Notification

×

Iklan

Iklan

Sumbang Duo Baleh, Norma dan Tata Etika Wanita Minangkabau

27 Juli 2022 | 15.05 WIB Last Updated 2022-07-27T08:06:42Z
Foto : Ihsan Adityawarman(pexels)


pasbana -- Kearifan nilai-nilai budaya masa lalu Minangkabau yang diwariskan oleh adat sangat kuat membentuk pribadi " Gadih" ( Gadis ) Minangkabau. 

Aspek kehidupan gadis Minangkabau dilingkupi oleh norma, nilai adat dan agama. Peranan adat menempatkan kedudukan perempuan Minangkabau menjadi kukuh, kuat dan anggun.

Sumbang Duo Baleh  adalah peraturan tidak tertulis dalam adat minang yang berisi tentang tata krama dan nilai sopan santun. Di dalamnya termuat dua belas ketentuan dan larangan yang mesti ditaati oleh setiap perempuan minang.
 

Melanggar aturan ini akan berakibat hukuman malu, tidak hanya kepada dirinya sendiri, tapi juga mamak dan keluarganya.


Anak perempuan yang telah berumur 15 tahun atau lebih merupakan masa mempersiapkan diri untuk menjadi limpapeh. Predikat limpapeh pada hakikatnya penggambaran tentang perempuan ideal Minangkabau yakni para perempuan yang mampu menjaga pribadi dalam bersikap dan berprilaku dengan mentaati aturan yang telah digariskan oleh adat dan agama. 

Sedangkan Limpapeh rumah nan gadang merupakan perwujudan simbolis bagi perempuan Minangkabau yang menjaga garis keturunannya (matrilineal).

Seorang anak gadis minangkabau yang sudah mengalami pengawasan mamak dan orang tuanya akan menjadi sumarak rumah nan gadangAnak gadis minangkabau sebelum beranjak dewasa perlu diajarkan dulu suatu hal yang bermanfaat hari ini untuk kehidupan dimasa mendatang. 

Setiap anak gadis minangkabau sebelum berumah tangga perlu diajarkan dulu bertenun, menjahit, menyulam dan memasak . 

Supaya anak gadis setelah dewasa dapat untuk menjadi Bundo Kanduang limpapeh rumah nan gadang, sumarak dianjuang tinggi perlu diajarkan dulu sumbang duo baleh

Sumbang artinya sesuatu yang tidak sesuai atau dilarang, duo baleh artinya dua belas. Ini berarti sumbang duo baleh adalah sikap atau perbuatan yang harus dijauhi oleh perempuan.

Sumbang adalah segala sesuatu yang salah dan melangar ketentuan adat, terutama norma kesopanan di Ranah Minang. Setiap perempuan adalah calon bundo kanduang. 

Di tangannya nanti akan diwariskan dan mewariskan harta pusako milik keluarga sekaum. Selain itu, perempuan nanti akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Sehingga adab dan nilai sopan santun perempuan haruslah terjaga.



Beberapa hal yang dianggap sumbang yang harus dijauhi oleh anak gadis Minangkabau adalah :

1. Sumbang Pakai

Pakaian haruslah sopan, bersih dan rapih. Jangan memakai pakaian yang jarang dan ketat, apalagi sampai mencetak lekuk tubuh. Kenakanlah pakaian yang pas dengan fungsi masing masing, pakaian ke pasar tentu beda dengan pakaian sembahyang.

Babaju jan sampik-sampik, nak jan nampak rasio tubuah, dima bukik dima lurahnyo, dima taluak tanjuang baliku jadi tontonan laki-laki, usah pulo talampau jarang, nan tipih nan tabuak pandang, konon tasimbah ateh bawah. Satantang mode jo potongan, sasuaikan jo bantuak tubuah, sarasikan jo rono kulik, sarato mukasuik ka di tuju, buliah nak sajuak dipandang mato.

