Notification

×

Iklan

Iklan

Menembus Batas Imajinasi: Diskusi Kreatif Kuflet Hadirkan Dr. Adri Yandi Bahas Strategi Berpikir Tanpa Batas

07 Maret 2026 | 18:44 WIB Last Updated 2026-03-07T11:44:31Z



Padang Panjang, pasbana — Komunitas Seni Kuflet kembali menggelar diskusi rutin yang menghadirkan tokoh seni dan akademisi untuk berbagi pengalaman kreatif. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Sabtu (7/3/2026) tersebut, Kuflet mengundang salah satu alumninya, Dr. Adri Yandi, S.Sn., M.Sn., seniman sekaligus dosen Jurusan Televisi dan Film Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.

Diskusi yang mengusung tema Unlock Infinity: Strategi Kreatif Bebas Batas itu berlangsung hangat dan interaktif. Puluhan peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa seni tampak antusias mengikuti pembahasan mengenai cara membangun pola pikir kreatif tanpa membatasi kemungkinan ide.

Ketua Komunitas Seni Kuflet, Nofal Dwi Saputra, menjelaskan bahwa kehadiran Adri Yandi sebagai narasumber bukan hanya untuk berbagi pengalaman profesional, tetapi juga untuk menginspirasi generasi muda yang aktif berkarya di komunitas tersebut.



“Dr. Adri Yandi adalah alumni Kuflet yang memiliki perjalanan kreatif yang menarik. Dari pengalaman beliau di komunitas inilah kemudian lahir pembahasan mengenai creative thinking, yakni cara berpikir yang tidak membatasi kemungkinan ide,” ujar Nofal saat membuka diskusi.

Pentingnya Berpikir Kreatif


Dalam sesi awal, Adri Yandi mengajak peserta untuk merenungkan pertanyaan sederhana: mengapa seseorang perlu berpikir kreatif?

Pertanyaan itu langsung mendapat respons dari salah satu peserta, Aji, yang menyebut bahwa kreativitas sangat penting agar seorang kreator tidak mengalami kebuntuan ide.

Creative thinking penting agar ide tidak berhenti di tengah jalan atau mengalami kebuntuan yang dalam dunia desain sering disebut art block,” kata Aji.




Menanggapi hal itu, Adri Yandi menjelaskan bahwa kreativitas pada dasarnya berangkat dari kemampuan seseorang melihat kemungkinan yang lebih luas.

Menurutnya, berbagai cabang seni sebenarnya memiliki pola yang sama, meskipun menggunakan medium yang berbeda.

“Awalnya saya tidak sepenuhnya percaya bahwa semua cabang seni memiliki kesamaan. Namun setelah bergabung di Kuflet, saya menyadari bahwa seni itu sebenarnya sama, hanya mediumnya yang berbeda,” jelas Adri.

Ia menambahkan bahwa musik, film, lukisan, hingga teater memiliki struktur kreatif yang serupa—mulai dari gagasan, proses eksplorasi, hingga penyampaian pesan kepada audiens.

“Perbedaannya hanya pada alat ekspresinya,” tambah dosen yang juga dikenal memiliki kemampuan di bidang lukis dan kriya tersebut.

Memperluas Cara Pandang

Dalam sesi diskusi, peserta lain bernama Windi mengajukan pertanyaan mengenai cara menciptakan konten yang berbeda dari kreator lain.

Menjawab pertanyaan tersebut, Adri menekankan pentingnya memperluas perspektif dalam proses kreatif.
Ia memberikan contoh sederhana dalam dunia produksi konten.




“Misalnya seseorang diminta membuat konten promosi hotel. Banyak kreator langsung fokus hanya pada bangunan hotelnya. Padahal kita bisa melihat dari sudut yang lebih luas—cerita tamu, pengalaman perjalanan, bahkan suasana kota di sekitarnya,” jelasnya.

Dengan memperluas sudut pandang, kata Adri, ide yang muncul akan terasa lebih segar, unik, dan tidak terjebak pada konsep yang sama.

Latihan Membuka Ruang Ide

Untuk mempraktikkan konsep tersebut, Adri mengajak peserta melakukan latihan sederhana.

Ia membagikan selembar kertas kepada setiap peserta dan meminta mereka menuliskan berbagai kata yang berkaitan dengan satu kata utama.

Pada awalnya, sebagian besar peserta hanya menuliskan kata-kata yang memiliki hubungan langsung dengan kata utama tersebut.

Namun setelah diminta untuk tidak terpaku pada hubungan yang terlalu dekat, berbagai kata yang lebih bebas dan tidak terduga mulai bermunculan.

“Latihan ini menunjukkan bahwa ide sebenarnya bisa berkembang tanpa batas, asalkan kita tidak mengurung pikiran dalam satu jalur saja,” katanya.

Menghancurkan Batas dalam Pikiran


Dalam kesempatan itu, Adri juga mengenang masa-masanya ketika masih aktif sebagai anggota Komunitas Seni Kuflet.
Ia mengaku dulu merupakan pribadi yang cenderung introvert. Namun pengalaman berorganisasi dan berdiskusi di komunitas tersebut membantunya menjadi lebih percaya diri.

“Banyak batasan yang sebenarnya hanya ada di pikiran manusia. Hal-hal yang kita kira memiliki batas sebenarnya bisa kita hancurkan,” ujarnya.

Menurutnya, ruang komunitas seperti Kuflet sangat penting bagi seniman muda untuk bertukar ide, mengasah kreativitas, dan membangun keberanian menyampaikan gagasan.



Inspirasi bagi Generasi Muda
Sementara itu, Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., pendiri Komunitas Seni Kuflet, mengatakan bahwa menghadirkan alumni dalam forum diskusi merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi intelektual di komunitas tersebut.

“Kami sengaja menghadirkan alumni dalam diskusi kali ini. Ternyata suasananya santai, tetapi penuh antusiasme. Kehadiran Dr. Adri Yandi memberikan inspirasi bagi adik-adik yang aktif di Kuflet,” ujar sastrawan sekaligus sutradara teater itu.

Ia menambahkan bahwa diskusi kreatif seperti ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa seni untuk terus mengembangkan gagasan dan memperluas wawasan.

Dengan menghadirkan praktisi sekaligus akademisi, Kuflet berharap generasi muda seni tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki cara berpikir kreatif yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan.
(Teuku Avaruk)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update