Solok Selatan, pasbana - Di tepian jalan raya kawasan Alam Surambi Sungai Pagu, berdiri kokoh sebuah bangunan tua yang seolah menolak ditelan zaman. Namanya Istano Rajo Balun—istana adat yang bukan hanya menyimpan sejarah, tetapi juga kisah-kisah magis yang hidup di tengah masyarakat.
Terletak di Nagari Pakan Rabaa, Muarolabuah, istana ini mudah ditemukan. Dari arah Padang, bangunan ini bahkan sudah tampak tak lama setelah melewati gerbang kawasan Saribu Rumah Gadang.
Sepintas, bentuknya menyerupai rumah gadang khas Minangkabau, dengan atap gonjong yang menjulang anggun ke langit.
Namun, Istano Rajo Balun bukan sekadar rumah adat biasa. Ia merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu yang telah berdiri ratusan tahun lalu.
Namun, Istano Rajo Balun bukan sekadar rumah adat biasa. Ia merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu yang telah berdiri ratusan tahun lalu.
Dalam sistem pemerintahannya, kerajaan ini dipimpin oleh empat raja dari suku berbeda: Kampai, Panai, Tigo Lareh, dan Melayu—sebuah representasi unik dari filosofi musyawarah Minangkabau.
Diperkirakan telah berusia lebih dari enam abad, istana ini kini ditetapkan sebagai cagar budaya. Sejarah panjangnya tidak selalu berjalan mulus. Pada masa penjajahan Belanda, bangunan ini sempat dibakar karena dianggap sebagai basis perjuangan Republik Indonesia di bawah pimpinan Syafrudin Prawiranegara.
Namun, secara mengejutkan, istana ini tidak hangus sepenuhnya. Cerita yang berkembang di masyarakat menyebut adanya “penjaga gaib” berupa harimau dan ular dari perbukitan di belakang istana.
Dari sisi arsitektur, istana ini sarat makna simbolik. Delapan gonjong pada atap melambangkan kebesaran adat, sementara lima jendela mencerminkan Rukun Islam. Tak hanya itu, 24 tonggak utama di bangunan ini dipercaya merepresentasikan jumlah penghulu dalam sistem adat setempat. Warna merah, kuning, dan hijau yang mendominasi dinding menambah kesan megah sekaligus filosofis.
Memasuki bagian dalam, pengunjung akan disambut ruang “surambi lua” sebagai tempat menerima tamu. Di bagian tengah, terpajang foto-foto raja lintas generasi. Sementara itu, di anjuang tersimpan berbagai benda pusaka: mulai dari peralatan makan, busana kebesaran raja dan permaisuri, hingga senjata tradisional seperti tombak dan keris.
Kini, Istano Rajo Balun tetap terawat di tangan pewaris generasi ke-16, Puti Ros Dewi Balun. Istana ini tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga ruang belajar hidup bagi pelajar, peneliti, hingga wisatawan mancanegara yang ingin memahami lebih dekat warisan budaya Minangkabau.
Di tengah arus modernisasi, Istano Rajo Balun berdiri sebagai pengingat: bahwa identitas dan sejarah adalah akar yang tak boleh tercerabut. Makin tahu Indonesia.(*)




