Notification

×

Iklan

Iklan

Tradisi Lisan dan Ekologi Berpadu dalam Pertunjukan ISBI Aceh

Kamis, 22 Oktober 2026 | 06:55 WIB


Padangpanjang, pasbana– Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh menampilkan karya bertajuk Seumaloe: Akal dan Tubuh dalam Pergelaran Pertunjukan Karya Unggulan Festival Kesenian Indonesia (FKI) ke-13 di Prosenium Hoerijah Adam, Rabu malam (21/10/2026).

Karya kolosal yang didominasi musik tersebut memadukan tradisi lisan, ragam musik dan gerak khas Aceh dengan gagasan tentang folklore dan ekologi. Pertunjukan ini mengangkat hubungan antara manusia, alam, serta nilai-nilai tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.



Dosen ISBI Aceh sekaligus Koordinator Musisi, Muhammad Hamzah, menjelaskan bahwa Seumaloe merupakan istilah dalam masyarakat Aceh yang berkaitan dengan pamali, larangan, keharusan, sekaligus marwah.

“Seumaloe kami pilih karena dapat merepresentasikan akal dan tubuh dalam menjaga ekosistem di bumi ini,” ujarnya.

Hamzah mengatakan, penggarapan karya tersebut berlangsung selama tiga bulan, mulai dari perumusan konsep, latihan, hingga pemilihan instrumen yang mampu merepresentasikan gagasan tentang folklore dan ekologi. Proses kreatif itu, menurutnya, menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus mendorong para seniman untuk terus berkarya.



Sementara itu, komposer sekaligus dosen ISBI Aceh, Rizki Mona Dwi Putra, menjelaskan bahwa proses kreatif musik dalam Seumaloe dilakukan melalui penafsiran ulang terhadap berbagai unsur musikal khas Aceh.

Unsur tersebut meliputi pola Guel dan ritme Gayo, pola ritme Rapai Pasee, serta vokal dari wilayah pesisir timur dan Gayo. Berbagai unsur itu kemudian dikembangkan melalui permainan melodi yang ditransformasikan dari pola ritme tradisi Aceh.

Rizki menambahkan, karya ini tersusun atas beberapa bagian dengan alur pertunjukan yang beragam. Ada bagian yang sepenuhnya musikal, musik pengiring tari, hingga musik yang mengiringi monolog. Seluruhnya dirangkai menjadi pertunjukan kolosal dengan musik sebagai unsur dominan.




Gagasan karya juga berpijak pada lanskap kehidupan masyarakat Gayo yang dekat dengan hutan, ladang kopi, sungai, dan danau. Sementara itu, tradisi vokal pesisir turut dihadirkan melalui Meucae, yakni syair pembuka yang digunakan untuk menyampaikan pesan.

Menurut Rizki, salah satu tantangan dalam penggarapan karya terletak pada transisi antarbagiannya. Peralihan dari bagian A ke B, kemudian ke C, dirancang sedemikian rupa agar terasa mengalir tanpa batas yang tegas. Dengan demikian, seluruh unsur dapat menyatu dalam sebuah pertunjukan yang utuh.



Melalui perpaduan musik, gerak, dan tradisi lisan, Seumaloe: Akal dan Tubuh menyampaikan pesan tentang kebaruan serta kepedulian terhadap lingkungan melalui pendekatan seni, folklore, dan ekologi.

Apresiasi juga disampaikan Maestro ISBI Tanah Papua, Darlane Litaay. Ia menilai warna tradisi dan lokalitas Aceh terasa kuat dalam ragam musik maupun gerak yang ditampilkan.

Menurut Darlane, meskipun musik menjadi unsur dominan, pertunjukan tersebut mampu menghadirkan warna baru yang melampaui bentuk tradisi. Semangat menjaga lingkungan juga tercermin melalui visual pertunjukan dan lantunan tradisi lisan.

“Terasa sekali teman-teman di Aceh juga peduli terhadap ekologi dan folklore,” tuturnya.

(Fajri/Kay/Nabil/Nadhira)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update