Notification

×

Iklan

Iklan

Thibbun Nabawi dan Pengobatan Medis: Dua Jalan Ikhtiar yang Tak Perlu Dipertentangkan

15 Juni 2026 | 07:31 WIB Last Updated 2026-06-15T00:31:16Z


Pasbana - Ketika berbicara tentang kesehatan, sebagian masyarakat sering mempertentangkan antara Thibbun Nabawi (pengobatan Nabi) dan pengobatan medis modern. Padahal, keduanya lahir dari semangat yang sama: membantu manusia memperoleh kesehatan dan kesembuhan.

Secara sederhana, Thibbun Nabawi merupakan kumpulan petunjuk, kebiasaan, dan nasihat Rasulullah SAW terkait kesehatan yang tercatat dalam berbagai kitab hadis. Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai pola hidup sehat, penggunaan bahan-bahan alami seperti madu dan habbatussauda, hingga praktik pengobatan yang dikenal dalam tradisi Islam seperti bekam.

Karena bersumber dari hadis, kajian Thibbun Nabawi umumnya dipelajari oleh para santri, ulama, dan penuntut ilmu syariat. Sementara itu, pendidikan kedokteran modern lebih menitikberatkan pada ilmu biologi, anatomi, farmakologi, serta metode ilmiah yang terus berkembang melalui penelitian dan uji klinis.

Menariknya, sejarah menunjukkan bahwa dunia Islam pernah menjadi pusat perkembangan ilmu kesehatan. Nama-nama besar seperti Ibnu Sina dengan karya monumentalnya Al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine), Ar-Razi, hingga Abdul Latif Al-Baghdadi dikenal sebagai ulama sekaligus ilmuwan dan dokter yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu kedokteran dunia.
Abdul Latif Al-Baghdadi, yang wafat pada tahun 1231 M, bahkan dikenal sebagai seorang dokter, ahli fikih, ahli bahasa, dan filsuf. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian di bidang kesehatan tidak mengurangi peran seseorang sebagai ulama atau pendakwah.

Dalam perkembangan berikutnya, kajian Thibbun Nabawi semakin diperkaya melalui karya para ulama seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dengan kitab Ath-Thibb An-Nabawi dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi yang menulis Al-Manhaj As-Sawi wa Al-Manhal Ar-Rawi fi Ath-Thibb An-Nabawi. Karya As-Suyuthi bahkan sering disebut sebagai salah satu referensi paling lengkap dalam bidang tersebut.

Di era modern, banyak pakar kesehatan menilai bahwa pendekatan terbaik adalah menggabungkan nilai-nilai hidup sehat yang diajarkan agama dengan pengobatan medis berbasis bukti ilmiah. Dengan demikian, Thibbun Nabawi dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan, sementara diagnosis dan terapi medis tetap menjadi rujukan utama untuk berbagai penyakit.

Pada akhirnya, kesehatan bukanlah arena pertentangan antara tradisi dan sains. Keduanya dapat berjalan beriringan sebagai bentuk ikhtiar manusia dalam menjaga amanah terbesar yang dimiliki: kesehatan dan kehidupan. Makin tahu Indonesia. (*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update