Notification

×

Iklan

Iklan

Minyak Dunia Memanas: Ketika Konflik Timur Tengah Mengguncang Pasar Energi

06 Maret 2026 | 15:00 WIB Last Updated 2026-03-06T08:00:37Z


Pasbana - Pasar energi global kembali berdenyut lebih cepat. Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis, 5 Maret 2026, memperpanjang reli yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Penyebabnya bukan sekadar dinamika pasar biasa, melainkan eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang mulai mengusik jantung pasokan energi dunia.

Minyak mentah jenis Brent ditutup naik 4,93 persen ke level US$85,41 per barel. Kenaikan ini menandai reli selama lima hari berturut-turut, sebuah sinyal bahwa pasar sedang diliputi kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan.

Lebih dramatis lagi terjadi pada minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI). Harganya melonjak 8,51 persen menjadi US$81,01 per barel, mencatat kenaikan harian terbesar dalam hampir enam tahun terakhir. Level tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak Juli 2024.

Lonjakan ini tidak muncul tanpa alasan. Konflik yang memanas di Timur Tengah mulai mengganggu rantai pasokan energi global. Beberapa produsen besar di kawasan tersebut bahkan terpaksa memangkas produksi, sementara jalur distribusi energi menghadapi ketidakpastian.

Dalam geopolitik energi, satu nama selalu menjadi pusat perhatian: Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini adalah “keran” utama yang mengalirkan sekitar seperlima minyak dunia. Jika ada gangguan di sana, pasar global biasanya langsung bereaksi.

Namun hingga kini, menurut analis energi dari Again Capital, John Kilduff, belum ada pergerakan signifikan di jalur tersebut.
“Selama tidak ada pergerakan di Selat Hormuz, harga kemungkinan akan terus merangkak naik. Masalahnya, beberapa negara sudah harus menutup produksi, dan pemulihan tidak bisa terjadi secara instan.

Produksi tidak bisa langsung kembali penuh,” kata Kilduff seperti dikutip Reuters.
Artinya, pasar mungkin harus bersiap menghadapi periode harga minyak yang lebih tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Bagi banyak negara, terutama yang bergantung pada impor energi, situasi ini menjadi pengingat penting: geopolitik dan harga energi selalu berjalan beriringan. Ketika konflik memanas, pompa bensin di seluruh dunia ikut merasakannya.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update