Notification

×

Iklan

Iklan

Belanja Online Naik Level: Tak Sekadar Tren, Kini Jadi Rutinitas Konsumen Indonesia

05 April 2026 | 20:53 WIB Last Updated 2026-04-05T13:53:53Z


Pasbana| Ada masa ketika belanja online hanya soal diskon tengah malam dan godaan gratis ongkir. Kini, ceritanya berubah. Konsumen Indonesia bukan lagi sekadar pemburu harga murah, melainkan pembeli yang makin sadar—bahkan sedikit skeptis.

Laporan State of Digital Commerce in Asia Pacific 2025 hasil kolaborasi YouGov dan Visa mencatat perubahan itu dengan cukup jelas. Sebanyak 62 persen masyarakat Indonesia kini berbelanja daring dua hingga tiga kali dalam sebulan. Angka ini melonjak dibanding tahun sebelumnya dan memperlihatkan satu hal: belanja online sudah menjadi rutinitas, bukan lagi tren musiman.

Namun, peningkatan frekuensi itu diiringi perubahan sikap. Konsumen tidak lagi terpikat hanya oleh kemudahan transaksi. Mereka mulai menuntut keamanan, transparansi, dan manfaat nyata dari setiap klik pembayaran. Singkatnya, masyarakat digital Indonesia semakin cerdas.

Indonesia bahkan menunjukkan karakter unik di kawasan Asia Pasifik. Sebanyak 78 persen konsumen menggunakan akun dengan saldo tersimpan—tertinggi di kawasan. Kebiasaan ini menciptakan ekspektasi baru: pembayaran harus cepat, tetapi juga terasa aman.

Kesadaran terhadap keamanan pun ikut naik kelas. Sekitar 34 persen konsumen telah memahami teknologi tokenisasi, sebuah sistem perlindungan data transaksi. Angka ini menjadi sinyal bahwa pasar Indonesia mulai siap mengadopsi pembayaran instan seperti one click payment tanpa rasa waswas berlebihan.

Menariknya, kecerdasan buatan (AI) kini ikut masuk keranjang belanja. Sebanyak 82 persen konsumen Indonesia menggunakan AI untuk membantu aktivitas belanja—mulai dari membandingkan harga hingga melacak pesanan. Angka itu diproyeksikan menembus 95 persen dalam waktu dekat. Artinya, algoritma kini hampir sama pentingnya dengan dompet.

Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menilai tren ini menegaskan satu hal: kepercayaan menjadi mata uang utama ekonomi digital. Konsumen boleh saja antusias mencoba teknologi baru, tetapi rasa aman tetap menjadi syarat utama.

Di tengah dorongan digitalisasi nasional, masa depan belanja online Indonesia tampaknya bukan lagi soal siapa yang paling cepat bertransaksi, melainkan siapa yang paling dipercaya. Karena di dunia digital, klik mungkin instan—tetapi kepercayaan tetap harus dibangun perlahan. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update