan Van Lambrex. Ketika pagi menjelang, para pekerja mulai berdatangan di tanah Van Lambrex , baik untuk berkebun maupun mengolah limun. Dan sore harinya, mereka kembali ke tempat peristirahatan masing-masing.

Saat disapa oleh penduduk pribumi ketika berpapasan,  mau kemana ?
Para pekerja dari Jawa ini selalu menjawab ke " Tanah Pak Lambiak" . Karena dialek dan cara pengucapan para pekerja yang susah untuk menyebut " Tanah Van Lambrex".


Kebiasaan pengucapan " Tanah Pak Lambiak" ini lama kelamaan menjadi familiar dan terbiasa untuk menyebut satu wilayah di belakang tangsi milik Van Lambrex.

Hari berganti dan tahun berlalu, penyebutan Tanah Pak Lambiak menjadi populer dan dikenal luas oleh masyarakat Kota Padang Panjang. Dan akhirnya ditetapkanlah menjadi nama sebuah Kelurahan . Sebuah perpaduan antara nama Tuan Tanah asal Belanda dan pengucapan lidah pribumi Jawa, maka jadilah " Tanah Pak Lambiak".

Ada beberapa peninggalan bangunan yang ditengarai sebagai rumah milik Van Lambrex di masa dulu . Yang pertama adalah gedung yang sekarang menjadi Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Padang Panjang. Dari desain interior dan eksteriornya masih menyisakan gaya arsitektur tempo dulu pada beberapa bagiannya.


Gedung Perpustakaan Kota Padang Panjang 


 Yang kedua adalah gedung yang sekarang menjadi SDN 02 Tanah Pak Lambiak, menurut penjelasan Pak Zen , di gedung sekolah dasar tersebut aktifitas para pekerja Van Lambrex dilakukan. Karena telah mengalami beberapa kali renovasi dan perbaikan, sisa arsitektur jaman Belanda memang sudah tidak nampak lagi.


Bangunan SDN 02 Tanah Pak Lambiak 

 Dan yang ketiga adalah sebuah kompleks pemakaman lama di belakang Musholla As Syifa. Ada beberapa makam yang ditengarai adalah makam tua di masa penjajahan Belanda dulu. Beberapa bulan yang lalu ( Agustus 2016. red ) ada wisatawan dari Belanda yang sempat mengunjungi makam tua ini,  berharap menemukan jejak pendahulunya yang pernah tinggal di Indonesia.

Giat Generasi Penerus Tanah Pak Lambiak Banyak Meraih Prestasi

Historis Tanah Pak Lambiak yang panjang dan penuh makna , mendorong generasi muda Tanah Pak Lambiak mengangkat kembali harmoni kehidupan antara Tuan Tanah Van Lambrex dan Para Pekerja dari Jawa.  Mereka menamakan komunitas nya dengan Van Lambrex Family.

Sari, seorang staf di Kelurahan Tanah Pak Lambiak yang merupakan warga asli Tanah Pak Lambiak menjelaskan komunitas warga Tanah Pak Lambiak ini. Dengan menggunakan nama " Van Lambrex Family" bukan hanya anak muda yang bisa berkontribusi, orang tua pun bisa bergabung.

Dan ini terbukti dengan pencapaian dari Kelurahan Tanah Pak Lambiak di Lomba Antar Kelurahan Tingkat Propinsi Sumatera Barat Tahun 2013 lalu. Kelurahan Tanah Pak Lambiak menyabet peringkat 3 Se - Sumatera Barat.

Di bidang pendidikan, SDN 02 Tanah Pak Lambiak memperoleh penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Propinsi Sumatera Barat 2015 dan berhak maju sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional Tahun 2015. Kriteria Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang telah dan memenuhi syarat baik fisik maupun administrasi. Persyaratan fisik adalah berupa kondisi fisik lapangan sekolah dinilai masih memenuhi sebagaimana kriteria yang ditetapkan yakni kelengkapan sarana dan prasarana pengelolaan lingkungan hidup yang ada disekolah yang bersangkutan. 

Saat ini , Kelurahan Tanah Pak Lambiak telah tumbuh menjadi wilayah yang terus berkembang sesuai tuntutan jaman. Pemukiman dan beberapa lembaga pendidikan berdiri di Kelurahan Tanah Pak Lambiak, diantaranya adalah sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu Ma'arif.

Dengan kondisi kota yang curah  hujannya  tinggi  , historis Tanah Pak Lambiak menambah khasanah sejarah di Kota Hujan ini . 

We wonen hier in een regennest, Meneer!”

kata seorang pelancong Belanda pada akhir abad ke-19 yang pernah berkunjung ke kota ini. Yang artinya " Kita berada di Pusatnya Hujan, Tuan ".

Secara geografis, luas wilayah Kelurahan Tanah Pak Lambiak adalah 32 hektar dengan ketinggian yang berbeda-beda. Wilayahnya banyak yang berupa lurah ( lembah ) dan perbukitan. Dengan jumlah penduduk sebanyak 400 lebih Kepala Keluarga dan mendekati 1717 jiwa . 

Masyarakat Kelurahan Tanah Pak Lambiak merupakan populasi masyarakat yang heterogen. Dari segi demografis, masyarakat Tanah Pak Lambiak berasal dari Suku Minang, Suku Jawa, dan Suku Batak. Bahkan untuk di Kota Padang Panjang, populasi masyarakat keturunan Jawa yang bermukim di Tanah Pak Lambiak adalah yang terbesar. Hal ini mungkin sangat erat kaitannya dengan sejarah Tanah Pak Lambiak itu sendiri. 

Dan uniknya, di beberapa kesempatan dan even yang diadakan oleh Pemerintah daerah, Kelurahan Tanah Pak Lambiak sering menampilkan Tarian Tor Tor yang merupakan kesenian tradisional masyarakat Batak.


Tanah Pak Lambiak, sebuah perpaduan Belanda dan Jawa di Kota Serambi Mekkah. Mungkinkah kekayaan historis ini diberdayakan menjadi aset wisata yang potensial ?

Ditulis oleh : Inyong Budi
Versi Cetak Tercantum Dalam Majalah   " Serambi Mekah" Edisi 2 Tahun 2016