Notification

×

Iklan

Iklan

Lotek: Gurih-Manis yang Menggoda Saat Beduk Berkumandang

01 Maret 2026 | 08:44 WIB Last Updated 2026-03-01T01:44:41Z


Pasbana - Menjelang azan Magrib di ranah Minang, aroma kacang sangrai yang ditumbuk bersama kencur dan terasi kerap menyelinap dari sudut pasar. Di antara aneka takjil yang berjejer, semangkuk lotek tampil sederhana—namun justru itulah daya pikatnya. Gurih, manis, segar, dan sedikit pedas, lotek seperti dirancang untuk memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa.

Secara akar kuliner, lotek dikenal sebagai hidangan khas Sunda. Namun di Sumatera Barat, ia menemukan rumah kedua. Di tangan peracik Minang, saus kacangnya dibuat lebih “berani”: kencur terasa nyata, terasi menyumbang aroma yang dalam, dan gula merah memberi sentuhan legit yang membulatkan rasa. Perpaduan itu membedakannya dari gado-gado atau pecel yang lebih umum dijumpai di berbagai daerah.

Seporsi lotek biasanya berisi sayuran rebus—kacang panjang, kol, tauge, kangkung—yang disiram kuah kacang kental, lalu disajikan bersama lontong atau ketupat. Taburan bawang goreng dan kerupuk merah menambah tekstur renyah yang kontras dengan lembutnya sayuran. Saat disantap hangat-hangat selepas azan, rasanya seperti pelukan pertama setelah hari yang panjang.

Di bulan Ramadan, lotek kerap menjadi primadona di lapak pabukoan. Pasar-pasar sore berubah menjadi ruang perjumpaan rasa dan rindu. Orang-orang datang bukan hanya untuk membeli makanan, melainkan juga untuk merayakan kebersamaan. 

Lotek, dengan kandungan sayurannya, sering dianggap pilihan yang “aman” untuk lambung yang baru bangun dari jeda panjang. Secara gizi, kombinasi sayur dan kacang tanah memberi asupan serat, protein nabati, serta lemak sehat yang membantu tubuh pulih perlahan—tanpa rasa enek yang berlebihan.

Tak sulit menemukan lotek yang sedap. Di Padang dan kota-kota sekitarnya, pedagang kaki lima hingga warung harian menyajikannya dengan resep turun-temurun. Kuncinya ada pada keseimbangan bumbu: kacang harus cukup halus namun masih bertekstur, kencur tidak boleh mendominasi, dan gula merah mesti menyatu tanpa membuat eneg. 

“Rahasianya di ulekan terakhir,” kata seorang penjual yang telah berjualan lebih dari dua dekade. “Bumbu tak boleh terlalu cair, tapi juga jangan terlalu berat.”

Lotek adalah bukti bahwa kuliner Nusantara tak mengenal sekat kaku. Ia bisa lahir di satu tanah, tumbuh di tanah lain, lalu beradaptasi mengikuti selera setempat. Dan di bulan puasa, ketika kesederhanaan justru terasa paling nikmat, semangkuk lotek menjadi pengingat bahwa kelezatan sering hadir dari hal-hal yang tak berlebihan.

Jika suatu sore Anda melintas di pasar pabukoan, cobalah berhenti sejenak. Dengarkan bunyi ulekan, hirup aromanya, dan nikmati satu porsi lotek. Boleh jadi, Anda akan menemukan rasa yang bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menenangkan hati. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update