Notification

×

Iklan

Iklan

Air Terjun Sarasah Madu Bakal Menjadi Wisata Syariah di Buluh Kasok

26 Oktober 2017 | 22:37 WIB Last Updated 2017-10-26T15:37:14Z

Limapuluh Kota - Wisata Syariah halal nan bernuansa islami sedang menjadi tren dalam dunia pariwisata. Wisata halal ini berusaha menyediakan berbagai fasilitas dan sarana yang sesuai untuk wisatawan muslim di tempat-tempat wisata. Hal ini tentu akan menambah kenyamanan para pelancong muslim saat menikmati berbagai objek wisata.

Hal tersebut bakal dibuktikan Jorong Buluh Kasok Kenagarian Sarilamak kecamatan Harau kabupaten Limapuluh Kota dengan membangun kawasan wisata syariah bernuansa Islami di air terjun Sarasah Madu di jorong tersebut.

Seperti yang terlihat dalam kegiatan gotong royong pemuda-pemudi beserta tokoh masyarakat membersihkan semak belukar yang telah menutupi pemandangan indah air terjun juga dihiasi dengan berbagai rumah-rumah pohon dalam rangka perencanaan kawasan wisata syariah bernuansa islami, Kamis (26/10).



Menurut tokoh masyarakat, Dt Marajo (32) kepada media ini, rencana pembangunan kawasan wisata Syariah merupakan salah satu langkah awal untuk memunculkan sebuah ikon yang bisa mengangkat nama jorong Buluh Kasok dari sektor pariwisata yakni wisata halal nan bernuansa islami.

“Objek wisata syariah sangat penting mendongkrak Pariwisata bernuansa islami. Ini menjadi satu ikon di jorong Buluh Kasok. Dengan adanya kawasan itu, masyarakat umat islam khususnya selain berwisata juga bisa mendalami imannya,” ulas Dt. Marajo.

Dijelaskan Dt. Marajo, timbulnya gagasan Istilah wisata halal dan bernuansa islami dalam penerapannya sama seperti wisata pada umumnya. Bukan berarti harus berkunjung ke lokasi-lokasi religius, namun juga ke tempat wisata lain dengan tetap menjaga adab sebagai muslim. Hal yang membedakan adalah kebutuhan yang harus dipenuhi untuk wisatawan yang mengacu kepada aturan-aturan Islam. Kebutuhan itu meliputi tersedianya makanan dan minuman halal, fasilitas ibadah, kamar mandi dengan air untuk wudhu, pelayanan saat bulan ramadhan, pencantuman label non halal (pada makanan atau minuman yang tidak halal), dan terakhir ialah fasilitas rekreasi yang privat (tidak bercampur baur antara wanita dan pria).


Sementara itu, tokoh masyarakat lainnya, Dt. Bosa Nan Putiah (37) mengungkapkan, membangun kepariwisataan itu tidak mudah karena perlu dukungan semua pihak.

”Pengembangan budaya dan pariwisata tidak bisa hanya dilakukan oleh beberapa pihak, tapi semua kalangan harus turut andil sesuai bidang dan perananan masing-masing," ulasnya.

Sehingga, kalau saja ini semua sudah berjalan, tentu nantinya kepariwisataan yang ada di jorong Buluh Kasok bakal memberikan dampak positif bagi masyarakat kita sendiri.

“Lain halnya dengan pemerintah daerah, hingga kini seharusnya telah berada dalam jalur meningkatkan dan mengembangkan potensi wisata, tinggal berbagai pihak meresponnya dengan baik, apalagi pemkab sendiri sangat terbuka untuk menerima masukan," pungkas Dt, Bosa Nan Putiah.



Ketua pemuda jorong Buluh Kasok Yogi Iswandi (25), mengharapkan, desa kita ini memiliki potensi besar untuk diolah menjadi desa wisata, untuk itu kami berharap hasil keringat gotong royong ini didengar pemerintah daerah dan kami harap pesan kami disini juga tersampaikan melalui media ini bahwa Buluh Kasok juga punya potensi besar dalam pembangunan pariwisata," harapnya. (BD)