Notification

×

Iklan

Iklan

Aie Aka, Si “Ubek Tawa” dari Ranah Minang: Segelas Tradisi yang Menyejukkan Berbuka

27 Februari 2026 | 15:09 WIB Last Updated 2026-02-27T08:09:57Z



Pasbana - Menjelang azan magrib di sudut pasar tradisional Bukittinggi, ada satu minuman yang selalu dicari. Namanya unik: Ubek Tawa. Orang Minang menyebutnya juga Aie Aka—segarnya sederhana, khasiatnya dipercaya turun-temurun.

Minuman tradisional khas Sumatera Barat ini berbahan dasar perasan daun cincau hijau. Daunnya diremas dengan air hingga mengental alami, membentuk gel lembut berwarna hijau bening. Teksturnya kenyal, rasanya ringan. Lalu disiram santan gurih, gula merah cair, kadang ditambah air asam jawa untuk sentuhan segar.

Di beberapa lapak, Ubek Tawa naik kelas dengan tambahan telur ayam kampung—bahkan telur itik. Kombinasi ini dipercaya masyarakat setempat sebagai penambah stamina, terutama setelah seharian berpuasa.



Secara tradisional, Aie Aka dikenal sebagai “obat tawa”—minuman yang diyakini mampu meredakan panas dalam, sariawan, hingga demam ringan. Dalam kajian ilmiah, cincau hijau (Premna oblongifolia) memang mengandung antioksidan dan senyawa bioaktif yang berpotensi membantu meredakan peradangan serta mendukung kesehatan pencernaan. Sejumlah penelitian pangan lokal juga mencatat kandungan serat alaminya baik untuk melancarkan sistem cerna.

Santan yang menjadi pelengkapnya mengandung lemak nabati sebagai sumber energi cepat, sementara gula merah menyediakan glukosa alami untuk memulihkan tenaga setelah berpuasa. Kombinasi ini membuat Ubek Tawa bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga minuman pemulih energi tradisional.

Yang menarik, harga segelas Aie Aka tetap ramah di kantong. Di pasar-pasar tradisional, minuman ini dijual mulai Rp4.000 hingga Rp12.000, tergantung tambahan telur. Di tengah tren minuman modern dengan harga berkali lipat, Ubek Tawa justru bertahan dengan kesederhanaannya.



Eksistensinya pun tak surut. Dari pedagang kaki lima hingga pasar kuliner Ramadan, Aie Aka tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Ia bukan hanya minuman, melainkan bagian dari identitas kuliner Minangkabau—warisan rasa yang hidup di tengah modernitas.

Berbuka puasa dengan Aie Aka bukan sekadar tradisi, tetapi juga perayaan kearifan lokal. Di setiap tegukan, ada cerita tentang alam, tentang resep turun-temurun, dan tentang masyarakat yang menjaga tradisinya tetap hangat.

Segelas Ubek Tawa mungkin terlihat sederhana. Namun di Ranah Minang, ia adalah bukti bahwa kebaikan tak selalu mahal—kadang cukup hadir dalam gelas kecil yang menenangkan dan menyejukkan. Makin tahu Indonesia.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update