Pasbana - Tingginya minat investor asing terhadap surat utang Danantara memang bisa dibaca sebagai sinyal kepercayaan pasar global terhadap Indonesia. Namun, di balik euforia tersebut, terdapat sejumlah risiko yang patut dicermati agar tidak berubah menjadi beban jangka panjang bagi perekonomian nasional.
Ibarat sebuah keluarga yang mudah mendapatkan pinjaman bank karena dianggap mampu membayar, kondisi itu memang menggembirakan. Tetapi jika terlalu sering berutang untuk membiayai kebutuhan, ketergantungan finansial bisa menjadi masalah di kemudian hari.
Pertama, tingginya penyerapan surat utang menunjukkan bahwa pembiayaan pembangunan masih sangat bergantung pada utang. Kondisi ini berpotensi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh pinjaman (debt-driven growth), bukan oleh peningkatan produktivitas, investasi domestik, atau penerimaan negara yang berkelanjutan.
Kedua, untuk menarik investor global, penerbit surat utang biasanya harus menawarkan imbal hasil yang kompetitif. Konsekuensinya, sebagian pendapatan yang dihasilkan di masa depan berpotensi tersedot untuk membayar bunga dan pokok utang, sehingga ruang fiskal untuk program kesejahteraan masyarakat menjadi lebih terbatas.
Ketiga, terdapat risiko nilai tukar. Karena sebagian besar surat utang global diterbitkan dalam dolar AS, pelemahan rupiah akan membuat kewajiban pembayaran meningkat. Dengan kata lain, utang yang sama bisa menjadi jauh lebih mahal hanya karena perubahan kurs.
Keempat, ketergantungan pada investor asing membuat stabilitas pembiayaan rentan terhadap gejolak global. Perubahan suku bunga Bank Sentral AS, konflik geopolitik, atau krisis keuangan internasional dapat memicu arus keluar modal secara cepat dan menekan pasar keuangan domestik.
Kelima, yang paling sensitif adalah risiko terhadap aset strategis negara. Sebagai pengelola berbagai BUMN besar, Danantara membawa reputasi dan kepentingan ekonomi nasional. Jika ekspansi berbasis utang tidak dikelola secara hati-hati, risiko gagal bayar dapat memengaruhi kredibilitas Indonesia dan menimbulkan tekanan terhadap pengelolaan aset-aset strategis tersebut.
Pada akhirnya, larisnya surat utang Danantara bukan hanya cerita tentang tingginya kepercayaan investor. Ini juga menjadi pengingat bahwa utang adalah alat, bukan tujuan.
Keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan mengelola risiko, menjaga kesehatan keuangan, dan memastikan manfaatnya benar-benar kembali kepada perekonomian nasional. (*)




