Pasbana - Di banyak rumah hari ini, pemandangan anak yang asyik menatap layar ponsel atau tablet sudah menjadi hal biasa. Gadget sering menjadi “penolong instan” ketika orang tua sibuk, atau sekadar cara mudah agar anak tetap tenang. Namun para ahli mengingatkan, terlalu lama di depan layar dapat membawa dampak serius bagi tumbuh kembang anak.
Istilah screen time merujuk pada waktu yang dihabiskan anak di depan layar—baik televisi, ponsel, tablet, maupun komputer. Jika tidak diatur dengan bijak, kebiasaan ini bisa memengaruhi kesehatan mata, kualitas tidur, hingga perkembangan emosi dan sosial anak.
Menurut rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP), anak usia 2–5 tahun sebaiknya tidak menggunakan layar lebih dari satu jam per hari, itupun dengan konten yang berkualitas dan didampingi orang tua. Sementara untuk anak di bawah dua tahun, penggunaan layar sebaiknya sangat dibatasi kecuali untuk video call bersama keluarga.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics juga menunjukkan bahwa anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung mengalami keterlambatan perkembangan bahasa, kesulitan fokus, serta berkurangnya kemampuan berinteraksi dengan orang lain.
Selain itu, paparan cahaya biru dari layar gadget pada malam hari dapat mengganggu produksi hormon melatonin—hormon yang membantu tubuh tidur. Akibatnya, anak menjadi lebih sulit tidur, atau kualitas tidurnya menurun. Padahal, tidur yang cukup sangat penting bagi pertumbuhan otak dan fisik anak.
Dampak lain yang sering luput dari perhatian adalah kesehatan mata. Menatap layar terlalu lama dapat memicu kelelahan mata, mata kering, hingga meningkatkan risiko gangguan penglihatan di usia dini.
Namun membatasi screen time bukan berarti melarang teknologi sepenuhnya.
Di era digital, anak tetap perlu mengenal teknologi sebagai bagian dari kehidupan modern. Kuncinya adalah keseimbangan.
Orang tua dapat mulai dengan menetapkan aturan sederhana, seperti tidak menggunakan gadget saat makan, sebelum tidur, atau ketika sedang berkumpul bersama keluarga. Gadget juga sebaiknya tidak menjadi “pengasuh utama” anak.
Orang tua dapat mulai dengan menetapkan aturan sederhana, seperti tidak menggunakan gadget saat makan, sebelum tidur, atau ketika sedang berkumpul bersama keluarga. Gadget juga sebaiknya tidak menjadi “pengasuh utama” anak.
Sebaliknya, waktu anak perlu diisi dengan aktivitas yang lebih aktif dan kaya interaksi: bermain di luar rumah, membaca buku, menggambar, berolahraga, atau sekadar bercakap-cakap dengan anggota keluarga. Aktivitas-aktivitas sederhana ini justru terbukti lebih efektif dalam merangsang perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak.
Psikolog anak juga menyarankan agar orang tua terlibat langsung saat anak menggunakan gadget. Dengan begitu, orang tua dapat memastikan konten yang ditonton sesuai usia, sekaligus menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan berdiskusi dan belajar bersama.
Pada akhirnya, gadget hanyalah alat. Masa kecil anak yang sehat dan bahagia tetap dibangun dari pengalaman nyata: berlari di halaman, tertawa bersama teman, dan merasakan kehangatan keluarga.
Karena itu, mengatur screen time bukan sekadar soal membatasi layar—melainkan menjaga ruang bagi anak untuk tumbuh secara utuh. Makin tahu Indonesia. (*)




