Oleh: Chelsea Hoverlyenza
(Universitas Andalas)
Pasbana - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap kali mendewakan pencapaian materi, kita sering diindoktrinasi oleh sebuah gagasan kuno: semakin kaya seseorang, semakin bahagialah hidupnya. Dalam sejarah budaya Amerika Serikat, gagasan ini berakar kuat pada konsep American Dream—sebuah narasi bahwa kerja keras dan keberhasilan ekonomi adalah tolok ukur utama kesuksesan hidup.
Namun, apakah kekayaan finansial benar-benar menjamin kesejahteraan lahir dan batin?
Pertanyaan inilah yang dikritik secara tajam oleh penyair Amerika, Edwin Arlington Robinson, lewat puisinya yang sangat terkenal, “Richard Cory” (1897). Ditulis pada era Gilded Age—masa di mana pertumbuhan ekonomi AS melonjak drastis tetapi memicu kesenjangan sosial yang ekstrem—puisi ini menyuguhkan cermin yang jujur mengenai ilusi di balik kesuksesan materi.
Sosok Sempurna di Mata Kelas Pekerja
Melalui sudut pandang masyarakat kelas bawah (“we people on the pavement”), sosok Richard Cory digambarkan sebagai personifikasi kesempurnaan. Ia adalah seorang pria kaya raya dari kalangan sosial tinggi, berpenampilan rapi, elegan, dan selalu bersikap ramah ketika menyapa warga kota. Bagi masyarakat setempat yang harus membanting tulang demi sesuap nasi, Richard Cory adalah simbol impian yang ingin mereka capai.
Namun, cara pandang ini justru memperlihatkan masalah mendasar dalam budaya kapitalisme: bagaimana nilai dan kualitas kemanusiaan seseorang kerap terdistorsi oleh status ekonominya. Warga kota tidak benar-benar melihat Cory sebagai manusia biasa yang memiliki celah atau beban hidup, melainkan hanya sebagai ”simbol kekayaan” yang dipuja dari kejauhan.
Kesenjangan Sosial dan Suara Realita Masa Kini
Isolasi sosial yang dialami Richard Cory membuktikan bahwa status ekonomi yang tinggi sering kali menciptakan tembok pemisah (social barrier). Fenomena ilusi kekayaan dan kesenjangan empati ini nyatanya tidak terhenti di era Gilded Age abad ke-19 saja, melainkan masih relevan dengan realitas sosial kita saat ini.
Perspektif mengenai relasi antara aspek finansial, status sosial, dan kebahagiaan ini juga terkonfirmasi melalui wawancara dengan mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). “Uang dapat dikatakan sebagai salah satu kunci untuk membuka pintu kebahagiaan itu sendiri. Dengan ketersediaan finansial yang lebih besar, peluang untuk mengakses hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan juga menjadi lebih luas,” ujar Muslim Khalid Najibullah (25), mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Andalas.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa substansi dari sebuah keberhasilan tidak sepatutnya diukur dari simbol kemewahan fisik belaka. “Definisi sukses bukanlah pencapaian materialistis seperti kepemilikan mobil mewah, melainkan sesederhana kemampuan individu dalam mencapai target personal yang telah ditetapkan,” tambahnya.
Sementara itu, menanggapi premis apakah status sosial yang tinggi secara linear meningkatkan kerentanan seseorang terhadap rasa kesepian—sebagaimana yang dialami oleh tokoh Richard Cory—narasumber kedua memberikan pandangan analitis dari sudut pandang psikologi sosial.
Menurutnya, kondisi keterasingan tidak dapat digeneralisasi hanya berdasarkan tingkatan ekonomi individu semata.
“Kondisi tersebut tidak selalu terjadi, sebab hal itu sangat bergantung pada dinamika lingkungan sosial yang bersangkutan.
“Kondisi tersebut tidak selalu terjadi, sebab hal itu sangat bergantung pada dinamika lingkungan sosial yang bersangkutan.
Kesepian merupakan bagian dari kondisi mental individu; boleh jadi sosok tersebut hanya membutuhkan alokasi waktu yang lebih memadai untuk berinteraksi dengan lingkaran terdekatnya,” tutur Zikry Maulana (25), mahasiswa Program Studi Ekonomi Universitas Andalas.
Sintesis dari pandangan para akademisi muda ini mengindikasikan adanya redefinisi terhadap konsep American Dream di era modern: keberhasilan ekonomi diakui sebagai sarana rasional, namun kesehatan mental dan dukungan lingkungan sosial tetap menjadi determinan utama dalam mencapai kualitas hidup yang substansial.
Tragedi di Balik Tabir Kekayaan
Puncak dari kritik sosial Robinson terletak pada bait terakhir puisi tersebut. Ketika warga kota terus bekerja sambil mengutuk nasib dan berharap bisa menjadi seperti Richard Cory, cerita justru diakhiri dengan sebuah plot twist yang memilukan: “And Richard Cory, one calm summer night, went home and put a bullet through his head.”
Keputusan tragis Cory untuk mengakhiri hidupnya menghantam keras pemahaman konvensional mengenai American Dream. Robinson ingin menyampaikan pesan bahwa di balik kilau materi, ada krisis kemanusiaan yang lebih dalam seperti kesepian, isolasi, dan tekanan mental yang tak terlihat oleh orang lain.
Tragedi Richard Cory menjadi pengingat yang berharga bagi kita semua: bahwa kekayaan ekonomi tanpa koneksi sosial yang jujur dan kesejahteraan mental hanyalah ilusi kebahagiaan yang semu. (*)




