Notification

×

Iklan

Iklan

Prosesi Maarak Jari-Jari l, Tradisi yang Memperkuat Identitas Budaya Pariaman

23 Juni 2026 | 09:59 WIB Last Updated 2026-06-23T02:59:27Z


Kota Pariaman, pasbana - Dentuman gandang tasa memecah malam Kota Pariaman, Senin (22/6/2026). Di bawah cahaya lampu dan keramaian warga yang memadati jalan-jalan kampung, dua rombongan besar—Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang—bergerak perlahan membawa panja, replika jari-jari yang menjadi bagian penting dari rangkaian Pesona Budaya Tabuik Piaman 2026.

Bagi sebagian wisatawan, prosesi Maarak Jari-Jari mungkin tampak seperti arak-arakan budaya yang meriah. Namun, bagi masyarakat Pariaman, tradisi ini menyimpan kisah duka yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Maarak Jari-Jari atau Maarak Panja digelar setiap malam 7 Muharam. Prosesi ini melambangkan pengumpulan potongan jasad Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, yang gugur dalam tragedi Padang Karbala pada tahun 680 M. Simbol tersebut menjadi pengingat atas pengorbanan, keteguhan, dan nilai kemanusiaan yang diwariskan dalam sejarah Islam.

Malam itu, iringan gandang tasa yang menggelegar mengantar kedua kelompok mengelilingi kawasan pesta Tabuik. Anak-anak tabuik menampilkan tarian khas, sementara ribuan masyarakat dan pengunjung memadati sepanjang rute arak-arakan. Puncak suasana terjadi ketika kedua rombongan bertemu di Simpang Tugu Tabuik, menghadirkan ketegangan simbolis yang dikenal sebagai basalisiah, salah satu atraksi yang paling dinantikan wisatawan.

Sekretaris Daerah Kota Pariaman, Afrizal Azhar, mengatakan prosesi Maarak Jari-Jari merupakan bagian dari upaya memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung visi Kota Pariaman sebagai destinasi sport tourism dan pariwisata berbasis budaya.

Menurutnya, sektor pariwisata menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi masa depan daerah. Pesona Budaya Tabuik Piaman 2026 yang masuk dalam Kalender Event Nasional diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Puncak perayaan Tabuik dijadwalkan berlangsung pada 28 Juni 2026 dan akan dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha, bersama sejumlah pejabat pusat dan daerah.

Afrizal pun mengajak seluruh masyarakat menjadi tuan rumah yang ramah agar tradisi tahunan kebanggaan urang Piaman ini semakin dikenal luas.

Di tengah derasnya arus modernisasi, dentuman gandang tasa dan arak panja seolah mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan sejarah, identitas, dan harapan ekonomi masyarakat hari ini.

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kemeriahan Tabuik Piaman, akhir Juni menjadi waktu terbaik untuk menikmati salah satu tradisi paling unik dan bersejarah di Ranah Minang. Makin tahu Indonesia.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update