Notification

×

Iklan

Iklan

Mahasiswa Asal Aceh Gelar Pameran Seni Tugas Akhir, Angkat Motif Rumpun Biluluk Menjadi Typeface Modern

30 Juni 2026 | 22:32 WIB Last Updated 2026-06-30T15:32:24Z


Padang Panjang, pasbana– Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang asal Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, Ampoen Fachrial, menggelar pameran karya tugas akhir bertajuk "Perancangan Typeface Adaptasi dari Motif Rumpun Biluluk Aceh Barat Daya" di Hotel Aulia Padang Panjang, Selasa (30/6/2026).

Melalui pameran tersebut, Ampoen menghadirkan sebuah karya desain komunikasi visual yang tidak hanya menampilkan nilai estetika, tetapi juga menjadi media edukasi bagi generasi muda untuk ikut melestarikan adat dan budaya daerah melalui identitas visual yang modern.

Ampoen Fachrial menjelaskan bahwa Motif Rumpun Biluluk merupakan salah satu motif etnis yang berasal dari Kabupaten Aceh Barat Daya. Motif ini tergolong baru dan diciptakan sebagai representasi identitas serta ciri khas adat dan budaya masyarakat Aceh Barat Daya.



"Alasan saya mengangkat Motif Rumpun Biluluk karena motif ini memiliki makna budaya yang kuat sekaligus menjadi identitas khas daerah. Saya berharap karya ini dapat memperkenalkan budaya Aceh Barat Daya kepada masyarakat yang lebih luas," ujarnya.

Ia menambahkan, Motif Rumpun Biluluk terinspirasi dari tradisi Manoe Pucok, salah satu adat budaya masyarakat Aceh Barat Daya. Dalam proses penciptaannya, berbagai perlengkapan yang digunakan pada prosesi Manoe Pucok, seperti nyiu, dimodifikasi menjadi rangkaian motif etnik yang kemudian diaplikasikan pada kain, pakaian, hingga berbagai perlengkapan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang pengunjung pameran sekaligus desainer muda, Mursiddiq, S.Ds., M.Sn., menilai karya Ampoen berhasil menghadirkan nuansa budaya Aceh dalam balutan desain tipografi yang modern.

Menurutnya, Ampoen mampu mengangkat unsur budaya ke dalam bentuk typography tanpa terkesan dipaksakan. Hasilnya adalah sebuah karya tipografi yang estetik, modern, namun tetap mempertahankan karakter khas Motif Rumpun Biluluk.

"Sebagai desainer muda, Ampoen tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis yang baik, tetapi juga memiliki kepekaan dalam menerjemahkan narasi budaya menjadi elemen visual yang segar, komunikatif, dan estetis," tuturnya.

Ia juga mengapresiasi penyajian pameran yang menampilkan rangkaian huruf-huruf alfabet hasil rancangan typeface secara menarik. Menurutnya, komposisi visual tersebut memberikan pengalaman estetis yang menyegarkan bagi para pengunjung.



Sementara itu, budayawan Aceh Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., mengatakan bahwa perancangan typeface yang dilakukan Ampoen Fachrial bukan sekadar menghasilkan karya desain grafis, melainkan juga menjadi salah satu strategi kreatif dalam upaya pelestarian adat dan budaya Aceh Barat Daya.

"Dengan mengadaptasi Motif Rumpun Biluluk ke dalam bentuk typeface, karya ini memiliki nilai budaya sekaligus nilai inovasi yang tinggi. Ini merupakan langkah penting untuk memperkenalkan budaya daerah melalui media desain visual," ujar dosen Jurusan Teater ISI Padang Panjang tersebut.

Ampoen menjelaskan bahwa typeface yang dirancang diberi nama Rumbiya, singkatan dari Rumpun Biluluk Aceh Barat Daya. Nama tersebut dipilih agar mudah diingat sekaligus menghadirkan identitas baru dalam dunia tipografi.

Proses perancangannya meliputi sintesis ide, eksplorasi bentuk, stilasi, pembuatan sketsa manual, digitalisasi menggunakan Adobe Illustrator, hingga pemrograman font melalui aplikasi FontLab. Typeface yang dihasilkan diberi nama Rumbiya Typeface dan dikategorikan sebagai display typeface dengan format OTF (OpenType Font) sehingga dapat digunakan pada berbagai perangkat digital.

Menurut Ampoen, Rumbiya Typeface tidak hanya berfungsi sebagai karya desain grafis, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya yang mampu memperkuat eksistensi Motif Rumpun Biluluk serta membuka peluang pemanfaatannya dalam berbagai media komunikasi visual dan produk industri kreatif.

"Melalui karya ini, saya berharap Rumbiya Typeface dapat menjadi identitas visual baru yang merepresentasikan kekayaan budaya Aceh Barat Daya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas," pungkasnya.
(*/Ichsan)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update