Notification

×

Iklan

Iklan

"Mancucuik Langkitang" Saat Berbuka: Sensasi Gurih Pedas dari Pantai Padang

08 Maret 2026 | 16:32 WIB Last Updated 2026-03-08T09:32:12Z



Padang, pasbana - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di sepanjang Pantai Padang biasanya berubah menjadi semacam “festival kuliner dadakan”. Deretan pedagang menjajakan berbagai camilan khas Minangkabau. Di antara aroma gorengan dan sate yang menggoda, ada satu sajian yang selalu menarik perhatian: langkitang cucuik.

Bagi sebagian orang, makanan ini mungkin terlihat sederhana—bahkan sedikit unik. Namun bagi warga Sumatera Barat, langkitang adalah bagian dari tradisi kuliner yang sudah lama dikenal.

Langkitang sendiri merupakan siput air tawar berukuran kecil yang banyak ditemukan di sungai, rawa, dan sawah di wilayah Sumatera Barat. Dalam kuliner Minang, langkitang biasanya dimasak dengan gulai santan yang kaya rempah, menghasilkan kuah gurih pedas yang khas.
Yang membuatnya menarik bukan hanya rasanya, tetapi juga cara menikmatinya.

Sensasi “Mancucuik” yang Bikin Ketagihan

Dalam bahasa Minang, kata “cucuik” berarti menghisap. Cara makan langkitang memang tidak menggunakan sendok atau garpu untuk mengambil dagingnya. Pengunjung cukup memegang cangkangnya, lalu menghisap isi siput langsung dari dalam cangkang.

Proses ini disebut “mancucuik langkitang.”
Bagi yang baru pertama mencoba, sensasinya seringkali memancing tawa. Ada yang terlalu pelan sehingga dagingnya tak keluar, ada pula yang terlalu kuat hingga kuahnya ikut muncrat. Namun setelah terbiasa, cara makan ini justru menjadi bagian dari keseruannya.




Tekstur daging langkitang yang kenyal dan gurih, berpadu dengan kuah santan pedas yang meresap hingga ke dalam cangkang, membuat camilan ini terasa semakin nikmat—terutama ketika disantap saat perut mulai kosong menjelang berbuka.

Favorit Wisatawan di Pantai Padang

Di kawasan wisata Pantai Padang, langkitang cucuik sudah lama menjadi salah satu street food favorit. Para pedagang biasanya menyajikannya dalam mangkuk kecil lengkap dengan kuah gulai yang hangat.

Menariknya, pembeli tidak hanya datang dari warga lokal. Banyak wisatawan yang justru penasaran mencoba makanan ini karena bentuknya yang unik.

“Awalnya ragu, tapi setelah coba ternyata enak. Cara makannya juga seru,” ujar salah seorang pengunjung yang sedang menikmati langkitang di tepi pantai.

Harga satu porsi langkitang juga relatif ramah di kantong, biasanya berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000, tergantung ukuran porsi dan lokasi penjual.

Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan

Menurut sejumlah catatan kuliner Minangkabau, penggunaan siput air tawar sebagai bahan makanan sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai daerah Sumatera Barat, masyarakat sejak lama memanfaatkan hasil alam seperti langkitang sebagai sumber protein alternatif.

Penelitian tentang pangan lokal oleh beberapa akademisi di Universitas Andalas juga mencatat bahwa siput air tawar seperti langkitang mengandung protein, mineral, dan zat besi yang cukup tinggi, meskipun konsumsinya tentu tetap perlu diolah secara higienis.

Hal ini menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak hanya menyimpan nilai budaya, tetapi juga memiliki potensi gizi yang baik.

Camilan Sederhana, Pengalaman Tak Biasa

Bagi warga Padang, langkitang mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian. Namun bagi banyak orang, mencicipi camilan ini bisa menjadi pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Apalagi jika dinikmati di tepi Pantai Padang, sambil menunggu azan magrib berkumandang, ditemani angin laut dan langit senja yang perlahan berubah warna.

Di situlah kesederhanaan kuliner tradisional terasa istimewa:
satu mangkuk kecil langkitang, cara makan yang unik, dan momen berbuka yang hangat bersama keluarga atau sahabat.

Jika suatu saat Anda berkunjung ke Padang saat bulan Ramadan, mungkin tidak ada salahnya mencoba sensasi “mancucuik langkitang.”

Siapa tahu, dari sekadar rasa penasaran, camilan ini justru menjadi salah satu kenangan kuliner yang paling Anda ingat dari Ranah Minang. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update