[ Berbaju janganlah yang ketat, dan jangan menampilkan seluruh lekuk-lekuknya. Dimana setiap lekuk tubuh menjadi tontonan lelaki. Jangan terlalu trasnparan, tipis dan tembus pandang. yang terbuka atas bawahnya. Untuk mode dan gayanya, sesuaikan dengan bentuk tubuh, sesuaikan dengan warna kulit , serta sesuaikan dengan tujuan acaranya, agar sejuk dipandang mata.]


2. Sumbang Duduak

Adat kebiasaan mengatur bahwa duduk yang paling pantas bagi perempuan adalah bersimpuh. Tidak boleh bersila seperti lelaki, tidak boleh mengangkat kaki, berjongkok. Duduk di kursi pun haruslah menyamping dan merapatkan paha. Apabila berboncengan tidak boleh mengangkang, harus menyamping.

Duduak sopan bagi padusi iolah basimpuah, bukan baselo co laki-laki, apo lai mancangkuang, batagak lutuik. Nyampang duduak di kurisi, bae manyampiang, rapekan pao arek-arek. Jikok bagonceang, usah mangkangkang abih-abih, manjajokan dicaliak urang.

[ Duduk sopan bagi perempuan adalah bersimpuh, bukan bersila seperti laki-laki, apalagi duduk jongkok, berdiri berlutut. Kalau sedang duduk, hendaklah menyamping, rapatkan juga duduknya. Saat berboncengan, usahakan jangan mengangkang, tidak nyaman dipandang orang lain. ]

3. Sumbang Tagak

Saat berdiripun, perempuan diatur untuk berdiri dengan sopan, tidak berkacak pinggang. Dilarang berdiri di tangga ataupun di depan pintu. Dilarang untuk berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti, dan tentunya dilarang berdiri berdua dengan yang bukan muhrim.


Usah panagak tantang pintu atau janjang turun naiak. Ijan panagak ditapi labuah kalau ndak ado nan dinanti. Sumbang tagak jo laki-laki apo lai bukan muhrim, kunun lai barundiang-rundiang.

[ Jangan tegak di depan pintu atau tangga tempat orang turun naik. Usahakan jangan berdiri di tepi jalan kalau tidak ada yang dinanti. Tidak baik berdiri bersama laki-laki yang bukan muhrimnya, apalagi kumpul-kumpul nimbrung bersama ]


4. Sumbang Jalan

Ketika berjalan, perempuan haruslah berkawan, tidak boleh tergesa-gesa namun harus tetap hati-hati. Diumpamakan bahwa semut yang terinjak bahkan tidak mati. Demikian saking hati-hatinya.

Bajalan musti bakawan, paliang kurang jo paja ketek. Usah bajalan bagageh-gageh, malasau, mandongkak-dongkak Bajalanlah bak siaganjua lalai, pado pai suruik nan labiah. Alu tataruang pantangnyo patah, samuik tapijak indak nan mati. jikok bajalan jo laki-laki, malangkahlah di balakang. Usah maampang jalan waktu bajalan sasamo gadang.

[ Berjalan hendaknya berkawan, setidaknya ada kawan anak kecil. Hindari jalan tergesa-gesa, melenggak-lenggok. Berjalanlah dengan tenang dan pelan. Jika berjalan dengan laki-laki, hendaknya berjalan di belakang. Jangan berjalan menutupi jalan, saat berjalan bersama kawan-kawan. ]



5. Sumbang Kato

Berkata haruslah dengan sopan dan memiliki tujuan, haruslah mengerti kato nan ampek. Ia harus tahu dengan siapa ia berkata-kata. Dilarang untuk memotong pembicaraan orang lain, berkata dengan terlalu kegirangan.

Bakatolah jo lamah lambuik. Duduakan hetong ciek-ciek nak paham mukasuiknyo. Ijan barundiang bak murai batu, bak aia sarasah tajun. Jan menyolang kato rang tuo, dangakan dulu sudah-sudah. Jan manyabuik kumuah wakatu makan, manyabuik mati dakek sisakik. Kurang elok, indak tapuji maminta utang di nan rami.

