DHARMASRAYA , pasbana— Puluhan pegiat literasi dan mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia (Undhari) mengikuti kegiatan Lapau Literasi Sastra di Rumah Baca Marenda, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, Ahad (19/4/2026). Kegiatan ini menjadi penutup Tur Literasi Sumatera Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang yang berlangsung sejak 12 April 2026 di Provinsi Jambi.
Acara dikemas dalam bentuk diskusi santai “ngopi dan ngobrol” tentang proses kreatif, dari menemukan ide hingga menjadi karya tulis. Peserta terlibat dalam percakapan terbuka mengenai pengalaman menulis, hambatan, dan strategi menjaga konsistensi berkarya.
Sutradara Teater yang juga pendiri Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn. mengatakan, ide tulisan tidak perlu ditunggu, melainkan harus dipungut dari kehidupan sehari-hari.
“Ide itu berlimpah. Yang langka adalah kepekaan. Menulis bukan menunggu ilham, tetapi melatih diri untuk peka terhadap apa yang terjadi di sekitar,” ujarnya.
Menurut Sulaiman Juned, sumber ide dapat berasal dari pengalaman pribadi, percakapan di warung kopi, hingga peristiwa kecil yang kerap diabaikan.
Ia menekankan pentingnya kebiasaan mencatat agar ide tidak hilang.
“Ide itu licin. Satu kalimat atau dialog harus segera ditangkap. Banyak penulis kehilangan ide bukan karena tidak punya, tetapi karena tidak mencatat,” katanya.
Sulaiman juga mengingatkan pentingnya membaca sebagai bagian dari proses kreatif. Melalui membaca, seseorang tidak hanya menemukan ide, tetapi juga cara pandang baru.
Ide, menurutnya, sering muncul sebagai pantulan antara bacaan dan pengalaman pribadi.
Dalam diskusi tersebut, Sulaiman menyoroti pentingnya melatih empat kecakapan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dua di antaranya bersifat reseptif, yakni menyimak dan membaca, sementara dua lainnya produktif, yaitu berbicara dan menulis.
“Keempatnya harus dilatih seimbang karena saling berkaitan dalam praktik literasi,” ujarnya.
Sulaiman juga mendorong peserta untuk berani bertanya sebagai cara membuka kemungkinan ide. Pertanyaan seperti “bagaimana jika” dinilai dapat memicu lahirnya cerita yang utuh.
Selain itu, ia mengingatkan agar penulis tidak terlalu cepat menilai ide sebagai sesuatu yang buruk.
“Ide yang sederhana bisa menjadi kuat jika digarap dengan sungguh-sungguh,” katanya.
Soal hambatan menulis, Sulaiman menyebut ‘writer’s block’ dapat diatasi dengan tetap menulis secara rutin.
“Tulisan yang baik lahir dari keberanian memulai dan ketekunan menyelesaikan. Menulis sedikit demi sedikit, tetapi konsisten, lebih penting daripada menunggu waktu luang,” ujarnya.
Senada dengan itu, penulis Muhammad Subhan dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa ide dapat ditangkap dari apa yang dilihat, dirasakan, dan dikerjakan.
Menurutnya, konsistensi menjadi kunci dalam proses kreatif.
“Pungut, catat, lalu kembangkan. Jangan menunggu inspirasi datang,” katanya.
Pendiri sekaligus Pimpinan Rumah Baca Marenda, Dr. Amar Salahuddin, M.Pd., mengatakan, kegiatan ini memberi motivasi bagi mahasiswa untuk lebih aktif berkarya.
Ia menilai ruang literasi tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga wadah bertumbuhnya gagasan dan kepercayaan diri.
“Mahasiswa perlu didorong untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pencipta. Proses kreatif harus diasah melalui latihan, diskusi, dan keberanian menampilkan karya,” ujarnya.
Kegiatan Lapau Literasi ini sekaligus menandai berakhirnya rangkaian Tur Literasi Sumatera Komunitas Seni Kuflet tahun 2026. Setelah berlangsung selama sepekan di sejumlah titik di Jambi, Rumah Baca Marenda di perbatasan Jambi—Sumatera Barat menjadi titik akhir perjalanan tersebut.
Komunitas Kuflet berencana melanjutkan program serupa pada tahun depan di sejumlah provinsi lainnya di Pulau Sumatera. (rls)

.jpg)








