Notification

×

Iklan

Iklan

"114 Purnama di Hotel Prodeo" Karya Rozi Mandaliko Dibedah di Rimba Bulan

14 Februari 2022 | 12.07 WIB Last Updated 2022-02-14T05:07:02Z


Padang Panjang | pasbana - Taman Baca Masyarakat (TBM) Rimba Bulan yang berlokasi di Silaing Bawah kembali menghangatkan dunia literasi Kota Padang Panjang dengan membedah novel karya Rozi Mandaliko berjudul "114 Purnama di Hotel Prodeo", Ahad kemarin, (13/2), di Ruang Baca Rimba Bulan, dengan moderator Muhammad Subhan.

Yang pertama membedah adalah Duta Baca Sumatera Barat, Mardhiyan Novita MZ. Gadis berkerudung itu mengomentari alur novel  yang menurutnya "berantakan". Kendati begitu, dirinya memuji tema yang diangkat. Dia menyebut tidak mainstream lantaran berlatar di balik jeruji besi. Nama tokoh di dalam bacaan itu pun unik. 

" Tidak hanya nama tokoh tetapi penokohan dan karakter nya serta gaya bahasanya yang indah," ujar Dian ketika menjadi pemantik diskusi. 



Sementara itu, Tek Nun, Guru sekaligus penggiat literasi sedikit khawatir dengan sejumlah gaya bahasa yang ditulis vulgar, sehingga selaku seorang guru dia belum berani mengenalkan karya itu kepada murid-muridnya.

" Penulis sangat berani mengungkapkan hal seperti itu. Namun cerita penjara yang di dalam fikiran kita menakutkan ternyata tidak. Kita bisa dibuat ketawa dan terhibur  dengan gaya bahasanya. Analoginya sangat kaya. Setiap halaman saya menemukan kata-kata baru. Istilah baru yang selama ini belum pernah kita dengar," ungkapnya.

Keunikan novel karya Rozi Mandaliko juga dirasakan oleh Pengamat Sastra, Pengawas Sekolah Berprestasi 2019, Mulyadi Wijaya. Dikatakannya, hal itu timbul dari karakter pengarang novel itu sendiri yang memang nyentrik dari masa kuliah. 



" Beliau menyikapi kehidupan seperti itu ternyata. Bahwa segala sesuatu bisa kita buat happy atau segala sesuatu bisa kita jadikan candaan. Walapun di tempat yang tidak tepat seperti di dalam penjara. Saya yakin tokoh kurapay itu ialah dia sendiri," ujarnya.

Novel 114 Purnama di Hotel Prodeo memang berangkat dari kisah penulis yang pernah mendekam di penjara karena sebuah kasus. Selama 3 tahun masa percobaan di luar penjara lahirlah novel ini. Saat ini penulis telah bebas murni.

Penulis sebenarnya adalah seorang pelukis.  Mulyadi menilai cara Rozi mendaliko membuat karya novel seperti melukis. " Bagaimana karya itu muncul dan orang menikmatinya. Tapi bagi saya, anak SMA saya rekomendasikan membacanya, karena mereka kan sudah baliqh dan berakal sehat. Silahkan, jadi jika kita salah langkah pasti masuk penjara," katanya.



Diskusi makin menarik ketika Dosen sekaligus penulis, Sulaiman Juned turut berkomentar. Sulaiman  tidak setuju jika Novel dengan berlatar belakang penjara disebut langka lantaran banyak novel bertemakan demikian.  " Dari tahun 19 sekian itu banyak trilogi tentang novel tentang puisi, cerpen yang berbicara tentang penjara," jelasnya.

Adapun Rozi Mandaliko yang terlihat seperti disidang hari itu, justru merasa senang, bahagia dan haru. " lebih hebat rasanya hari ini dibandingkan hakim yang memvonis saya 9 tahun, lebih hebat hari ini. Apa yang saya dambakan dan saya impikan bertemu hari ini," sebutnya yang disambut aplause  oleh audien

Penggiat Literasi Muhammad Subhan mengatakan, kegiatan sekali dalam satu bulan, di Ruang  Baca Rimba Bulan milik Alvin Nur Akbar tersebut, dilaksanakan secara rutin. " Acara ini dalam bentuk apresiasi. Memberikan motivasi dan semangat kepada penulis agar lebih bagus menulis. Bagi yang belum besentuhan dengan karya sastra bisa lebih bersemangat untuk ikut," tuturnya.

Tampak hadir anak dari penulis nasional AA Navis yaitu Dedi Navis yang juga mengapresiasi kegiatan di TBM tersebut bersama para penulis dan pengamat sastra lainnya. (*)
×
Berita Terbaru Update