[ Berkatalah dengan lemah lembut. Dudukkanlah satu-satu agar paham maksudnya.Jangan berunding seperti burung murai batu, rame seperti air terjun. Jangan menyela saat orang tua berbicara, dengarkan dulu sampai tuntas. Jangan berbicara hal yang kotor dan jorok saat sedang makan, membicarakan kematian di dekat orang sakit. Tidak baik, dan tidak terpuji menagih hutang di tengah keramaian . ]



6. Sumbang Caliak

Perempuan yang telah gadih (gadis) dilarang untuk bersitatap dengan lelaki yang bukan muhrimnya, ia haruslah menundukkan dan menjaga pandangannya. Saat ada tamu, sebisa mungkin untuk tidak melihat jam terlalu sering. Karena dianggap tengah mengusir tamu secara halus.

Kurang taratik urang padusi, pamana pancaliak jauah, pamadok arah balakang, pamatuik diri surang. Nyampang pai ka rumah urang, pajinak incek mato, jan malanja sapanjang rumah. Usah pancaliak jam, wakatu ado tamu. Ijan panantang mato rang jantan, aliahan pandangan ka nan lain, manakua caliak ka bawah.

[ kurang baik perempuan  melamun , membelakangi , dan termenung sendirian. Saat pergi ke rumah orang lain, jinakkanlah pandangan mata, jangan terlalu melihat-lihat ke seluruh rumah. Usahakan tidak melihat jam saat ada orang bertamu. Jangan memandang menantang tatapan mata lelaki, alihkan ke arah lain, atau menunduk ke bawah. ]


7. Sumbang Makan

Makanlah secukupnya, makan pelan-pelan. Dilarang makan sambil berdiri apalagi berjalan. Sebisa mungkin tidak berbicara saat makan kecuali sangat penting. Jangan berbunyi saat makan atau istilah 'rang awak-nya disebut "mancapak".

Usah makan sambia tagak, kunyah kenyoh sapanjang jalan. Nyampang makan jo tangan, ganggam nasi jo ujuang jari, bao ka ateh lambek-lambek, usah mangango gadang-gadang. Nyampang makan jo sendok, agak-agak malah dahulu, nak jan balago sendok jo gigi. Ingek-ingek dalam batambuh, kana-kana manyudahi.

[ Jangan makan sambil berdiri, makan sambil berjalan. Saat makan dengan tangan, genggam nasi dengan ujung jari, ambil pelan-pelan, hindari membuka mulut terlalu lebar. Saat makan dengan sendok, takarlah baik-baik, hindari beradu antara gigi dan sendok. Ukurlah saat mau menambah, teringatlah untuk menyudahi. ]



8. Sumbang Karajo
Idealnya pekerjaan perempuan adalah pekerjaan yang ringan dan mudah. Pekerjaan kasar dan berat hendaknya diserahkan kepada kaum lelaki, ataupun dimintakan tolong kepada laki-laki yang ada.

Kakok karajo rang padusi iolah nan ringan jo nan alui, sarato indak rumik-rumik. Cando padusi mambajak sawah, manabang, jo mamanjek. Jikok ka kantua, nan rancak iyo jadi guru.

[ Bagian kerja perempuan adalah yang ringan dan halus, dan yang tidak rumit-rumit. Hal yang agak kurang pas adalah membajak sawah, menebang pohon, atau memanjat pohon. Saat ke kantor sebaiknya berprofesi sebagai guru .]


9. Sumbang Tanyo

Dalam bertanya, dengarlah terlebih dahulu penjelasan orang lain, barulah bertanya dengan sopan. Maksudnya sopan adalah tidak menguji apalagi merendahkan orang lain.

