Notification

×

Iklan

Iklan

Ramuan dari Ranah Minang: Ketika Alam Menjadi Apotek Kehidupan

24 Februari 2026 | 15:01 WIB Last Updated 2026-02-24T08:01:16Z
 

Pasbana - Di dapur-dapur rumah gadang dan di sudut kampung yang tenang di Ranah Minang, pengobatan tak selalu dimulai dari resep dokter. Ia bisa berawal dari kebun belakang rumah—dari daun yang dipetik pagi hari, dari akar yang dibersihkan dengan hati-hati, dari rempah yang ditumbuk di atas batu.

Bagi masyarakat Minangkabau, alam bukan sekadar lanskap. Ia adalah apotek hidup.
Warisan pengobatan tradisional Minangkabau tumbuh dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Ramuan nabati, akar-akaran, dan rempah-rempah menjadi bahan utama yang dipadukan dengan metode penyembuhan seperti batangeh (mandi uap rempah) dan bauruik atau urut tradisional. 

Praktik ini bukan sekadar ikhtiar menyembuhkan tubuh, tetapi juga bagian dari falsafah hidup yang menyatukan manusia dan alam.

Dari Daun ke Daya Sembuh


Dalam tradisi Minang, setiap daun punya cerita, setiap akar punya fungsi.
Daun jarak (Jatropha curcas), misalnya, lazim digunakan untuk membantu meredakan demam tinggi. Daunnya direndam dalam air hangat atau ditempelkan pada tubuh sebagai kompres alami. 




Sejumlah penelitian farmakologi menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung senyawa antiinflamasi dan antibakteri, meski penggunaannya tetap perlu hati-hati dan tidak berlebihan.

Ada pula daun sidingin atau sitawa, yang dikenal sebagai tanaman penurun panas. Biasanya diremas dan dijadikan kompres untuk membantu meredakan demam, batuk, atau nyeri ringan. Tanaman ini dipercaya memiliki efek menenangkan karena kandungan flavonoid dan senyawa bioaktif lainnya.

Rempah seperti kunyit (Curcuma longa), serai (Cymbopogon citratus), dan daun sirih (Piper betle) sudah lama menjadi bagian dari pengobatan tradisional Nusantara, termasuk di Minangkabau.

Kunyit dikenal memiliki kandungan kurkumin yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi. Serai memiliki efek relaksasi dan antibakteri, sementara sirih terkenal sebagai antiseptik alami.

Bunga kembang sepatu—disebut juga bungo rayo—diremas dalam air matang dan diminum untuk membantu menurunkan panas. 

Sedangkan akar ilalang (Imperata cylindrica) kerap dipakai untuk membantu menyeimbangkan “unsur panas” dalam tubuh akibat konsumsi rempah tertentu.

Sebagian masyarakat juga menggunakan akar pinang atau kelapa dalam racikan tertentu yang diramu oleh tabib kampung. Pengobatan ini tak hanya menyasar penyakit fisik seperti demam, batuk, atau nyeri otot, tetapi juga gangguan yang diyakini bersifat non-medis atau “magis”, sesuai dengan kepercayaan lokal.

Batangeh: Spa Rempah yang Sarat Filosofi


Salah satu metode penyembuhan paling khas dari Minangkabau adalah batangeh. Tradisi ini bisa disebut sebagai “spa herbal” versi lokal.




Batangeh dilakukan dengan duduk atau berbaring di atas kursi atau bangku berlubang, sementara di bawahnya diletakkan rebusan rempah-rempah panas seperti serai, daun pandan, cengkeh, kayu manis, dan daun jeruk. Tubuh kemudian diselimuti kain agar uap tidak keluar.

Tujuannya? Menghangatkan tubuh, melancarkan peredaran darah, meredakan pegal, membantu mengatasi sinusitis, rematik, bahkan dipercaya membantu menurunkan kadar kolesterol.

Secara ilmiah, terapi uap memang dikenal dapat membantu membuka pori-pori kulit, melancarkan sirkulasi, serta memberi efek relaksasi. Kementerian Kesehatan RI sendiri mengakui pengobatan tradisional sebagai bagian dari pelayanan kesehatan komplementer, selama dilakukan secara aman dan tidak menggantikan pengobatan medis untuk penyakit berat.

Di Minangkabau, batangeh juga sering dilakukan oleh perempuan pascamelahirkan sebagai bagian dari pemulihan tubuh.

Bauruik: Sentuhan yang Menghidupkan


Selain batangeh, praktik bauruik atau urut tradisional juga menjadi andalan. Minyak urut biasanya diracik dari campuran minyak kelapa dengan rempah seperti cengkeh, kayu manis, atau serai.




Pijatan dilakukan untuk membantu melancarkan peredaran darah, meredakan nyeri otot, serta mengurangi ketegangan tubuh. Dalam banyak budaya, terapi pijat terbukti mampu membantu mengurangi stres dan meningkatkan relaksasi. 

Di Minangkabau, urut bukan sekadar teknik, tetapi juga sarana membangun kedekatan sosial—antara orang tua dan anak, antara tabib dan pasien.

Antara Tradisi dan Ilmu Modern


Pengobatan tradisional Minangkabau adalah bagian dari sistem etnomedisin yang hidup di tengah masyarakat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mendorong integrasi pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional, dengan catatan melalui penelitian ilmiah dan pengawasan mutu.

Di Indonesia, regulasi mengenai jamu dan obat tradisional diatur oleh BPOM dan Kementerian Kesehatan. Artinya, praktik tradisional tetap bisa berjalan berdampingan dengan pengobatan modern selama mengutamakan keamanan, dosis yang tepat, dan tidak mengabaikan diagnosis medis.

Penting untuk dipahami, ramuan tradisional bukan pengganti total pengobatan medis, terutama untuk penyakit kronis atau berat. Namun sebagai terapi komplementer, ia memiliki tempat tersendiri—terutama dalam konteks pencegahan dan pemeliharaan kesehatan.

Kearifan yang Perlu Dijaga


Di tengah gempuran obat modern dan layanan kesehatan berbasis teknologi, ramuan tradisional Minangkabau tetap bertahan. Ia hidup dalam praktik sehari-hari, dalam cerita para orang tua, dalam tangan-tangan tabib kampung yang meramu dengan ketelatenan.

Lebih dari sekadar pengobatan, tradisi ini adalah identitas budaya. Ia merekam pengetahuan ekologis masyarakat tentang tumbuhan, musim, dan keseimbangan tubuh.

Barangkali benar pepatah Minang: alam takambang jadi guru. Alam yang terbentang adalah guru kehidupan. Dan dari alam itulah, masyarakat Minangkabau belajar merawat tubuh—dengan daun, dengan akar, dengan uap hangat rempah yang mengepul perlahan di sudut rumah kayu.

Di sanalah kesehatan bukan sekadar soal sembuh, tetapi tentang harmoni. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update