Padang, pasbana - Di bawah Jembatan Siti Nurbaya, Batang Arau mengalir tenang. Di tepian sungainya, Senin (10/8/2026) malam, warna-warni budaya bertemu dalam satu panggung. Musik, tari, dan tradisi dari berbagai etnis berpadu, seolah mengingatkan kembali bahwa Padang tumbuh bukan dari satu warna saja.
Malam itu menjadi penutup Padang Harmoni Festival 2026, festival yang untuk pertama kalinya digelar dalam rangka Hari Jadi Kota Padang ke-357. Mengusung tema “Urang Padang Jalan Barampek”, festival ini mempertemukan empat unsur budaya yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan kota: Minangkabau, Nias, Tionghoa, dan India.
Bukan sekadar pertunjukan seni, festival tersebut menyampaikan pesan sederhana: keberagaman tidak harus berakhir menjadi jarak. Ia bisa menjadi ruang perjumpaan.
Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir menyebut keberagaman etnis dan budaya sebagai modal sosial penting bagi pembangunan. Kerukunan dan toleransi, menurut dia, merupakan karakter yang perlu terus dirawat agar Padang tetap menjadi kota yang harmonis sekaligus mampu bergerak menuju cita-cita sebagai kota gastronomi dunia.
Pemilihan Kota Tua sebagai lokasi pun terasa seperti menemukan panggung yang tepat. Kawasan ini sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Pemerintah Kota Padang mencatat sejarah kota berkembang dari aktivitas perdagangan dan interaksi lintas etnis. Bangunan-bangunan tua di sepanjang Batang Arau menjadi jejak perjalanan panjang tersebut.
Karena itu, ketika kesenian Minangkabau, Nias, Tionghoa, dan India hadir dalam satu perayaan, yang ditampilkan sesungguhnya bukan hanya tarian atau musik. Ada cerita tentang bagaimana sebuah kota belajar hidup bersama.
Bagi Padang, pesan itu semakin relevan. Pemerintah kota tengah mendorong revitalisasi Kota Tua sebagai kawasan wisata sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif. Kekayaan multietnis bahkan dipandang sebagai salah satu modal penting dalam membangun identitas gastronomi kota.
Padang Harmoni Festival akhirnya meninggalkan lebih dari sekadar kemeriahan malam penutupan. Ia menawarkan gagasan bahwa kota yang maju bukan hanya kota dengan bangunan dan ekonomi yang tumbuh, tetapi juga kota yang warganya mampu merawat ruang bersama.
Di Kota Tua, pesan itu terasa sederhana: berbeda boleh, tetapi berjalan bersama adalah kekuatan.
Kini tantangannya adalah menjadikan harmoni bukan sekadar tema festival, melainkan kebiasaan yang hidup setiap hari.
Makin tahu Indonesia.(*)




