Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Sentuh Titik Terendah Sepanjang Sejarah — Apa yang Sebenarnya Terjadi?

01 Juni 2026 | 08:20 WIB Last Updated 2026-06-01T01:20:42Z


Di balik angka 17.887, ada perpaduan tekanan global dan kebutuhan musiman yang memaksa BI turun tangan langsung ke pasar.
Level Intraday ATL
Rp 17.887
per 1 USD · 29 Mei 2025
Tekanan Utama
Geopolitik + Dividen
permintaan valas musiman tinggi

Pasbana - Angka itu bukan sekadar deretan digit di layar terminal Bloomberg. Ketika rupiah menyentuh 17.887 per dolar AS pada perdagangan intraday Jumat (29/5), Indonesia resmi mencatatkan rekor pelemahan mata uang sepanjang sejarah — sebuah penanda yang tak bisa diabaikan begitu saja oleh pelaku pasar maupun masyarakat umum.
"Tekanan datang bukan dari satu arah. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah berpadu dengan lonjakan permintaan valas musiman — sebuah kombinasi yang mempersulit ruang manuver kebijakan."
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa dua faktor utama menjadi pemicu: ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang membayangi selera risiko investor global, serta kebutuhan dolar yang meningkat tajam setiap akhir bulan — terutama untuk pembayaran dividen dan cicilan pinjaman luar negeri korporasi. Inilah yang di dunia keuangan disebut seasonal FX demand pressure, tekanan permintaan valuta asing yang bersifat berulang dan dapat diprediksi, namun tetap memukul pasar ketika bertepatan dengan sentimen global yang negatif.

Bank Indonesia tidak tinggal diam. Otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi terukur di pasar valuta asing guna menstabilkan kurs, sekaligus berkoordinasi dengan regulator terkait untuk memantau bank dan korporasi dengan pembelian dolar dalam volume besar. Langkah ini mencerminkan pendekatan BI yang bersifat aktif namun terukur — bukan sekadar membakar cadangan devisa, melainkan mengelola ekspektasi pasar agar tidak liar.
Yang perlu dipahami adalah: pelemahan rupiah bukan semata cerita tentang kegagalan ekonomi domestik. Ini adalah cerminan dari betapa terkoneksinya Indonesia dengan dinamika keuangan global — di mana ketegangan di Selat Hormuz pun bisa menekan nilai tukar di Jakarta. Pertanyaan sesungguhnya bukan seberapa jauh rupiah bisa jatuh, melainkan seberapa tangguh fondasi ekonomi kita untuk menopangnya dari dalam. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update