Notification

×

Iklan

Iklan

MBG Dipangkas Lagi: Antara Disiplin Fiskal dan Efek Domino ke Ekonomi

28 April 2026 | 09:15 WIB Last Updated 2026-04-28T02:50:44Z


Pasbana - Pemerintah kembali mengencangkan ikat pinggang anggaran. Program Makan Bergizi Gratis (MBG)—yang sejak awal digadang sebagai program sosial unggulan—kini kembali mengalami penyesuaian. Bukan dihentikan, tetapi diperlambat ritmenya.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, Senin (27/4), mengumumkan frekuensi pembagian MBG dipangkas dari lima hari menjadi empat hari per minggu. Alasan utamanya sederhana: ruang fiskal perlu dijaga.

Jika dihitung secara kasar, satu hari pengurangan distribusi MBG bernilai sekitar Rp1 triliun. Artinya, penghematan tahunan diperkirakan mencapai Rp50 triliun—angka yang tidak kecil, bahkan setara sekitar 0,2 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Ini bukan pemangkasan pertama. Sebelumnya, pada 1 April 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah lebih dulu memangkas frekuensi program dari enam hari menjadi lima hari per minggu, dengan estimasi efisiensi Rp20 triliun per tahun.

Dalam bahasa ekonomi, langkah ini disebut refocusing anggaran: pemerintah memindahkan prioritas belanja agar defisit tetap terkendali. Dengan proyeksi defisit APBN 2026 berada di sekitar 2,8 persen PDB, setiap ruang hemat menjadi amunisi penting menjaga stabilitas fiskal.

Bagi pasar keuangan, kabar ini justru berpotensi menjadi angin segar. Tekanan fiskal yang lebih ringan biasanya meningkatkan kepercayaan investor. Dampaknya bisa menjalar ke penguatan nilai tukar rupiah dan memberi sentimen positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, ekonomi selalu memiliki dua sisi cerita.

Di balik efisiensi negara, ada sektor usaha yang mungkin merasakan efek langsung. Industri yang selama ini menopang rantai pasok MBG—terutama unggas (poultry) dan produk susu (dairy)—berpotensi mengalami penurunan permintaan.

Di sinilah dilema kebijakan publik muncul: menjaga kesehatan fiskal negara tanpa terlalu menekan sektor riil.

Publik mungkin melihatnya sebagai pengurangan program. Tetapi bagi pemerintah, ini lebih menyerupai pengaturan napas. Dalam kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, stabilitas anggaran sering kali menjadi fondasi utama sebelum pertumbuhan bisa berlari lebih cepat.

Singkatnya, MBG tidak berhenti. Hanya berjalan sedikit lebih pelan—agar keuangan negara tetap kuat melangkah jauh.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update