Barundiang sasudah makan, batanyo salapeh arak. Sangeklah cando, tanyo tibo ikua di ateh. kasa Usah batanyo di indak mambali. Nyampang tasasek karantau urang ijan batanyo bakandak-kandak. Buruak muncuang dijawek urang, cilako juo kasudahannyo. Simak dulu dalam-dalam, baru tanyo jaleh-jaleh.

[ Berunding sesudah makan, bertanya selepas itu. Sangatlah tidak sopan, selesai bertanya justru membalik dengan kasar. Jangan bertanya jika tidak membeli. Saat tersesat di rantau orang jangan bertanya sekehendak hati.  Jelek perkataan saat dijawab orang. celaka nanti kesudahannya. Simak dalam-dalam , baru bertanya dengan jelas.]



10. Sumbang Jawek

Begitu juga ketika ditanyai, jawablah dengan seperlunya dan tepat. Jangan menjawab sekenanya, sehingga orang harus bertanya berulang-ulang karena semakin bingung. Jawablah hal yang perlu perlu saja, yang tidak perlu tidak usah dijawab.


Jaweklah tanyo elok-elok, usah mangandang mamburansang. Jan asa tanyo bajawek, kunun kok lai bakulilik.

[ Jawablah pertanyaan dengan baik-baik, hindari yang membuat orang lain tersinggung. Jangan setiap pertanyaan langsung dijawab, khawatirnya justru mempersulit nantinya. ]


11. Sumbang Bagaua
Pergaulan perempuan dewasa minang haruslah terjaga. Ia tidak boleh bergaul terlalu dekat dengan bukan muhrimnya apalagi berjalan berduaan. Selain itu akan terlihat sumbang bila perempuan dewasa bergaul dngan anak kecil, apalagi ikut permainan mereka.

Usah bagaua jo laki-laki kalau awak surang padusi. Jan bagaua jo paja ketek, main kalereang jo sepak tekong, kunun kok lai semba lakon. Paliharo lidah dalam bagaua, iklas-iklas dalam manolong, nak sanang kawan ka awak.


[ Jangan bergurau dengan laki-laki saat perempuan sendirian. Jangan bergurau berkelebihan dengan anak kecil, main kelereng, dan sepak takraw. Peliharalah lidah saat bergurau, ikhlas dalam menoilong, agar senang kawan kepada kita. ]


12. Sumbang Kurenah
Dalam bertingkah laku sehari-hari haruslah tetap bisa menjaga perasaan orang lain. Jangan berkata berbisik bisik, menutup hidung dalam keramaian, tertawa terbahak-bahak dan sejenisnya. Jaga lisan dari hal yang akan menyinggung banyak orang.


Kurang patuik, indaklah elok babisiak sadang basamo. Usah manutuik hiduang di nan rami, urang jatuah awak tagalak, galak gadang nan bakarikiakan. Bueklah garah nan sakadarnyo, buliah ndak tasingguang urang mandanga. Jikok mambali durian, usah kuliknyo ka laman urang. Paliharo diri dari talunjuak luruih kalingkiang bakaik, nan bak musang babulu ayam.

[ Kurang patut , tidaklah elok berbisik-bisik saat sedang bersama orang lain. jangan menutup hidung di tempat ramai, saat ada orang terjatuh jangan ditertawakan, tertawa terbahak-bahak dan cekikikan. Buatlah bercanda sekedarnya saja. Agar orang tidak tersinggung orang yang mendengar. Jika membeli durian, jangan kulitnya dibuang ke halaman orang. Peliharalah diri agar tidak bersifat munafik.]


Meskipun sifatnya tertulis, tapi kontrol dari masyarakat sangat efektif dalam pengaplikasian Sumbang Duo Baleh oleh kaum perempuan, khususnya di Ranah Minang. Karena hukumannya adalah rasa malu, tak hanya bagi dirinya, juga pada keluarganya. Jadi makin tahu Indonesia. (budi)

×
Berita Terbaru Update