Pasbana - Selamat jalan, adikku Jarwansyah, penyair yang mengurus bencana negeri dengan sepenuh hati.
Pagi Minggu, 20 September 2026, kabar duka itu datang begitu mengejutkan. Adikku, Jarwansyah, telah berpulang ke rahmatullah di RS Brawijaya Saharjo, Jakarta Selatan. Tak ada kabar apa pun sebelumnya. Tiba-tiba saja, pagi itu, saya menerima berita bahwa adikku tercinta telah pergi untuk selamanya.
Pagi Minggu, 20 September 2026, kabar duka itu datang begitu mengejutkan. Adikku, Jarwansyah, telah berpulang ke rahmatullah di RS Brawijaya Saharjo, Jakarta Selatan. Tak ada kabar apa pun sebelumnya. Tiba-tiba saja, pagi itu, saya menerima berita bahwa adikku tercinta telah pergi untuk selamanya.
Jarwansyah pernah bersama saya menempuh pendidikan di FKIP Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Ia juga pernah menjadi Ketua Sanggar Ceka (Cempala Karya Banda Aceh), sanggar yang pernah saya dirikan. Pada 1990, kami berdua kemudian mendirikan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Teater Nol Universitas Syiah Kuala, Darussalam.
Jarwansyah adalah adik yang sudah lama bersama saya. Kami pernah tinggal bersama, hidup bersama, berkesenian bersama, bahkan sama-sama menjadi wartawan di koran kampus bernama Warta Unsyiah. Kami juga pernah menjadi staf di Humas Universitas Syiah Kuala.
Karena itu, kepergiannya bagi saya bukan sekadar kehilangan seorang sahabat atau saudara seperjuangan. Rasanya seperti ada bagian dari diri saya yang ikut pergi.
Meski kemudian kami berdomisili berjauhan—Jarwansyah di Jakarta dan saya di Padang Panjang, Sumatera Barat—hubungan kami tidak pernah benar-benar terputus. Kami acap berkomunikasi, saling menelepon dan menanyakan kabar melalui WhatsApp. Jika saya berada di Jakarta, saya selalu menyempatkan diri singgah ke tempatnya. Begitu pula ketika ia mendapat tugas ke Sumatera Barat, Jarwansyah pasti menyempatkan diri singgah ke gubuk kami.
Ada satu kenangan yang terus melekat dalam ingatan saya. Sebelum saya hijrah ke Padang Panjang, Sumatera Barat, saya pernah mementaskan karya bersama Sanggar Ceka Banda Aceh di Taman Budaya Aceh pada 1995. Saat itu, saya bertindak sebagai sutradara untuk naskah “Si Pihir dan Berudihe”, karya NN yang dialihbahasakan oleh Jarwansyah dari cerita legenda masyarakat Alas, Aceh.
Beberapa waktu terakhir, kami bahkan sering berdialog tentang naskah tersebut. Saya ingin menggarapnya kembali menjadi sebuah pertunjukan teater. Keinginan itu menjadi salah satu percakapan terakhir yang terus teringat di kepala saya.
Jarwansyah adalah putra Aceh, kelahiran Kutacane, 30 Agustus 1970. Ia seorang pekerja tangguh yang tidak pernah banyak mengeluh. Ia menulis, menjadi wartawan, berkesenian, sekaligus mengabdikan dirinya untuk pekerjaan kemanusiaan.
Ia kemudian mengemban amanah sebagai Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam tugasnya, ia mengurus kehidupan banyak orang yang terdampak bencana—bukan hanya ketika bencana terjadi, tetapi juga dalam proses panjang setelah bencana berlalu.
Kepada adik iparku, istri almarhum, serta anak-anak dan seluruh keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT memberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan menghadapi kehilangan ini.
Allahummaghfirlahu warhamhu, wa 'afihi wa'fu 'anhu.
Selamat jalan, adikku Jarwansyah. Semoga engkau berada di tempat terbaik di sisi Allah SWT. Pengabdianmu kepada negeri seakan tak pernah mengenal henti. Engkau mengurus kehidupan orang lain ketika bencana datang, bahkan terus bekerja ketika bencana telah berlalu.
Kini tugasmu telah usai, adikku.
Kembalilah ke peristirahatan terakhir dengan tenang untuk menemui Sang Khalik. Namamu akan selalu terukir di hati kami. Dan kami yang masih tinggal di dunia ini pun suatu saat akan menyusul, menunggu giliran untuk kembali kepada-Nya.
Amin, ya Rabbal 'alamin.
Al-Fatihah. Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan salahmu, menerima seluruh pengabdianmu selama hidup, serta menjadikannya amal kebaikan sebagai bekal dalam perjalanan pulangmu.
Selamat jalan, adikku.
Jarwansyah, penyair yang mengurus bencana negeri dengan cinta.
*) Penulis adalah sastrawan, teaterawan, kolumnis, esais, dan dramawan. Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), pendiri UKM Teater Nol Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, pendiri UKM Pers Pituluik ISI Padangpanjang, Sekretaris/Ketua Panitia Pendirian ISBI Aceh (2012/2015), Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat, serta dosen Jurusan Seni Teater dan Pascasarjana ISI Padangpanjang.









