Bukittinggi, pasbana - Pemerintah Kota Bukittinggi menegaskan arah pembangunan kota modern berbasis pelestarian warisan budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan. Langkah ini dilatarbelakangi posisi Bukittinggi sebagai kota bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, Kamis (2/4), menyampaikan bahwa pembangunan perkotaan tidak lagi sekadar berorientasi pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kota juga harus menjadi ruang sosial budaya yang menjaga identitas, nilai historis, serta memori kolektif masyarakat.
“Bukittinggi memiliki sejarah berlapis, sehingga pengelolaan kota perlu mengintegrasikan pelestarian fisik, sosial, dan ekonomi secara berimbang,” ujar Ibnu.
Komitmen tersebut dibahas melalui forum Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan akademisi dan mahasiswa guna merumuskan kebijakan strategis berbasis riset. Pemerintah daerah mendorong kolaborasi multipihak, termasuk peran generasi muda, dalam menjaga keberlanjutan pembangunan kota.
Perwakilan akademisi dari Institut Teknologi Bandung, Bagas Dwi Putra, menilai Bukittinggi relevan dijadikan model kota pusaka karena memiliki jejak sejarah panjang, termasuk sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Menurutnya, konsep pelestarian modern tidak hanya menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga melestarikan kawasan, tradisi, dan aktivitas sosial masyarakat secara berkelanjutan.
Saat ini, Pemkot Bukittinggi juga tengah memproses usulan status daerah istimewa tingkat nasional, bertepatan dengan peringatan satu abad Jam Gadang pada Juni 2026. Upaya ini diharapkan memperkuat posisi Bukittinggi sebagai kota pusaka nasional sekaligus destinasi budaya unggulan di Indonesia.(*)




