Pasbana - Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tahun 2025 sebesar 3,37 persen. Di atas kertas, ekonomi tetap tumbuh. Tak minus. Tak krisis. Semua tampak baik-baik saja. Tapi sejarah punya cara sendiri untuk membongkar ilusi.
Awal 2010-an, Sumbar pernah berlari di atas 6 persen. Lalu melambat ke 5 persen. Turun lagi ke 4 persen. Kini mendekati 3 persen. Ini bukan rem mendadak. Ini pengereman pelan-pelan—dan konsisten.
Kalau ini sekadar siklus, semestinya ada fase bangkit yang mengembalikan laju ke lintasan lama. Namun setelah pandemi, pemulihan tak mampu membawa pertumbuhan kembali ke angka 5–6 persen. Artinya, persoalannya bukan badai sesaat, melainkan mesin yang tak pernah di-upgrade.
Struktur ekonominya relatif sama. Sektor primer—pertanian, perikanan, kehutanan—masih dominan, tapi hilirisasi berjalan lambat. Industri pengolahan tak menunjukkan pendalaman berarti. Tidak ada lompatan produktivitas. Sektor jasa tumbuh, tetapi lebih sebagai pengikut konsumsi domestik ketimbang pencipta nilai tambah baru. Kita tumbuh, tetapi dengan pola lama.
Pariwisata yang digadang-gadang sebagai “motor baru” pun belum benar-benar meraung. Kunjungan wisatawan mancanegara stagnan di kisaran puluhan ribu per tahun dalam satu dekade terakhir. Tanpa lonjakan signifikan, sulit menyebutnya mesin pertumbuhan. Promosi saja tak cukup jika konektivitas, infrastruktur, dan daya saing destinasi belum beres.
Pertumbuhan 3,37 persen memang bukan bencana. Namun ia membawa konsekuensi sunyi: kenaikan pendapatan per kapita melambat, penciptaan kerja terbatas, kapasitas fiskal naik perlahan. Yang lebih berbahaya adalah turunnya standar ekspektasi. Dari 6 persen ke 5 persen, lalu 4 persen, kini 3 persen terasa “cukup”. Kita seperti perlahan berdamai dengan perlambatan.
Padahal teori pembangunan sederhana: pertumbuhan tinggi lahir dari perpindahan sumber daya ke sektor berproduktivitas lebih tinggi. Tanpa transformasi, angka pertumbuhan akan menemukan batasnya sendiri.
Angka 3,37 persen bukan akhir cerita. Ia alarm yang berbunyi pelan. Pertanyaannya, apakah kita akan menekan tombol snooze—atau benar-benar bangun dan memperbarui mesin ekonomi Sumatera Barat?
(*)




