Padang Panjang, pasbana– Fakulti Teater Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) Malaysia bersama Kelab Kejar Tayang sukses memukau penonton dalam ajang ISU ISI yang diselenggarakan oleh mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Melalui pertunjukan teater bertajuk "Are You Still Watching", kelompok teater asal Malaysia tersebut menghadirkan sajian yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan kehidupan manusia di tengah derasnya arus dunia digital.
Karya ini berkisah tentang Mira, seorang perempuan yang pada pukul 02.47 dini hari masih asyik menggulir layar telepon genggamnya. Sambil terus berkata bahwa setelah melihat satu konten lagi ia akan tidur, Mira justru semakin tenggelam dalam dunia maya.
Situasi berubah ketika sebuah “Buku Cookies” raksasa terbuka dan melahirkan berbagai entitas digital yang tak diundang. Mulai dari notifikasi, tanda suka (likes), gosip, iklan judi, hingga sosok arwah ayahnya yang hanya menuliskan kalimat misterius, “AKU TAHU.”
Mereka hadir, mengganggu, mengancam, dan menolak pergi. Setiap teriakan Mira untuk menghentikan semuanya hanya berakhir seperti tombol snooze yang sia-sia. Hingga akhirnya, Nenek Kebayan muncul dan memimpin seluruh entitas tersebut menyanyikan lagu “Rasa Sayang”, menjadikannya sebagai ratapan kosong masyarakat digital yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Ketika Buku Cookies habis dimakan dan kulitnya dijadikan topi, layar ponsel Mira kembali menampilkan pertanyaan yang sama, “Are You Still Watching?” Sebuah pertanyaan sederhana yang ternyata menjadi simbol kuat dari siklus tanpa akhir yang dialami pengguna media digital. Dan seperti sebelumnya, jempol Mira kembali bergerak.
Sutradara pertunjukan, Aloeng Silalahi, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya karena mendapat kesempatan tampil dalam forum akademik tersebut.
"Kami sangat teruja dan bersyukur karena diundang untuk tampil di ISU ISI. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga kesempatan untuk menguji karya kami di hadapan audiens yang memiliki latar belakang akademik seni. Kami ingin membangun hubungan timbal balik melalui pertukaran gagasan dan kritik yang konstruktif. Harapannya, masukan yang kami peroleh dapat memperkaya proses kreatif serta pengembangan karya kami di masa mendatang," ujarnya.
Aloeng menambahkan bahwa pemilihan karya ini juga selaras dengan tema ISU ISI, yakni “Dari Ruang Akademik Menuju Publik.”
Menurutnya, "Are You Still Watching" mengusung genre teater absurd dengan sentuhan comedy of menace yang mengangkat persoalan dunia digital dan media sosial.
"Kami mencoba menggambarkan bagaimana media sosial dapat menjadi siklus yang menghancurkan, tetapi di sisi lain juga membuka berbagai peluang. Di era sekarang, dunia digital mampu memperluas akses pasar bagi para seniman. Karya-karya yang sebelumnya terbatas secara fisik kini dapat menembus berbagai ruang dan menjangkau audiens yang lebih luas melalui platform digital," jelasnya.
Sementara itu, salah seorang aktor, Azhar Jalil, menekankan pentingnya menjaga hubungan dan kolaborasi teater di kawasan Asia Tenggara.
"Untuk menjaga silaturahmi antara pelaku teater di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan negara-negara serumpun lainnya, kita harus kembali kepada akar budaya yang sama. Kolaborasi para penggiat teater selama ini sudah sangat kuat, namun akar tersebut perlu terus dipelihara agar semakin subur dan kokoh. Dengan begitu, kita dapat bersama-sama memperkenalkan seni dan budaya serumpun kepada dunia," ungkapnya.
Hal senada disampaikan aktor Sunio Asari, yang mengaku sangat menikmati proses produksi bersama tim yang solid dan penuh semangat.
"Bekerja bersama teman-teman yang kompak dan memiliki kesungguhan dalam berkarya membuat proses latihan menjadi sangat menyenangkan. Meskipun waktu persiapan relatif singkat, semangat, kepercayaan diri, keberanian, kekompakan, dan rasa tanggung jawab menjadi kunci lahirnya pertunjukan yang kuat," tuturnya.
Sunio menambahkan bahwa melalui partisipasi dalam ISU ISI Padang Panjang, Fakulti Teater ASWARA dan Kelab Kejar Tayang berharap para seniman, baik dari dalam maupun luar kampus, terus melahirkan karya-karya yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
"Mari bersama-sama mendukung pertunjukan seni, baik di Indonesia maupun Malaysia, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni dan budaya di kawasan Asia Tenggara," pungkasnya.
(Wiko)






