Sawahlunto, pasbana - Sawahlunto bukan sekadar kota kecil di Sumatera Barat. Ia pernah menjadi jantung energi Nusantara. Kini, tambang batu bara legendaris Ombilin kembali disebut-sebut akan berdenyut lagi. Bukan sekadar wacana, tapi dorongan serius dari Danantara Indonesia.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, bahkan meminta proses reaktivasi tidak menunggu 2027. “Sekarang saja,” tegasnya di Jakarta. Pesannya jelas: ekonomi tidak bisa menunggu.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merespons cepat. Direktur Operasional Ilham Yacob menjelaskan, tahap yang sedang berjalan adalah pengurusan dokumen krusial—mulai dari perizinan, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), hingga feasibility study. Tanpa itu, tidak ada satu alat pun yang bisa bergerak. Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menambahkan, operasional baru bisa dimulai setelah semua legalitas dan persetujuan pemerintah rampung.
Mengapa Ombilin penting? Angkanya berbicara. Potensi cadangan diperkirakan mencapai 2 juta ton untuk tambang terbuka dan sekitar 100 juta ton untuk tambang dalam. Jika aktif penuh, proyek ini bisa menyerap sedikitnya 1.000 tenaga kerja. Di kota seperti Sawahlunto, angka itu bukan kecil. Itu bisa berarti warung kembali ramai, rumah kos terisi, dan ekonomi lokal berputar lagi.
Tambang ini bukan pemain baru. Dibuka resmi pada 28 Desember 1891, depositnya ditemukan oleh Willem Hendrik de Greve pada 1867–1868. Dari sinilah industrialisasi Sumatera Barat bergulir. Rel kereta dibangun, Pelabuhan Teluk Bayur—dulu dikenal sebagai Emmahaven—dihidupkan.
Ombilin pernah menjadi simbol kemajuan.
Namun 25 tahun terakhir, aktivitasnya meredup. Ekonomi Sawahlunto ikut lesu. Kini, reaktivasi tambang menjadi harapan baru.
Namun 25 tahun terakhir, aktivitasnya meredup. Ekonomi Sawahlunto ikut lesu. Kini, reaktivasi tambang menjadi harapan baru.
Tentu, di era transisi energi dan isu lingkungan yang semakin sensitif, kebangkitan tambang batu bara harus dibarengi tata kelola yang ketat dan keberlanjutan.
Amdal bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi agar ekonomi dan lingkungan bisa berjalan beriringan.
Pertanyaannya sederhana: bisakah Ombilin bangkit lagi tanpa mengulang kesalahan masa lalu? Jika dikelola cermat, sejarah mungkin tak hanya dikenang—tapi ditulis ulang.(*)




