Pasbana - Pasar saham 2026 kembali ramai dengan pergerakan saham lapis dua dan waran. Banyak investor tergoda iming-iming cuan cepat. Tapi sebelum ikut euforia, ada satu pertanyaan penting: sudahkah Anda benar-benar menghitung risikonya?
Artikel ini akan membantu Anda memahami cara kerja waran, risiko utamanya, serta strategi praktis menggunakan contoh nyata PART & PART-W. Tanpa rumus ribet, tanpa jargon membingungkan.
Memahami Prinsip Dasar Waran
Sederhananya, waran adalah “tiket” untuk membeli saham induk di harga tertentu (harga tebus/redemption cost) sebelum tanggal tertentu.
Rumus gampangnya:
Warrant Acquisition Cost (WAC) + Redemption Cost (RC) = Total Acquisition Cost (TAC)
Artinya:
Kalau harga saham induk > TAC → Anda untung.
Kalau tidak mau tebus → jual warannya saat posisi profit.
Kedengarannya mudah? Ya, di atas kertas.
Dua Risiko Besar yang Sering Diabaikan
1️⃣ Risiko Hangus 100%
Kalau Anda pegang waran sampai periode exercise berakhir dan tidak punya dana untuk tebus, waran akan hangus. Rugi total.
Periode trading PART-W berakhir 30 Juni 2026, dan exercise berakhir 3 Juli 2026. Lewat dari itu? Selesai.
2️⃣ Risiko Harga Induk Turun
Kalau sudah ditebus tapi harga saham induk turun di bawah TAC, Anda bisa rugi kecuali sahamnya rebound.
Di sinilah pentingnya analisis fundamental.
Studi Kasus PART & PART-W
Misalnya analisis menunjukkan nilai wajar saham PART minimal di Rp215 karena proyek besar yang mulai berjalan dan diperkirakan tercermin di laporan keuangan mendatang.
Harga tebus PART-W: Rp110.
Target investor: minimal profit 25%.
Hitungannya:
Rp215 ÷ 125% = Rp172 (maksimum TAC)
Rp172 – Rp110 = Rp62 (maksimum WAC)
Artinya:
Selama beli PART-W di bawah Rp62, Anda relatif “aman” jika target Rp215 tercapai.
Manajemen Modal: Jangan Sampai Salah Hitung
Misal modal Anda Rp100 juta dan sanggup tebus.
TAC per lembar = Rp172
Proporsi pembagian:
Rp100 juta × (62/172) ≈ Rp36 juta untuk beli waran
Rp100 juta × (110/172) ≈ Rp64 juta untuk dana tebus
Hasilnya seimbang. Kalau beli lebih banyak waran karena harga murah, dana tebus juga harus bertambah. Jangan sampai overlot tapi tidak sanggup exercise.
Ibarat beli rumah dengan KPR: uang muka ada, tapi cicilan tak sanggup? Bahaya.
Kapan Jual, Kapan Tebus?
Misal dana tebus Rp64 juta dan target 25%, berarti target untung Rp16 juta.
Kalau beli waran Rp36 juta di harga Rp62, maka:
Rp36 juta + Rp16 juta = Rp52 juta
Rp52 juta ÷ Rp36 juta = 1,44
1,44 × Rp62 ≈ Rp89–90
Artinya:
Kalau PART-W sudah di Rp89/90 sebelum trading berakhir, jual saja. Profitnya setara.
Namun jika saham induk sudah mendekati Rp215 sementara waran belum naik signifikan, tebus lalu jual saham induknya.
Fleksibel. Jangan fanatik satu strategi.
Kalau PART-W sudah di Rp89/90 sebelum trading berakhir, jual saja. Profitnya setara.
Namun jika saham induk sudah mendekati Rp215 sementara waran belum naik signifikan, tebus lalu jual saham induknya.
Fleksibel. Jangan fanatik satu strategi.
Apa Kata Data & Praktisi?
Menurut data BEI dan berbagai laporan pasar 2025–2026, volatilitas saham small-mid cap meningkat tajam seiring meningkatnya partisipasi investor ritel.
Analis sering mengingatkan bahwa waran cocok untuk investor yang disiplin manajemen risiko, bukan sekadar ikut “call” influencer.
Waran bukan jalan pintas kaya. Ia alat leverage. Seperti pisau: bisa tajam menghasilkan, bisa juga melukai.
Hitung Dulu, Jangan FOMO
Main waran itu bukan soal berani, tapi soal berhitung.
✔ Hitung TAC sebelum beli
✔ Pastikan dana tebus tersedia
✔ Tentukan target realistis
✔ Pahami nilai wajar saham induk
Dengan strategi dan disiplin, waran bisa menjadi instrumen yang menguntungkan dalam portofolio investasi saham Anda.
Ingin memahami lebih dalam soal strategi saham, valuasi, dan manajemen risiko di pasar modal? Karena di pasar saham, yang bertahan bukan yang paling cepat—tapi yang paling paham. (*)




