Oleh: Dr. Sulaiman Juned, M.Sn.*)
Pasbana - Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tahun 2026 mulai di gelar. Bulan ini di seluruh Indonesia sedang marak perlombaannya baik jenjang, SD, SMP (sederajat) maupuN SMA (sederajat) melalu ajang talenta seni budaya yang sebelumnya bernama FLS2N.
Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidika Dasar dan Menengah untuk menguatkan pengembangan bakat dan minat bidang seni, sastra dan budaya untuk mempeesiapkan generasi emas yang berkualitas.
Kegiatan lomba yang dimulai dari gugus di Kecamatan sampai ke tingkat nasional tentu diharapkan tidak sekedar menjadi ajang seremonial belaka. Sekolah-sekolah diharapkan tidak menyepelekan bidang seni dan sastra tersebut karena setiap manusia harus menyeimbangkan kedua kerja otaknya dalam berproses menjadi manusia.
Mempelajari seni dan sastra tentu tidak pula sekedar hobi semata, sebab seni dan sastra juga menjadi bahagian keilmuan yang semestinya dipelajari secara detail sama dengan bidang ilmu lainnya.
Misalnya pencapaian menuju pembaca puisi, Cipta Puisi, Cipta Lagu, Monolog, Pantomim, Mendongeng, Desain Poster, Film Pendek, Fotografi, Instrumen Solo Gitar, Jurnalistik, Kreativitas Musik Tradisi, Kriya, Komik Digital, Menulis Cerita Pendek, Menyanyi Solo putra dan Putri, serta Tari Kreasi yang berkualitas tentu dicapai melalui kerja keras dan latihan secara periodik (terus menerus), memiliki bakat yang mumpuni, tidak cukup apabila tidak berangkat dari proses latihan terus menerus tanpa henti (reguler) dan secara keilmuan.
Menjadi pembaca puisi yang handal misalnya, bukanlah memilih puisi lalu laltihan membaca atau menjadi aktor/aktris monolog bukan pula memilih naskah lalu latihan, begitu juga dengan Pantomim. Ketiga bidang seni ini membutuhkan latihan secara rutin.
Latihan pernafasan, olah vokal, olah tubuh, olah rasa, dan olah sukma, serta meditasi. Latihan seperti ini merupakan persiapan utama untuk menjadi berkualitas. Bagaimana mempersiapkan tubuh untuk.menghadapi latihan melalui teknik dasar secara berkesinambungan.
Hal ini tentu menjadikan tubuh lentur atawa dapat pula dipadatkan. Sementara vokal bagi seorang pembaca puisi ataupun aktor/aktris monolog harus mampu menyampaikan pesan sampai ke telinga penonton. Vokal merupakan perangkat ekspresi manusia dibentuk untuk menyampaikan karakter suara.
Jadi, latihan tubuh dan vokal serta pernafasan dapat menerima rangsangan sensitif melalui otak yang bekerja sehingga menciptakan pengucapan yang sempurna lewat proses latihan pernafasan yang maksimal.
Kemampuan mengolah suara dengan mengelola emosi yang tepat terpancar melalui hati, rasa dan tubuh secara bersamaan sehingga melahirkan ekspresi tubuh secara tak langsung melahirkan karakter vokal yang tepat dalam pengucannya. Latihan seperti inilah yang harus secara terus menerus dikerahkan agar kekuatan rohani dan pikiran dapat tercipta ke arah yang jelas.
Bukan seminggu lagi mau mengikuti lomba baru sibuk latihan, jika demikian tentu tak pernah maksimal proses pencapaian menuju generasi emas yang berkualitas.
Sedangkan untuk mencipta puisi juga demikian. Sesungguhnya siapapun mampu menjadi penyair yang handal karena menjadi penyair yang berkualitas tidak harus menunggu 'wahyu'. Seorang penyair hendaknya setiap saat mengasah ruang imajinasinya untuk.mampu 'merebut' gagasan yang berserakan dalam realitas sosial dirinya, lingkungan, dan masyarakatnya lalu ditulis menjadi puisi.
Ini merupakan proses pencatatan peristiwa di masyarakat selanjutnya memahami bentuk mental puisi (tema, amanat, urutan logis, dan pola asosiasi) kemudian memahami pula bentuk fisik (nada, larik, irama, intonasi, bahasa dan tifografi).
Selanjutnya yang semestinya dipahami perihal kepuitisan yang memberi semangat pada puitikal objek kata. Hal ini tentu harus melewati proses belajar tak henti, bukan hanya untuk sesaat.
Berdasarkan pengalaman menjadi juri Baca dan Cipta Puisi, Menulis Cerpen, Pantomim, Mendongeng, Bercerita, Jurnalistik seluruh sekolah yang ada di negeri ini (Indonesia) cenderung tidak mempersiapkan diri dengaan baik, ketika lomba seminggu lagi barulah dicarikan pelatih untuk siswa-siswanya.
Selayaknya sekolah-sekolah tersebut telah paham benar bahwasannya FLS3N telah menjadi agenda rutin (tahunan) yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang sudah barang tentu, kegiatan ini bukan ivent serimonial semata tetapi setiap sekolah di negeri sudah harus mempersiapkan diri dengan matang.
Atas dasar itu, sekolah-sekolah seharusnya mendirikan Sanggar Seni dan Sastra lalu mengundang pelatih-pelatih yang ahli di bidang tangkai yang seni dan sastra untuk melalukan pendampingan sehingga kemampuan dan wawasan tentang seni dan sastra mampu melahirkan generasi emas yang berkarakter dan berkualitas. Bravo!
*) Penulis adalah Sastrawan, Esais, Kolomnis, Sutradara Teater, dan Jurnalis, Dosen Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang, Pendiri/Penasihat Komunitas Seni Kuflet Kota Padang Panjang, Sekretaris/ Ketua Panitia Pendirian Kampus ISBI Aceh (2012/2015), Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), Pendiri UKM Teater NOL Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh (1990), Pendiri UKM Pers ISI Padangpanjang (1997), Kepala Humas ISI Padangpanjang (2010/2013), Ketua Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang (2019/2023), Penerima Pin Emas Bidang Seni Budaya dan Adat Istiadat dari Pemda Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (2020), Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat.









