Notification

×

Iklan

Iklan

IHSG Terseret Geopolitik: Ketika Minyak Melonjak, Rupiah Tersungkur, dan Investor Memilih Menepi

09 Maret 2026 | 12:03 WIB Last Updated 2026-03-09T05:03:04Z


Pasbana - Senin pagi, 9 Maret 2026, menjadi pembuka pekan yang terasa pahit bagi pasar keuangan Indonesia. Layar perdagangan memerah sejak detik pertama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terseret turun sekitar 5 persen saat pembukaan. Pada saat yang sama, rupiah terpukul hingga menyentuh Rp17.015 per dolar Amerika Serikat—level terlemah sepanjang sejarah.

Pasar jelas tidak sedang bereaksi terhadap rumor. Yang terjadi adalah gelombang kekhawatiran global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak Brent melonjak tajam lebih dari 17 persen ke sekitar US$108 per barel setelah fasilitas minyak Iran dilaporkan dihancurkan.

Situasi semakin panas ketika Mojtaba Khamenei disebut mengambil peran kepemimpinan di Teheran, sementara mantan Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap militer Iran.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak seperti ini bukan sekadar berita luar negeri. Dampaknya langsung terasa di dapur kebijakan fiskal. APBN Indonesia disusun dengan asumsi harga minyak sekitar US$70 per barel. Ketika harga melompat hingga di atas US$100, ruang fiskal otomatis menyempit.

Pemerintah pun berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama tidak nyaman. Pertama, menyesuaikan anggaran program besar—seperti program Makan Bergizi Gratis—untuk menutup lonjakan subsidi energi. Kedua, menaikkan harga bahan bakar seperti Pertalite atau Solar, yang berpotensi memicu inflasi biaya logistik dan menekan daya beli masyarakat.

Tekanan juga datang dari sisi nilai tukar. Indonesia sebagai pengimpor minyak harus membayar energi dengan dolar yang semakin mahal. Kombinasi harga minyak tinggi dan rupiah lemah menciptakan efek “double hit”: inflasi dari harga energi sekaligus inflasi dari kurs.

Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia kemungkinan harus mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah dan menahan arus modal keluar.

Di pasar saham, responsnya terlihat jelas. Investor asing memilih keluar dari pasar negara berkembang. Saham-saham perbankan besar menjadi sasaran jual pertama karena sensitif terhadap suku bunga dan pergerakan kurs.

Namun, di tengah tekanan tersebut, sektor energi justru mendapat angin segar. Emiten migas dan batu bara berorientasi ekspor berpotensi menikmati kenaikan harga energi global sekaligus keuntungan dari pendapatan dolar.

Bagi investor ritel, situasi seperti ini sering menggoda untuk “serok bawah”. Namun sejarah pasar menunjukkan: ketika kepanikan masih berlangsung, harga murah belum tentu menjadi harga terendah. Dalam badai pasar, kadang strategi paling bijak bukan menyerang—melainkan bertahan sambil menunggu langit kembali cerah.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update