![]() |
| Judul : Subhanallah Tahun : 2026 Media : Aklilik Ukuran : 80 x 100 Cm Perupa : Harissman |
Oleh: Dr. Sulaiman Juned, M.Sn.(*
Pasbana - Harissman, perupa yang memilih genre seni rupa murni kaligrafi, merupakan salah seorang dosen ISI Padangpanjang kelahiran Kerinci, 1 Januari 1963.
Ia turut serta dalam Pameran Seni Rupa Jambi 2026 bersama 90 perupa yang memamerkan karya dengan tema “Pusparagam Negeriku dari Indonesia untuk Jambi”, yang berlangsung pada 31 Juli hingga 6 Agustus 2026 di Taman Budaya Jambi.
Pameran tersebut juga menghadirkan karya seni instalasi dan mural sebagai bagian dari ekspresi seni kontemporer yang berakar pada kearifan lokal.
![]() |
| Harissman |
Dalam pameran tersebut, Harissman memamerkan karya berjudul “Subhanallah” yang memiliki konsep dan aturan yang jelas. Dalam seni kaligrafi, pemahaman terhadap ilmu ukuran titik dan garis pena menjadi bagian penting. Sementara itu, nilai estetika menitikberatkan pada kehalusan sapuan kuas, keharmonisan komposisi, serta keseimbangan antara ruang kosong dan ruang yang terisi.
Karya tersebut tentu memiliki dimensi spiritual dalam makna Islam yang sangat kuat. Keindahannya tidak hanya dapat dinikmati oleh mata, tetapi juga mengandung nilai sakral dengan pesan keagamaan yang mendalam.
Karya Harissman berjudul “Subhanallah” berukuran 80 x 100 cm, menggunakan media akrilik, dan dibuat pada 2026. Karya ini mengandung nilai-nilai yang bersumber dari substansi ilahi dalam kitab suci Al-Qur’an, khususnya mengenai keniscayaan bagi setiap insan di muka bumi untuk mampu mengejawantahkannya dalam sikap dan perilaku.
Berangkat dari judul kaligrafinya, “Subhanallah” berarti Mahasuci Allah dan dapat dimaknai sebagai ungkapan untuk menyucikan serta mengagungkan Allah. Kalimat tersebut juga dapat dijadikan sebagai dzikir yang mengandung makna pensucian.
Harissman melahirkan karya ini berangkat dari kalimat Subhanallah yang termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 116. Ayat tersebut berbunyi, “Wa qāluttakhadzallāhu waladan subḥānah, bal lahū mā fis-samāwāti wal-arḍ, kullul lahū qānitūn,” yang artinya: “Mereka (orang-orang kafir) berkata: ‘Allah mempunyai anak.’ Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semuanya tunduk kepada-Nya.”
Selain itu, melalui hadis, Rasulullah SAW juga kerap mengucapkan Subhanallah. Salah satunya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah RA, diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad SAW berpapasan dengannya ketika Abu Hurairah masih dalam keadaan junub di sebuah jalan di Madinah. Abu Hurairah kemudian pergi diam-diam meninggalkan Rasulullah SAW untuk mandi dan bersuci.
Rasulullah SAW kemudian mencari tahu ke mana sahabatnya tersebut pergi. Setelah Abu Hurairah datang, Rasulullah SAW bertanya, “Kamu tadi ke mana, Abu Hurairah?”
Abu Hurairah menjawab, “Saat tadi kita bertemu, aku masih dalam kondisi junub, ya Rasulullah. Aku enggan duduk bersamamu sebelum mandi.”
Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Subhanallah, orang beriman itu tidak najis.”
Dalam perkembangan seni Islam, penggambaran figuratif memang memiliki batasan dan perdebatan tersendiri, terutama dalam konteks seni keagamaan. Karena itu, kaligrafi dan bentuk-bentuk abstrak berkembang menjadi salah satu bentuk utama ekspresi seni dalam berbagai kebudayaan Islam, khususnya dalam konteks keagamaan.
Dalam karya kaligrafinya ini, Harissman menggunakan jenis khat Naskhi yang merupakan salah satu jenis khat yang populer. Ragam tulisan ini menjadi salah satu gaya utama yang relatif mudah dipahami dan diterapkan dalam seni lukis, khususnya kaligrafi. Teks atau manuskrip dengan gaya khat Naskhi relatif mudah dibaca dan disalin, bahkan oleh orang awam sekalipun.
Keterkaitan karya tersebut dengan gaya kaligrafi Naskhi terlihat dari bentuk tulisannya yang bersifat geometris dan kursif, tanpa menggunakan terlalu banyak variasi kompleks. Kesederhanaan tersebut justru memberikan ruang bagi pesan dan nilai spiritual dalam karya untuk tampil lebih kuat.
Selamat kepada perupa Harissman yang telah memberikan pemahaman melalui karya “Subhanallah” sebagai bentuk pensucian melalui dzikir yang memiliki makna mendalam. Semoga karya-karya selanjutnya senantiasa memberikan nilai spiritual Islami dan memperkaya khazanah seni rupa kaligrafi.
Bravo, Bang Hariss!
*) Penulis adalah sastrawan, teaterawan, esais, dan kolumnis. Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), Pendiri UKM Teater Nol Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (1990), Ketua dan Sekretaris Panitia Pendirian Kampus ISBI Aceh (2012/2015), Pendiri UKM-PersMa Pituluik ISI Padangpanjang (1997), Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat, serta Kepala Humas ISI Padangpanjang (2010–2018).








