Notification

×

Iklan

Iklan

Serangan ke Iran, Harga Minyak Melonjak 12%: Akankah IHSG Terseret atau Justru Panen Cuan?

02 Maret 2026 | 10:02 WIB Last Updated 2026-03-02T03:02:50Z


Pasbana - Konflik geopolitik kembali mengguncang pasar global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pada 28 Februari bahwa AS bersama Israel melancarkan serangan militer besar ke Iran. Beberapa pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas. 

Iran merespons dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk, serta memberi peringatan kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz—jalur sempit yang dilalui sekitar 20% ekspor minyak dunia dan mayoritas LNG global.

Bagi investor, ini bukan sekadar berita politik. Ini soal pasokan energi dunia—dan efeknya bisa sampai ke layar trading kita.
Emas Naik, Investor Cari “Tempat Aman”
Saat situasi memanas, dana global biasanya mengalir ke aset safe haven seperti emas. Pada pembukaan 2 Maret, harga emas spot melonjak 1,6% ke US$5.362 per ons.

Logikanya sederhana: ketika dunia terasa tak pasti, investor mencari “brankas” yang lebih stabil. Di pasar domestik, saham berbasis emas seperti BRMS, ARCI, dan EMAS berpotensi mendapat sentimen positif.

Minyak Terbang, Energi Jadi Sorotan


Harga minyak Brent melonjak 12,6% ke US$81,6 per barel sebelum terkoreksi ke US$78,2. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan. Sebagai penyeimbang, OPEC+ menaikkan kuota produksi 206 ribu barel per hari untuk April 2026.

Analogi sederhananya begini: jika keran pasokan minyak dunia menyempit, harga otomatis naik. Namun jika pasokan alternatif cepat dibuka, lonjakan bisa mereda. Pada Juni 2025, saat ketegangan Iran–Israel meningkat, harga minyak sempat melonjak tajam namun kembali stabil ketika risiko mereda (Bloomberg, 2025).

Saham energi seperti MEDC dan RATU biasanya menjadi penerima manfaat awal.
LNG, Tarif Tanker, dan Batu Bara Ikut Terdorong

Gangguan di Selat Hormuz juga berimbas pada pengiriman LNG ke Asia. Biaya asuransi kapal naik, risiko logistik meningkat, dan tarif tanker berpotensi terdongkrak. Emiten pelayaran seperti SOCI, BULL, HUMI, dan GTSI bisa ikut dilirik.

Dalam jangka lebih panjang, kenaikan minyak biasanya menular ke energi substitusi seperti batu bara. Saham AADI, ITMG, dan PTBA berpotensi mendapat angin segar.

Lalu, Bagaimana dengan IHSG?


Kunci utamanya ada pada durasi gangguan Selat Hormuz. Jika konflik cepat mereda dan jalur energi tetap terbuka, tekanan terhadap IHSG bisa bersifat sementara—bahkan membuka peluang rebound cepat. Namun jika gangguan berkepanjangan, risiko inflasi energi global bisa menekan daya beli dan laba emiten.

Investor ritel sebaiknya:
  • Tidak panik berlebihan.
  • Fokus pada sektor energi dan komoditas sebagai hedge.
  • Tetap disiplin pada manajemen risiko.
Menurut laporan Bloomberg dan The Wall Street Journal, pasar global kini menanti respons negara besar lainnya dan perkembangan di Selat Hormuz.

Di pasar saham, badai bisa menjadi ancaman—atau peluang. Semua tergantung kesiapan kita membaca arah angin.
(*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update