Notification

×

Iklan

Iklan

Macet Saat Lebaran di Sumbar, Solusinya Pakai Jalan Tol atau Reaktivasi Kereta Api?

09 Mei 2022 | 17.39 WIB Last Updated 2022-05-09T10:40:58Z


Pasbana
- Lebaran dan kemacetan. Sebenarnya ini adalah permasalahan klasik karena bergeraknya masyarakat yang mudik hingga jutaan orang dan kendaraan secara bersamaan. 

Tidak hanya di Jawa, di Sumbar pun pemudik harus terjebak pada kemacetan panjang. Dan alhasil banyak perantau yang bercarut marut (mencaci maki dalam bahasa Minang) karena terjebak macet. Sebagian perantau menganggap infrastruktur di Sumbar tidak siap menerima kepulangan mereka ke kampung halaman. 

Unggahan kalimat sumpah serapah bertebaran di sosial media perantau yang terjebak berjam-jam di jalanan. 

Kehebohan mewarnai sosial media terkait tuntutan solusi yang diharapkan masyarakat kepada pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, yang dipandang kurang memperhatikan pembangunan infrastruktur khususnya jalan. 

Terbelahlah pendapat  masyarakat akan solusi untuk menjawab permasalahan kemacetan di Sumbar ini. Terbelah menjadi dua bagian besar. Satu menyebut segerakan pembangunan jalan tol dan satu lagi aktifkan kembali jalur rel kereta api. 

Ada juga yang meminta agar jalan nasional dan jalan propinsi diperlebar. Namun ini jumlahnya tidak sebesar dua pendapat diatas. 

Namun kedua solusi diatas bukanlah perkara yang mudah untuk melaksanakannya. Pembangunan jalan tol di Sumbar adalah yang terlama penyelesaiannya. Sejak 9 Februari 2018 dilakukan Groundbreaking, pembangunan jalan Tol di Sumbar jalannya terseok-seok. 


Presiden Republik Indonesia Joko Widodo langsung yang meresmikan groundbreaking Jalan Tol Padang – Pekanbaru Seksi 1 Padang – Sicincin dan Peresmian Padang Bypass Capacity Expansion Project saat itu. Peresmian langsung  di lokasi proyek yaitu di Jl. Padang Bypass Km 25, Padang, Sumatera Barat. 

Jalan Tol Padang – Pekanbaru  yang direncanakan sepanjang total 244 Km dan terbagi menjadi 5 seksi, baru bisa dikerjakan di seksi 1. Itupun diwarnai ragam permasalahan dan kasus korupsi. 

Tol Sumbar- Riau direncanakan sebanyak 5 seksi, antara lain Seksi 1 Padang – Sicincin sepanjang 28 Km, Seksi 2 Sicincin – Payakumbuh  dengan panjang 78 Km, Seksi 3 Payakumbuh – Pangkalan panjang 45 Km, Seksi 4 Pangkalan – Bangkinang sepanjang 56 Km dan Seksi 5 Bangkinang – Pekanbaru memiliki panjang 37 Km.

Terakhir ada sedikit perkembangan positif dari Propinsi Riau, jalan tol seksi 6 yang menghubungkan Bangkinang - Pekanbaru sudah melalui tahap ujicoba pada lebaran tahun 2022 ini. 

Permasalahan terbesar yang ada pada pembangunan jalan Tol Sumbar-Riau adalah pada pembebasan lahan. Lahan di propinsi Sumatera Barat kebanyakan merupakan tanah ulayat, yang proses ganti untungnya pun tidak semudah tanah milik perorangan atau perusahaan. 

Pendapat kedua untuk mengatasi macet di Sumbar semasa libur lebaran 2022 adalah Reaktivasi  jalur Kereta api di Sumbar. 

Pendapat ini juga didukung oleh Pakar transportasi publik Universitas Andalas (Unand) Padang Yosritzal Phd. 

Ia berpendapat  pengoperasian kereta api di jalur Padang menuju Bukittinggi hingga Payakumbuh merupakan salah satu solusi mengatasi kemacetan saat mudik lebaran di Sumatera Barat.

Sebenarnya jalur ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Sejumlah jalur kereta di Sumatera Barat telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda akan kembali direaktivasi secara bertahap.

Pembangunan jalur kereta api yang telah dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut tentunya memiliki nilai ekonomi.

Saat ini, jalur kereta api di Sumbar saat ini yang tersedia baru rute Pulau Air-Simpang Haru-BIM-Duku-Pariaman dan Kayu Tanam, sedangkan jalur tersedia memanjang sampai ke Payakumbuh, Sawahlunto dan Solok.

Kereta api di Sumbar dimulai sejak 1887 dengan jalur sepanjang 315 Km. Terakhir ditambah 3 Km ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Namun sebagian besar dalam posisi tidak aktif. 


Solusi ini bukan tanpa kendala dan kesulitan. Jalur kereta api Padang- Payakumbuh sampai ke Limbanang dan bersimpang di Padang Panjang terus ke Sawahlunto, saat ini tak berfungsi. Ditutup oleh Menteri Perhubungan  pada 1990-an. 


Akibat penutupan jalur ini, sebagian besar jalur rel  yang menghubungkan Padang Panjang - Bukittinggi - Payakumbuh banyak yang ditimbun dan diatasnya berdiri bangunan dan jalanan aspal. Lahan milik PT KAI ini disewakan atau dikontrakan ke masyarakat. 


Sebagian perantau menganggap tidak hidupnya jalur rel kereta api jadi penyebab macet di Sumbar. Macet lebaran 2022 jadi pembicaraan hangat hampir semua warga Minang di kampung dan di rantau. 


Kalangan yang berpendapat ini, berharap setelah jalur rel kereta api direaktivasi dapat menjadi untuk wisata kereta, terutama kereta bergigi yang ada di Stasiun Padang Panjang. 


Dan dari beberapa kali pertemuan antara pihak pemerintah daerah di Sumatera Barat dengan PT. KAI selalu leading sector dalam pengoperasian dan pengelolaan Kereta api belum menunjukkan antusiasme yang kuat untuk merealisasikan. 


Pertimbangannya tentu untung dan tertutupi nya biaya operasional. Semenjak Tambang Batubara di Sawahlunto tidak aktif lagi, biaya operasional kereta api menjadi tidak tertutupi jika hanya mengandalkan tiket penumpang. 

Ternyata kedua solusi yang ditawarkan juga tak lepas dari kendala dan kesulitan yang sederhana. Cukup komplek juga. 

Dan seperti yang sudah-sudah, kehebohan macet lebaran 2022 ini menjadi hot viral sesaat. Seminggu pasca lebaran, karena jalan sudah tidak macet lagi, orang pun sudah lupa dengan solusi-solusi ini. 

Apakah akan menghangat lagi? Kita tunggu saja lebaran tahun depan. (Budi) 


×
Berita Terbaru Update