Notification

×

Iklan

Iklan

Brainstorming dan Proses Kreatif: Kuflet Kupas Strategi Menemukan Ide di Era Digital

28 Februari 2026 | 19:47 WIB Last Updated 2026-02-28T12:47:35Z


Padang Panjang, pasbana– Komunitas Seni Kuflet kembali menggelar diskusi rutin bertema Mengulik Peran Brainstorming dalam Proses Kreatif Berkarya Seni di Sekretariat Kuflet, Sabtu (28/2/2026). Diskusi ini menghadirkan seniman rupa sekaligus alumni Pascasarjana ISI Padangpanjang, Rezi Ilfi Rahmi, S.Sn., M.Sn., sebagai narasumber, dengan Adriyan bertindak sebagai moderator.

Ketua Harian Komunitas Seni Kuflet, Nofa Dwi Saputra, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda penguatan kapasitas kreatif anggota komunitas. “Diskusi ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik kreatif secara langsung dari pelaku seni,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Rezi menjelaskan bahwa brainstorming merupakan proses berpikir kreatif untuk menggali dan mengembangkan ide. Ide, menurutnya, tidak cukup hanya disimpan dalam ingatan.



“Setiap ide yang muncul sebaiknya langsung dicatat atau divisualisasikan dalam bentuk sketsa. Catatan dan gambar adalah jejak awal yang akan memudahkan proses penciptaan karya,” kata Rezi.

Ia menekankan bahwa kebiasaan mencatat dan menggambar menjadi langkah penting agar ide tidak hilang begitu saja. Dalam praktik seni rupa, tahapan tersebut menjadi fondasi sebelum karya diwujudkan dalam bentuk final dan dipamerkan.

Dalam sesi tanya jawab, Sekretaris Komunitas Seni Kuflet, Teuku Varuq, mempertanyakan apakah penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT termasuk dalam proses brainstorming.
Menanggapi hal tersebut, Rezi menyatakan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, namun tidak boleh dijadikan sumber utama kreativitas.




“ChatGPT tidak 100 persen benar. Boleh digunakan untuk bertanya atau mencari referensi, tetapi hasilnya harus diolah kembali. Perkembangan teknologi itu wajar, namun ide orisinal tetap harus datang dari diri sendiri,” tegasnya.

Pertanyaan lain datang dari peserta diskusi, Fitri, yang menanyakan cara mengatasi kebuntuan ide saat menulis puisi.

Rezi menyarankan untuk memperbanyak membaca karya sastra. “Dengan sering membaca puisi, ide-ide baru akan muncul. Ide itu bisa diingat, dicatat, lalu dikembangkan menjadi karya,” jelasnya.

Pendiri Komunitas Seni Kuflet, Dr. Sulaiman Juned, menambahkan bahwa dalam dunia sastra, penguasaan diksi menjadi kunci utama.

“Sastra dan seni rupa memiliki pendekatan berbeda. Dalam sastra, kita perlu membangun ‘jembatan keledai’ atau struktur penghubung ide yang kuat. Perbanyak membaca, kuasai kamus bahasa Indonesia, kamus istilah, dan kamus populer. Itu bekal utama,” ujar sastrawan dan sutradara teater tersebut.

Peserta lain, Soeryadarma Isman, menanyakan bagaimana Rezi memperoleh ide sebagai perupa. Rezi menjelaskan bahwa ia sering memulai dari pendekatan dekoratif dan fenomena sosial di sekitarnya.

“Misalnya, anak-anak bermain. Lalu saya kaitkan dengan kondisi anak-anak sekarang yang lebih banyak menggunakan gawai. Dari situ ide berkembang, dicatat, dibuat sketsa, lalu diwujudkan menjadi karya,” paparnya.




Sementara itu, Windi mempertanyakan strategi dalam fotografi, khususnya untuk tugas akhir yang menuntut 20 karya dalam satu gagasan besar.

Rezi menyarankan agar fotografer mendekati langsung objek yang ingin diangkat. “Kalau ingin mengangkat tema sawah, datanglah ke sawah. Amati, rasakan, dan tangkap fenomenanya. Ciri khas karya akan muncul dari pengalaman personal,” katanya.

Ichsan Saputra, M.Sn., Magister Fotografi yang juga hadir dalam diskusi, menambahkan bahwa eksplorasi genre dan eksperimen menjadi kunci pengembangan ide. “Tentukan objek dan genre. Seni itu bebas, tapi perlu latihan dan eksperimen terus-menerus,” ujarnya.




Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menjadi bukti bahwa komunitas seni lokal di Padangpanjang terus berupaya membangun ekosistem kreatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dengan menggabungkan praktik brainstorming konvensional, literasi, observasi langsung, serta pemanfaatan teknologi secara bijak, Komunitas Seni Kuflet mendorong lahirnya karya-karya yang tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan dengan dinamika sosial kontemporer.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa di tengah era digital dan kecerdasan buatan, daya cipta manusia tetap menjadi inti utama dalam proses berkarya seni.(*/petir) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update