Pasbana - Di tengah riuhnya diskusi soal pertumbuhan ekonomi, sering kali kita lupa pada satu kenyataan sederhana: ekonomi daerah sebenarnya berdiri di atas kaki-kaki kecil.
Kaki-kaki itu bernama UMKM—usaha mikro, kecil, dan menengah—yang setiap hari membuka lapak, menanak dagangan, dan menunggu pembeli dengan harapan sederhana: dagangan laku, dapur tetap mengepul.
Statistik sudah lama berbicara. Sekitar 97 persen tenaga kerja Indonesia terserap oleh sektor UMKM.
Artinya, hampir semua orang yang bekerja di luar sektor formal besar kemungkinan bergantung pada denyut ekonomi kecil ini. Dari warung sarapan di sudut kampung, penjual gorengan di depan sekolah, hingga pengrajin yang tekun memoles produk lokal menjadi barang bernilai jual.
Namun, di balik ketangguhan itu, UMKM sedang menghadapi musim yang tidak selalu ramah.
Namun, di balik ketangguhan itu, UMKM sedang menghadapi musim yang tidak selalu ramah.
Pemotongan dana transfer ke daerah (TKD), daya beli masyarakat yang melemah, hingga gempuran marketplace raksasa membuat ruang gerak usaha kecil makin sempit. Belum lagi beban defisit anggaran pemerintah daerah yang sering berujung pada minimnya program dukungan nyata.
Di jalan-jalan kota, kita melihatnya dengan kasat mata. Pedagang kaki lima—yang sering dianggap “pinggiran”—sebenarnya adalah penyangga ekonomi paling nyata. Mereka bukan sekadar penjual makanan atau minuman. Mereka adalah mesin ekonomi mikro yang menjaga uang tetap berputar di tengah masyarakat.
UMKM memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki banyak korporasi besar: kedekatan dengan potensi lokal. Mereka mengolah bahan baku dari sekitar—hasil tani, kerajinan tradisional, hingga kekayaan kuliner daerah—lalu mengubahnya menjadi produk bernilai tambah. Dari situlah identitas ekonomi lokal terbentuk.
Ketika sektor besar goyah oleh krisis global, UMKM sering kali justru tetap bertahan. Skalanya yang kecil membuatnya fleksibel. Modalnya mungkin terbatas, tapi kreativitasnya tidak.
Lebih dari itu, UMKM juga memainkan peran penting dalam pemerataan ekonomi. Di banyak daerah, lapangan kerja tidak lahir dari gedung-gedung tinggi, melainkan dari dapur rumah, bengkel kecil, atau kios sederhana di pasar nagari. Mereka mengurangi kesenjangan antara kota dan desa dengan cara yang sangat praktis: menciptakan pekerjaan di tempat orang tinggal.
Kini tantangan berikutnya adalah digitalisasi. Dunia usaha bergerak cepat menuju ekosistem digital, dan UMKM tak boleh tertinggal. Platform daring, pemasaran digital, hingga sistem pembayaran elektronik bisa menjadi jembatan bagi usaha kecil untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Namun, digitalisasi tidak bisa hanya menjadi slogan seminar. Ia membutuhkan dukungan konkret: akses permodalan yang ramah, pelatihan yang berkelanjutan, dan pendampingan yang nyata.
Sebab pada akhirnya, ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan atau laporan statistik. Ia ditentukan oleh apakah para pelaku UMKM—yang setiap hari membuka usaha sejak pagi—masih punya alasan untuk bertahan.
Jika mereka kuat, ekonomi daerah ikut kuat.
Jika mereka dibiarkan berjalan sendiri, jangan heran jika suatu hari kita menyadari bahwa tulang punggung ekonomi itu diam-diam mulai rapuh. (*)




