Notification

×

Iklan

Iklan

Apar, Desa Wisata Minat Khusus

01 Juni 2021 | 10:58 WIB Last Updated 2021-06-02T01:52:37Z
Foto : hazella_hamiid

Ditulis oleh: Tomi Tanbijo

Pasbana.com -- Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumbar, patut bersyukur punya kawasan alam dan lingkungan pesisir yang menawan.

Pantai indah berbalut rindang pohon cemara, kawasan mangrove, talao dan mangrove jadi modal besar Desa Apar dikembangkan sebagai desa wisata.

Desa wisata dengan daya tarik utama keelokkan dan keragaman ekosistem pesisir yang dikemas dalam tema taman wisata edukasi konservasi. 

Tinggal menggali, mendata potensi kawasan, menyiapkan perencanaan dan mengembangkan potensi lain yang ada di sekitar kawasan.

Kawasan mesti dibuatkan peta zonasi. Harus jelas semuanya. Mana kawasan zona inti yang mesti dilindungi, dan mana kawasan pemanfaatan. 

Area mangrove dijadikan zona inti dan dilindungi serta bebas dari segala bentuk intervensi pengembangan. Ekosistemnya dibiarkan tumbuh alami.

Sedangkan, kawasan pemanfaatan bisa dibagi lagi menjadi zona pemanfaatan terbatas, berkelanjutan dan zona pengembangan ekonomi.

Kawasan hutan bisa dibangun jembatan telusur atau jalur trekking sekedar untuk menikmati sebagian kawasan ekosistem mangrove.

Jalur trekking dibangun tanpa harus merusak pohon yang ada. Jembatan bisa dibangun di jalur sisi sungai yang tak ditumbuhi mangrove.

Di beberapa titik di jalur trekking dibuatkan spot atau menara pantau untuk menikmati kerindangan hutan dan biota khas kawasan mangrove.

Spot pantau itu sekaligus jadi wahana wisata edukasi konservasi mangrove, juga sebagai lokasi berfoto dengan latar hijaunya hutan mangrove. 

Di ujung perjalanan jalur trekking mangrove, kini telah ada lokasi wisata konservasi penyu yang dikelola oleh DKP Provinsi Sumbar.

Keberadaan konservasi penyu, satu paket dengan pengembangan taman edukasi konservasi mangrove sebagai kawasan edukasi konservasi pesisir. 

Gerbang masuk taman wisata edukasi mangrove bisa dibuat di beberapa titik lokasi. Gerbang dibuat ikonik dan artistik untuk memancing minat tamu. 

Misalnya, gerbang dan jembatan masuk dibuat di atas areal persawahan di belakang kantor Desa Apar, terhubung dengan jembatan trekking mangrove.

Gerbang juga bisa dari talao dekat muaro. Dibuat jembatan ikonik melintasi talao, terus terhubung dengan jalur trekking mangrove.

Pintu gerbang juga bisa dibuat dari arah samping lokasi konservasi penyu atau lokasi gerbang sekarang dan terhubung pula dengan gerbang lain.

Gerbang masuk, semua saling terhubung yang jalurnya didesain melintasi titik-titik lebatnya hutan mangrove dan juga melintasi kawasan talao. 

Di Talao dalam kawasan mangrove yang digenangi air, bisa disediakan perahu kecil sebagai sarana untuk menikmati eloknya hutan mangrove melalui sungai. 

Di kawasan zona pemanfaatan terbatas dan berkelanjutan, bisa pula dikembangkan kegiatan wisata edukasi konservasi mangrove. 

Di area ini, disediakan fasilitas bagi wisatawan mengikuti kegiatan edukasi konservasi mangrove sampai dengan kegiatan menanam bibit mangrove.

Di kawasan zona pemanfaatan terbatas dan berkelanjutan juga bisa dikembangkan sarana prasarana pusat edukasi berupa fasilitas pendukung.

