Notification

×

Iklan

Iklan

Kartini Belum Pulang: Ketika Emansipasi Masih Menunggu Giliran

22 April 2026 | 00:50 WIB Last Updated 2026-04-22T02:55:36Z



Pasbana - Setiap 21 April, bangsa ini ramai mengingat R.A. Kartini. Kebaya dikenakan, kutipan inspiratif beredar, dan kata “emansipasi” kembali viral. Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus mengusik: apakah cita-cita Kartini benar-benar sudah tiba?

Lebih dari seabad sejak gagasannya diterbitkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, perempuan Indonesia memang terlihat lebih bebas. Mereka sekolah tinggi, bekerja di kantor, bahkan memimpin perusahaan dan pemerintahan. Tapi di balik kemajuan itu, realitas sering kali berbicara lain.

Kartini meninggal muda, diduga akibat komplikasi kehamilan. Ironisnya, kisah itu belum benar-benar menjadi sejarah. Hingga kini, sekitar 4.100 ibu hamil masih meninggal setiap tahun di Indonesia—angka yang berarti satu ibu dan empat bayi hilang setiap satu jam. Seolah waktu berjalan, tetapi persoalan lama tetap tinggal.

Di rumah tangga, perempuan masih memikul “pekerjaan tak terlihat”: merawat anak, menjaga kesehatan keluarga, memastikan dapur tetap menyala. Banyak perempuan rela menunda memeriksakan diri demi orang lain. Bahkan, riset menunjukkan sebagian besar perempuan kehilangan waktu sehat hingga tiga bulan setiap tahun karena beban perawatan.

Lucunya—atau mungkin tragisnya—ketika perempuan memilih karier, label baru muncul: dianggap kurang keibuan. Jika memilih keluarga, disebut tidak produktif. Apa pun pilihannya, perempuan tetap salah di mata standar sosial yang belum selesai berdamai dengan kesetaraan.

Di sisi lain, jutaan perempuan bekerja di sektor perawatan berupah rendah: pengasuh anak, pekerja rumah tangga, perawat lansia, kader kesehatan. Mereka menopang kehidupan sosial, tetapi nyaris tak terlihat dalam kebijakan ekonomi.

Bagi perempuan miskin, pilihan bahkan bukan soal karier atau keluarga. Kemiskinan memaksa banyak anak perempuan putus sekolah dan menikah dini—membuka pintu pada kekerasan serta lingkaran kemiskinan baru.

Masalahnya bukan semata budaya, tetapi juga kebijakan yang belum sepenuhnya sensitif gender. Kebebasan perempuan hari ini sering terasa seperti etalase: tampak terbuka, tetapi masih dibatasi aturan tak kasatmata.

Barangkali Kartini belum benar-benar pulang. Sebab terang yang ia bayangkan bukan sekadar kesempatan, melainkan keadilan yang nyata—di rumah, di tempat kerja, dan dalam hidup perempuan Indonesia sehari-hari.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update