Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Anak Marah kepada Tuhan, Dengarkan Luka di Balik Kemarahannya

Rabu, 30 September 2026 | 12:39 WIB


Pasbana - Ada kalanya duka tidak datang dalam bentuk air mata. Ia bisa muncul sebagai kemarahan, pertanyaan yang tajam, bahkan kalimat yang membuat orang dewasa terdiam.

Sesaat setelah tsunami Aceh 2004, seorang relawan pernah bertemu dengan seorang remaja yang kehilangan keluarganya. Di tengah kehancuran itu, ia berkata bahwa Tuhan kejam karena seluruh keluarganya tersapu tsunami.

Kalimat tersebut mungkin terdengar keras bagi sebagian orang. Tetapi bagi pendamping yang memahami trauma dan kehilangan, ucapan itu tidak serta-merta harus dibalas dengan ceramah tentang iman, takdir, atau kesabaran.

Sebab anak itu mungkin sebenarnya tidak sedang berbicara tentang teologi. Ia sedang berbicara tentang kehilangan.

Di balik marah, ada luka


Kehilangan orang yang dicintai dapat membuat anak mengalami banyak emosi sekaligus: sedih, takut, bingung, kosong, kecewa, hingga marah.

Dalam kondisi demikian, kemampuan anak untuk mengelola dan mengungkapkan emosi belum tentu matang. Kalimat yang keluar bisa terdengar kasar atau tidak masuk akal. Namun, kata-kata itu kerap menjadi cara sederhana untuk mengatakan, “Aku sangat terluka.”

Karena itu, orang dewasa perlu belajar membedakan antara isi ucapan dan pesan emosional di baliknya.

Bukan berarti setiap perkataan anak harus dibenarkan. Namun, respons yang terburu-buru menghakimi dapat membuat anak merasa tidak aman untuk mengungkapkan perasaannya.

Tidak semua luka membutuhkan nasihat
Ada waktu untuk menjelaskan tentang iman, takdir, sabar, dan menerima kenyataan. Tetapi mungkin bukan pada menit-menit pertama ketika seorang anak sedang berada di titik paling rapuh.

Alih-alih langsung mengatakan, “Jangan bicara seperti itu,” orang dewasa bisa memulai dengan pengakuan sederhana: “Kamu kehilangan banyak sekali. Pasti berat.”

Validasi bukan berarti menyetujui semua ucapan anak. Validasi berarti mengakui bahwa perasaannya nyata dan layak didengarkan.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan prinsip dukungan psikososial setelah bencana: rasa aman, hubungan dengan orang lain, serta kesempatan untuk mengekspresikan emosi merupakan bagian penting dalam proses pemulihan.

Menjadi tempat anak kembali


Pengasuhan pada dasarnya bukan sekadar mengajarkan anak bagaimana berbicara dengan benar. Ia juga tentang membantu anak memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Ketika kemarahan mulai reda, barulah ruang untuk berbicara tentang nilai, keyakinan, harapan, dan cara memaknai kehilangan dapat dibuka secara perlahan.
Duka memang tidak selalu tampil sebagai tangisan. Kadang ia berteriak.

Maka ketika anak mengucapkan kalimat keras karena kehilangan, jangan hanya mendengar kata-katanya. Dengarkan luka di baliknya.

Sebab pada saat tertentu, anak tidak membutuhkan orang dewasa yang paling pandai memberi jawaban. Ia membutuhkan seseorang yang cukup sabar untuk menemani sampai badai di dalam dirinya mereda.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update