Sedangkan, di zona pengembangan, yang lokasinya berada di luar ekosistem utama hutan mangrove, bisa dibangun berbagai fasilitas pendukung destinasi.

Misalnya, di area lapangan sepakbola di pinggir hutan mangrove, lokasi ini bisa dikembangkan sebagai lokasi kemping dengan konsep 'family camp'.

Di sisi lapangan yang berdampingan dengan talao dan hutan mangrove bisa dibangun unit penginapan dengan konsep bungalow ramah lingkungan. 

Fasilitas penginapan juga bisa dibangun ke arah timur, di area batas antara kawasan mangrove dan persawahan di belakang kantor Desa Apar.

Sebagian area lapangan terbuka juga bisa disulap sebagai arena permainan atau kegiatan outbound dengan konsep edukasi konservasi.

Kemudian, sebagian area dengan view talao dan kawasan mangrove nan eksotis, bisa ditata sebagai lokasi usaha cafe atau restoran berkonsep alami.

Pilihan menu cafe restonya spesial dan khas. Misalnya, menu utama masakannya berupa bahan baku kepiting bakau atau menu seafood khas Pariaman.

Bahan baku kepiting bakau bisa dibudidayakan sendiri di kawasan  mangrove. Kawasan ini sangat cocok untuk budidaya.

Selain sebagai fungsi wisata edukasi konservasi, sebagian kecil kawasan zona pemanfaatan bisa pula dijadikan lokasi budidaya kepiting bakau atau ketam.

Selain itu, kawasan ini juga cocok dikembangkan sebagai pusat budidaya berbagai jenis tanaman mangrove, semacam arboretum khusus mangrove.

Beberapa jenis tanaman mangrove dalam kawasan ini sudah bisa dijadikan bibit. Bahkan sebagian sudah bisa diolah jadi produk konsumsi.

Sudah ada kelompok yang mengolah buah mangrove jadi sirup, minuman kesehatan dan cemilan ringan. Ada juga yang dibuat selai. 

Selain menjaga keberlanjutan kawasan mangrove dan fungsi kawasan pesisisir sekitarnya, budidaya bibit mangrove ini juga bernilai ekonomi. 

Bibit tanaman mangrove banyak dibutuhkan untuk rehabilitasi kawasan di daerah lain, termasuk merehab kawasan mangrove di Kota Pariaman.

Sedangkan, kawasan sepanjang hutan cemara dengan view pantai dan laut bisa dikembangkan sebagai taman santai. Dibuat fasilitas pendukungnya.

Area pantai dengan pohon cemara nan rindang di depannya dan view talao serta hutan mangrove di belakangnya, sangat cocok dijadikan tempat eksklusif.

Area dengan fasilitas eksklusif bagi pengunjung untuk menikmati sajian makan malam khas seafood, sembari menikmati sunset atau 'sunset dinner'.

Sedangkan, zona pengembangan yang diperuntukkan untuk fasilitas umum, seperti bangunan kios pedagang, dan lainnya bisa dibuat di jalur keluar.

Misalnya, akses keluar kawasan jalurnya dibuat arah ke muaro terus ke jembatan Mangguang dan terakhir di area parkir dekat kantor Desa Apar.

Sepanjang bahu jalan di sebelah kanan jalur keluar dari arah muaro menuju jembatan Mangguang, lokasi ini bisa dijadikan tempat kios pedagang. 

Kios dibangun ikonik dan artistik sesuai konsep kawasan. Selain menjual kebutuhan wisatawan, area ini sekaligus jadi pusat oleh-oleh khas Pariaman.

Bangunan kios ditata apik di jalur pintu keluar kawasan taman wisata mangrove. Tujuannya adalah strategi untuk membantu pedagang berjualan.

Pengunjung yang berjalan sekian ratus meter keluar dari taman wisata mangrove menuju areal parkir di dekat kantor desa, tentu akan haus dan lapar.

