Notification

×

Iklan

Iklan

Rapor dan Parenting

25 Oktober 2021 | 12:20 WIB Last Updated 2021-10-25T05:20:30Z

Oleh: Zulhendri, SE, ME *) 


Pasbana.com -- Ada nuansa yang berbeda yang kami rasakan sebagai wali murid saat pertengahan semester kemaren, cara yang lain dari yang biasa yang diterapkan oleh salah satu sekolah swasta di Padang Panjang dalam penyerahan rapor muridnya.


Kita langsung sebutkan saja "SDIT MA'ARIF" Padang Panjang membuat suatu terobosan dan  ini mungkin layak ditiru oleh sekolah-sekolah lainnya.Cara yang dilakukan oleh SDIT MA'ARIF adalah dengan mengagendakan training Parenting bagi wali murid untuk menyamakan sinyal ,pemahaman antara sekolah dan wali murid dalam mendidik anak .


Pemikiran sayapun kembali dibawa untuk flashback kebelakang,  teringat Kepada tausiyah2  tentang  parenting nubuwiyyah yang berbicara tentang pola pendidikan anak yang sesuai dgn nabi ajarkan.

وَ عَنْهُ اَيْضًا اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا مِنْ مَوْلِدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِتْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ 
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah juga, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah . Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.


Dari hadist  ini bisa kita ambil ibrah bahwa pola asuh  dalam pendidikan anak begitu penting. Pola yang terbangun dalam keluarga, sekolah bisa memberi warna dalam keyakinan dan pola pikir seorang anak. Oleh karena itu dalam mendidik anak kita sebagai orang tua, sekolah tidak bisa jika mengharuskan berkiblat ke Barat ataupun menganggap  timurtengahlah yang terbaik, tetapi yang lebih baik adalah berkiblat kepada Al-Qur an dan sunah Rasul yang sudah begitu sempurna. 


Pola pendidikan kita seharusnya dapat menumbuhkan segala kemampuan anak dalam rangka menjadikan ia menjadi manusia yang seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Al-Qur'an. Jika seorang anak telah memiliki dasar ikatan Agama yang kuat secara aqidah, ibadah, moral, sistem hidup dan syariat dan diaplikasikan dalam perbuatannya. Maka ia akan memiliki benteng keimanan yang kuat, keyakinan dan ketakwaan pada ajaran agama akan selalu dijunjung tinggi, ia akan mendobrak segala bentuk kejahiliyahan dalam dirinya, mereka akan berlaku jujur, tidak menghalalkan segala cara untuk sebuah tujuan, dan ia akan menentang setiap perilaku yang bertentangan dengan tuntunan tuntutan Islam. 


Sehingga jika semua tingkat pendidikan mampu membumikan pola tersebut maka kehidupan yang Islami dan bermoral akan mudah kita rasakan dalam kehidupan , tidak lagi merasa risau dengan bahaya kerusakan moral anak2 yang selama ini menghantui kehidupan anak kita akibat pergaulan dan teknologi. 


Lingkungan, baik keluarga maupun sekolah adalah salah satu faktor yang selalu ikut mewarnai dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, apalagi setelah anak mulai mengenal, berinteraksi dengan lingkungannya . Agar lingkungan ini diharapkan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak diperlukan upaya penyamaan persepsi, pemahaman yang sungguh-sungguh antara wali murid dan pihak sekolah terutama yang bersifat nilai- nilai agamis.  


Seorang anak yang masih gampang meniru itu yang hidup dan berkembang di tengah keluarga, lingkungan dan berorientasi kepada mereka, menangkap dan menyerap pola pikir dan pola hidup mereka sepanjang daya tangkap dan daya serapnya mengadopsi norma-norma yang berlaku dalam situasi keluarga dan lingkungan  tersebut.


Jika diamati secara seksama, betapa kelahiran anak dan keberadaan seorang anak di tengah mereka mengubah pola hidup dan pola pikir mereka. Keluarga dan lingkungan sekolah menjadi percontohan bagi mereka.
Maka peran orang tua dan sekolah dalam mendidik serta memelihara anak-anak tentu saja tidak dapat dilakukan tanpa ada rencana, metode dan tujuan yang baik dan kesamaan tujuan. 


Dan bagi orang tua  dalam mendidik anak, mereka harus mempersiapkan sedini mungkin untuk mendidik anak-anaknya kelak. Mendidik anak bukan hanya ketika telah di karunia anak oleh Allah dan berhenti satelah anak menjadi dewasa,namun mendidik anak dilakukan jauh sebelum anak itu dilahirkan.


Dalam menjalankan peran orang tua, perlu konsekuensi dan kesabaran dalam
menjalankannya. Namun banyak orang tua tidak bisa melakukan itu, Banyak orang tua
dalam mendidik anak-anaknya tidak ingin di repotkan sehingga ia melimpahkan
pendidikan anaknya kepada sekolah ataupun lembaga pendidikan yang ia inginkan.


Disinilah awal mula peran orang tua mulai ditinggalkan. Dalam konsep pendidikan Islam, orang tua menjadi sentral pendidikan bagi anak-anaknya, namun jika ia tidak memiliki kemampuan dalam hal itu boleh memberikan kepada guru atau lembaga yang berkaitan namun tidak melepaskan dengan begitu saja pendidikan anaknya tersebut, dengan pengawasan bersama antara orang tua dan lembaga pendidikan maka akan terwujud karakter peserta didik yang memiliki karakter islami sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan pendidikan yang Islam ajarkan. (*) 

*) Penulis adalah Walimurid di SDIT Maarif
    Praktisi Ekonomi Syariah
    Wakil Ketua I Baznas Kota Padang Panjang