Notification

×

Iklan

Iklan

Double Down Saham: Persentase Loss Mengecil, Tapi Risiko Justru Membesar? Ini Cara Memahaminya

21 April 2026 | 09:00 WIB Last Updated 2026-04-21T02:00:09Z



Pasbana - Di pasar saham, banyak investor pemula merasa lebih “tenang” setelah melakukan double down atau averaging down. Persentase kerugian terlihat mengecil. Portofolio tampak membaik.

Tapi pertanyaan pentingnya: apakah kerugian benar-benar berkurang?
Artikel ini membantu Anda memahami logika di balik strategi ini — tanpa rumus yang membingungkan.

Ketika Loss Kecil di Persen, Tapi Besar di Uang


Bayangkan Anda membeli saham Rp100 juta di harga Rp1.000.
Harga turun 15% → posisi Anda rugi Rp15 juta.
Lalu Anda melakukan double down (menambah Rp200 juta). Targetnya agar floating loss tinggal -10%.

Secara matematika, agar average cost turun menjadi Rp900, pembelian kedua harus di sekitar Rp850.

Hasilnya?
Sebelum double down:
Loss = -Rp15 juta
Setelah double down:
Loss = -Rp30 juta

Persentase membaik, tapi nominal kerugian justru membesar.
Ibarat menambah air ke kopi pahit: rasanya memang lebih ringan, tapi jumlah kopi pahitnya bertambah.

Kunci Utama: Bukan Average Cost, Tapi Rebound


Strategi averaging down hanya masuk akal jika saham punya peluang rebound kuat.
Contoh nyata terjadi pada saham nikel PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).
  • Rekomendasi beli sekitar Rp945
  • Tambah posisi di Rp870
  • Harga sempat turun Rp600–700
  • Namun valuasi wajar dihitung Rp1.300–1.500
  • Target tercapai kembali pada Q4 2025 dan Q1 2026 + dividen ±3%

Artinya, averaging down berhasil karena fundamental mendukung, bukan sekadar berharap harga balik.

Kapan Harus Cut Loss?


Investor profesional biasanya cut loss jika:
✔ Analisa awal salah
✔ Kondisi makro berubah
✔ Kinerja perusahaan memburuk
✔ Ada peluang saham lain lebih kuat (switching)

Fokusnya bukan ego, tapi manajemen risiko.

Tips Praktis untuk Investor Pemula


  • Jangan averaging down saham spekulatif
  • Hitung nilai wajar sebelum membeli
  • Pahami bahwa modal tambahan = risiko tambahan
  • Prioritaskan saham investable, bukan sekadar murah

Di pasar saham, tujuan kita bukan sekadar mengecilkan loss, tapi membesarkan peluang menang.
,(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update