Notification

×

Iklan

Iklan

Memaknai Hakikat Mudik

10 Mei 2021 | 14:06 WIB Last Updated 2021-05-24T01:28:34Z
Memaknai Hakikat Mudik

Oleh : Surya Bunawan, MA 


Pasbana.com -- MUDIK, adalah ritual. Sesuatu yang ada dan melekat pada peradaban-peradaban bangsa besar di dunia. Sebuah pergerakan manusia kembali ke titik awal  yang melibatkan massa manusia yang hampir tak terkira jumlahnya. Dengan segenap pengorbanan biaya, waktu, dan tenaga. Dan hari-hari besar keagamaanlah yang mampu menciptakan pergerakan manusia yang demikian besar jumlah dari satu titik ke titik yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain. Biasanya, dari kota ke desa-desa di mana orang tua dan keluarga mereka berada. 


Di Amerika Serikat kita mengenal budaya mudik yang sangat masif ketika memperingati hari libur nasional Thankgiving Day. Libur nasional yang diprakarsai oleh Presiden George Washington pada 1789. Presiden pertama yang menyatakan liburan Thanksgiving. Pada moment ini hamper seluruh warga Amerika akan Mudik dari satu negara bagian ke negara bagian yang lain, dan dari New York ke desa-desa, atau warga Amerika yang tinggal di negara lain pulang ke Amerika untuk merayakan keindahan saling berbagi, mengucap syukur dan meninkmati ragam menu masakan Kalkun. Mobilitas manusia tak terkira banyaknya ketika Mudik pada moment ini memngingat jumlah populasi masyarakat Amerika yang menenmpati ke-tiga terbesar di dunia setelah China dan India.


Di Asia, peristiwa sosial budaya-keagamaan yang kemudian menumbuhkan tradis mudik dengan mobilitas manusia dalam jumlah sangat besar dapat kita lihat pada negara China Dalam penanggalan mereka IMLEK merupakan perayaan tradisi tertua dan terpenting dalam kehidupan komunitas Tionghoa. Di luar daratan China, Tahun Baru China lebih dikenal sebagai Tahun Baru Imlek dan merupakan hari raya paling penting dalam masyarakat China. 


Dalam peristiwa budaya-sosial-dan agama ini seluruh warga China menginginkan untuk bias mudik dan berkumpul dengan seluruh sanak saudaranya di kampung halaman untuk melepas rindu setelah lama tidak berjumpa. Mereka akan saling berbagi rezeki__Angpao, amplop merah berisi uang yang dibagikan untuk sanak saudara, anak-anak, dan keluarga yang belum menikah. pada sesama sambil menikmati kue keranjang di bawah kerlap kerlip keindahan cahaya lampion atau lampu-lampu kertas. 


Bagaimana di Indonesia ?

Telah dua kali hari raya Indul Fitri, Pemerintah  melarang warganya untuk mudik ke kampung halamannya dengan beragam istilah, yang levelnya paling tinggi adalah PSBB, Pembatasan sosial bersekala besar. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pencegahan mobilitas warga  masyarakat dari satu daerah ke daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain dengan tujuan untuk meminimalisir penularan Covid-I9. Pemerintah punya tanggung jawab untuk melandaikan posisi angka-angka positif covid-19 dan bahkan membasminya sampai tuntas. Pemerintah tidak main-main. Seluruh jajarannya dilibatkan di garda terdepan untuk menghadapi covid. Termasuk penganggaran. Di Sumatera Barat_menurut laporan Tim safari Ramadhan , hampir 560 Miliyar dana Kegiatan pemprof dialihkan untuk penanganan penyebaran covid. Pemerintah melarang seluruh warganya untuk mudik, melintas provinsi yang berbeda. 


Bagaimana dengan Mudik ?

Kerinduan untuk bertemu sanak-saudara di kampung halaman, kerinduan ingin mengecup punggung tangan orang tua yang telah renta, kerinduan untuk menikmati suasana sawah dan ladang membuat panggilan mudik begitu kuat terasa. Berlinang air mata mengimpikan bias sekedar menikmati lontong sayur, Siomay, Empek-Empek, Bandeng, Lodeh, Cah Kangkung masakan emak, dan Itiak lado Hijau. 


Petugas menemukan rombongan mudik di dalam truk sayur, dengan kendaraan roda dua anak-beranak, bahkan di mobil Truk Molen yang biasa membawa semen curah. Pada kasus yang lain, ribuan, bahkan puluhan ribu kendaraan, bus, pribadi, roda dua diminta putar balik. Semuanya dicegah pulang. Mengapa nekat seperti itu ? Sulit untuk dijelaskan dengan hanya memaparkan dengan grafik peningkatan pasien covid-19 atau jumlah korban meninggal karena covid-19 sekalipun. 


Hakikat Mudik

Setelah puasa sebulan penuh dalam bulan Ramadhan yang mulia sudah semestinya kita Mudik. Pulang pada  asal kejadian sebagai manusia. Semoga dosa-dosa kita dihapus dengan Istighfar kita, Puasa, kita disempurnakan dengan zakat fitrah dan zakat mal. Shiam kita sempurnakan dengan Qiyam, jika demikian halnya, inilah hakikat Mudik yang paling hakiki, setelah sebulan penuh kita berpuasa dan melakukan kegiatan ibadah lainnya, kita kembali, mudik pada pada kesejatian insan ; seperti bayi yang baru di lahirkan. Hilang semua kebencian, yang tinggal hanya kasih sayang. Musnah segala sumpah serapah, yang baqa’ adalah hidup penuh berkah. (*) 

Padang Panjang, Penghujung Ramadhan 1442 Hijiriah



Image
Surya Bunawan, MA 
Pendidik di KMM Muhammadiyah Kota Padang Panjang, Muballigh dan Pegiat Literasi