Sesampai di kios-kios pedagang, mereka akan belanja makanan dan minuman, termasuk juga belanja oleh-oleh maupun souvenir khas Pariaman. 

Lokasi kios pedagang juga bisa ditata di areal yang berdekatan dengan lapangan parkir di dekat kantor desa. Kios dan parkir saling mendukung.

Penempatan kios dan areal parkir di luar ring utama taman wisata, bukan untuk membunuh usaha pedagang. Sebaliknya, justru untuk memberdayakan pedagang.

Kuncinya, semua fasilitas dalam kawasan wisata, jalurnya dibuat saling terhubung, saling terintegrasi dan fungsinya saling kuat menguatkan.

Penataan dan zonasi ini sangat penting artinya. Tujuannya supaya tak terjadi tumpang tindih aktivitas dalam satu titik kawasan. 

Tumpang tindih aktivitas di satu titik kawasan wisata, kalau dibiarkan ujung-ujungnya akan memicu kebisingan dan kesemrautan. 

Seperti diketahui, suasana bising dan semraut adalah kondisi yang sangat tak disukai banyak orang, termasuk tamu wisatawan. Ini 'kabaji' destinasi wisata.

Pariwisata itu modal dasarnya pelayanan. Pelayanan akan memunculkan kesan. Kesan akan menimbulkan kepercayaan.

Jika pelayanan diberikan dengan baik, kesan yang muncul otomatis akan baik. Tamu puas. Kepuasan adalah modal meraih kepercayaan. 

Kalau kepercayaan tamu sudah didapat, mereka tak akan puas datang satu kali ke suatu destinasi wisata. Suatu saat mereka pasti datang lagi.

Kalau kepercayaan tamu telah didapat, mereka (tamu) tak akan segan-segan ikut merekomendasikan destinasi wisata dimaksud kepada para sejawat.

Dalam kontek pengembangan kawasan wisata berbasis alam dan lingkungan, apalagi tema konservasi, semua perlu ditata dengan baik.

Pengembangan kawasan taman wisata edukasi konservasi mangrove dan penyu Desa Apar, misalnya. Di sini nilai jualnya ya ketenangan.

Wisatawan datang untuk menikmati hijaunya hutan mangrove, lucunya penyu, nikmatnya sajian kuliner khas dan indahnya pantai. 

Bagi wisatawan paket-paket khusus, mereka datang ke kawasan taman wisata edukasi konservasi Apar untuk belajar dan mendapatkan pengalaman. 

Tamu paket khusus ini butuh ketenangan dalam melaksanakan kegiatan. Mereka mesti dilayani dan didampingi secara maksimal.  

Selain benefit yang dihasilkan dari paket wisata minat khusus ini, nominalnya besar, wisatawannya juga jadi donatur pelestari kawasan. 

Paket wisata edukasi dan pengalaman hidup berbasis alam dan lingkungan merupakan trend wisata masyarakat dunia yang tak pernah pudur.  

Dengan ragam potensi kekayaan alam  yang dimilikinya, kawasan pesisir Desa Apar sangat potensial dikembangkan dan dikelola sebagai daya tarik wisata minat khusus. 

Mengingat uniknya fungsi ekosistem pesisir sebagai potensi wisata, pengembangan dan pengelolaan kawasan ini tak bisa serampangan.

Dibutuhkan perencanaan matang yang bersifat berkelanjutan dalam pengembangan maupun dalam pengelolaan kawasan. 

Yang tak kalah penting lagi yaitu,  keberadaan sumber daya manusia (SDM) berkompetensi sebagai pengelola destinasi wisata khusus. 

SDM kunci sukses pelayanan pariwisata. Pelayanan profesional hanya bisa diberikan oleh SDM berkompetensi dan bersertifikasi.

Wisata minat khusus berbasis alam mesti dikelola profesional oleh SDM profesional pula. Sehingga keberlanjutannya lebih terjamin. (*)

(Catatan Malam, Rabu 14 Agustus 2019)
Foto : hazella_hamiid