Pasbana - Pasar saham sering bergerak seperti ombak di laut. Ada masa tenang, ada pula saat gelombang besar datang. Pada Maret ini, banyak saham di Bursa Efek Indonesia mengalami koreksi cukup dalam. Bagi investor dengan dana besar, kondisi seperti ini sering dianggap sebagai “diskon besar-besaran”.
Namun bagi investor dengan modal terbatas, pertanyaannya sederhana: bagaimana cara menyicil saham yang turun tanpa menguras seluruh cash?
Mari kita bahas bagaimana strategi praktis averaging down secara bertahap, terutama bagi investor yang mengandalkan pendekatan fundamental investing.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), volatilitas pasar pada awal tahun sering meningkat karena sentimen global seperti kebijakan suku bunga bank sentral dan pergerakan ekonomi global.
Laporan dari Bloomberg dan CNBC Indonesia juga menunjukkan bahwa periode koreksi sering dimanfaatkan investor jangka panjang untuk menambah posisi pada saham berkualitas.
Lalu bagaimana strategi menyicil saham ketika pasar sedang turun?
1. Mulai Cicil di Area Support
Meski fokus pada fundamental perusahaan, memahami level support tetap penting bagi investor dengan dana terbatas. Support adalah area harga di mana saham biasanya berhenti turun karena banyak pembeli masuk.
Bayangkan seperti bola yang jatuh ke lantai. Saat menyentuh lantai, ada peluang bola itu memantul. Area support bekerja dengan prinsip serupa.
Jika saham sudah mendekati atau menyentuh support, investor bisa mulai membeli sedikit demi sedikit, bukan langsung menghabiskan seluruh dana.
Strategi ini membantu menjaga fleksibilitas jika harga masih bergerak turun.
2. Averaging Down Saat Penurunan Sudah Dalam
Banyak investor langsung membeli kembali ketika saham turun 1–2%. Secara teknis tidak salah, tetapi bagi investor dengan dana terbatas strategi ini sering kurang efektif.
Beberapa investor berpengalaman lebih memilih mulai menambah posisi ketika penurunan sudah mencapai sekitar 8–10% dari harga beli awal.
Alasannya sederhana: penurunan yang lebih dalam akan lebih signifikan menurunkan rata-rata harga beli (average price).
Contohnya seperti membeli barang diskon. Jika harga hanya turun sedikit, potongan terasa kecil. Namun jika diskonnya besar, pengaruhnya langsung terasa.
3. Cicil Saat Valuasi Sudah Sangat Murah
Ada kalanya harga saham turun begitu dalam hingga valuasinya terlihat sangat menarik. Dalam bahasa investor, kondisi ini sering disebut “no brainer”—situasi di mana harga terlihat terlalu murah dibandingkan fundamental perusahaan.
Beberapa indikator yang sering dipakai investor untuk menilai kondisi ini antara lain:
- Price to Earnings Ratio (PER) yang lebih rendah dari rata-rata historis
- Dividend yield yang meningkat karena harga saham turun
- Kinerja perusahaan yang tetap stabil
Investor legendaris Warren Buffett pernah mengatakan, “Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.” Artinya, ketika pasar panik, sering kali justru muncul peluang investasi terbaik.
Koreksi Pasar Bisa Jadi Kesempatan
Pasar saham memang tidak selalu naik. Namun bagi investor jangka panjang, periode koreksi sering menjadi momen evaluasi portofolio: saham mana yang layak ditambah, dan mana yang sebaiknya dilepas.
Strategi menyicil saham membantu investor tetap disiplin tanpa harus mengeluarkan dana besar sekaligus.
Yang terpenting, pastikan saham yang dibeli memiliki fundamental yang kuat, bukan sekadar ikut tren pasar.
Jika Anda ingin memahami strategi investasi saham lainnya, teruslah membaca artikel terkait dan tingkatkan literasi finansial Anda. Pengetahuan yang baik adalah modal terpenting dalam perjalanan menjadi investor yang cerdas. (*)




