Notification

×

Iklan

Iklan

Rp2.548 Triliun Kredit Menganggur: Uang Ada, Tapi Dunia Usaha Belum Sepenuhnya Bergerak

Jumat, 25 September 2026 | 18:20 WIB


Pasbana - Ada paradoks di industri perbankan Indonesia: ruang pembiayaan tersedia dalam jumlah sangat besar, tetapi sebagian belum benar-benar digunakan. Bank Indonesia mencatat fasilitas kredit yang belum dicairkan nasabah atau undisbursed loan mencapai sekitar Rp2.548 triliun pada Juli 2026. 

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan kondisi tersebut tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Ada persoalan pada permintaan maupun penawaran kredit. Dari sisi permintaan, hingga kuartal II 2026 pertumbuhan kredit masih banyak berkaitan dengan aktivitas pemerintah, sementara permintaan dari sektor swasta belum sekuat yang diharapkan.

Namun, sinyal perubahan mulai terlihat. Destry menyebut sektor swasta mulai bergerak sehingga terdapat indikasi meningkatnya minat dunia usaha untuk menggunakan pembiayaan perbankan. 

Di sisi lain, persoalan juga berada pada perbankan. Sebelumnya, sebagian bank memilih menempatkan kelebihan likuiditas pada instrumen surat berharga seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dibandingkan menyalurkannya dalam bentuk kredit. Artinya, ketersediaan uang di sistem keuangan belum otomatis berubah menjadi pembiayaan bagi sektor riil. 

Padahal, pertumbuhan kredit sebenarnya menunjukkan akselerasi. BI mencatat kredit perbankan tumbuh 12,67% secara tahunan pada Juni 2026, dengan kredit investasi melonjak 24,90%. Pada periode yang sama, undisbursed loan masih Rp2.490 triliun atau 21,52% dari plafon kredit yang tersedia. 

Fenomena ini penting karena kredit pada dasarnya merupakan jembatan antara likuiditas perbankan dan aktivitas ekonomi—mulai dari ekspansi pabrik, modal kerja, investasi hingga penciptaan lapangan kerja.

Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat bank lebih banyak menyalurkan kredit. Permintaan dunia usaha harus cukup kuat dan sehat untuk menyerap pembiayaan tersebut. Jika keduanya bertemu, dana yang selama ini masih menjadi potensi dapat berubah menjadi investasi, produksi, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih nyata.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update