Notification

×

Iklan

Iklan

Sala Lauak: Gurihnya Warisan Pesisir Minang yang Selalu Dirindukan Saat Berbuka

02 Maret 2026 | 21:53 WIB Last Updated 2026-03-02T14:53:17Z



Padang Pariaman, pasbana - Menjelang waktu berbuka, aroma gorengan yang mengepul kerap menjadi penanda paling jujur bahwa Ramadan benar-benar hadir. Di pesisir barat Sumatera Barat, tepatnya di Pariaman, ada satu kudapan yang nyaris tak pernah absen dari meja takjil: sala lauak.

Bentuknya bulat kecil—masyarakat menyebutnya sala bulek. Sekilas mirip perkedel, namun ketika digigit, sensasinya berbeda. Bagian luar terasa garing dan renyah, sementara bagian dalamnya lembut dengan rasa gurih yang kuat. 

Rahasianya ada pada perpaduan tepung beras sangrai, ikan asin atau teri, serta bumbu khas Minang seperti kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, cabai merah, daun kunyit, dan daun jeruk.

Secara tradisi, ada dua jenis sala lauak yang dikenal. Versi lunak biasanya menggunakan ikan stuhuak, sedangkan versi lebih padat dan sedikit keras memakai ikan teri atau ikan asin yang disuwir halus. Warna kuningnya yang cerah berasal dari kunyit, bukan sekadar pewarna alami, tetapi juga pemberi aroma khas yang menggugah selera.

Menariknya, proses membuat sala lauak tak sesederhana membentuk adonan lalu menggoreng. Tepung beras lebih dulu disangrai sekitar lima hingga sepuluh menit agar kadar airnya berkurang dan hasil akhirnya lebih renyah. 

Setelah itu, air bumbu yang sudah mendidih disiramkan ke tepung, diaduk hingga kalis, lalu dibentuk bulatan kecil sebelum digoreng dalam minyak panas yang cukup banyak. Api sedang menjadi kunci agar bola-bola ini matang merata dan tak pecah saat digoreng.

Kudapan ini bukan sekadar camilan. Dalam keseharian masyarakat Pariaman, sala lauak kerap menjadi teman makan soto atau lontong sayur. Saat Ramadan, ia berubah fungsi menjadi primadona takjil—praktis, mengenyangkan, dan ramah di kantong.

Nilai budayanya pun diakui negara. Sala lauak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 2010. Pengakuan ini menegaskan bahwa makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga identitas dan sejarah kuliner masyarakat pesisir Minangkabau.

Di tengah gempuran camilan modern, sala lauak membuktikan satu hal sederhana: resep turun-temurun yang dibuat dengan ketelatenan selalu punya tempat di hati.

Gurihnya mungkin sederhana, tetapi di balik setiap gigitan, ada cerita panjang tentang laut, rempah, dan tangan-tangan terampil yang menjaga tradisi tetap hidup. Makin tahu Indonesia. (*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update