Notification

×

Iklan

Iklan

IHSG Melonjak di Tengah Damai Sementara Dunia: Pasar Bernapas, Investor Kembali Percaya

09 April 2026 | 11:27 WIB Last Updated 2026-04-09T04:27:06Z


Pasbana - Pasar saham Indonesia akhirnya mendapat “angin segar”. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,4 persen ke level 7.279,21 pada Rabu (8/4), bukan sekadar karena faktor domestik, tetapi dipicu kombinasi kabar baik dari geopolitik global dan kepercayaan investor internasional.

Dua peristiwa menjadi pemantik utama. Pertama, pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menghentikan serangan militer selama dua pekan, sementara Iran menjamin keamanan jalur vital energi dunia, Selat Hormuz. Pakistan bertindak sebagai mediator dan negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad.

Bagi pasar keuangan, stabilitas geopolitik berarti satu hal: risiko global menurun. Dampaknya langsung terasa. Harga minyak Brent anjlok 13,7 persen ke sekitar US$94 per barel, meredakan kekhawatiran tekanan fiskal Indonesia akibat lonjakan impor energi. Sebaliknya, emas justru naik 2,8 persen, mencerminkan investor global yang masih berhati-hati.

Kabar positif kedua datang dari FTSE Russell yang mempertahankan Indonesia sebagai secondary emerging market dalam review April 2026. Status ini penting karena menjadi sinyal bahwa reformasi transparansi pasar modal Indonesia diakui dunia. Risiko investasi Indonesia di mata investor asing pun ikut menyusut.

Hasilnya terlihat jelas: rupiah menguat 0,55 persen ke Rp17.010 per dolar AS setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah. Aliran dana asing mulai kembali membidik saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, yang menjadi motor utama kenaikan indeks.

Sentimen “risk-on” juga membuka peluang reli saham konglomerasi dan sektor logam, didukung harga emas serta logam dasar yang tetap tinggi. Namun, tidak semua sektor menikmati pesta ini. Saham energi—terutama migas dan batu bara—berpotensi tertekan akibat penurunan tajam harga minyak.

Meski demikian, investor belum boleh lengah. Gencatan senjata ini masih bersifat sementara dan Iran menegaskan konflik belum sepenuhnya berakhir. Pasar kini menanti hasil negosiasi lanjutan di Islamabad serta pembaruan indeks global dari MSCI dan FTSE dalam beberapa bulan ke depan.

Di pasar saham, seperti dalam politik global, optimisme memang bisa datang cepat—tetapi kepastian selalu datang belakangan.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update