Pasbana - Ketika rupiah menembus level psikologis Rp17.700 per dolar AS, pertanyaannya bukan lagi apakah Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga, melainkan seberapa cepat kebijakan itu harus dilakukan. Dalam situasi global yang penuh tekanan, kenaikan BI Rate menuju 5% mulai terlihat sebagai langkah defensif yang tak terhindarkan.
Secara domestik, inflasi memang masih terkendali di kisaran 2,42%. Namun stabilitas harga hari ini bukan jaminan keamanan besok. Lonjakan harga energi global akibat tensi geopolitik membuka risiko baru bagi ekonomi Indonesia yang masih sensitif terhadap impor energi.
Jika rupiah terus melemah sementara harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, beban subsidi energi berpotensi membengkak dan pada akhirnya meningkatkan risiko kenaikan harga BBM.
Di sinilah fungsi utama suku bunga bekerja: menjaga daya tarik aset rupiah sekaligus menahan tekanan nilai tukar. Tanpa respons moneter yang tegas, pelemahan rupiah bisa berubah menjadi tekanan fiskal dan inflasi yang langsung dirasakan masyarakat.
Tekanan eksternal pun tidak ringan. Impor yang tumbuh lebih cepat dibanding ekspor membuat likuiditas dolar domestik semakin ketat. Pada saat bersamaan, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat serta lonjakan yield obligasi Jepang ke level tertinggi dalam tiga dekade meningkatkan daya tarik aset global berisiko rendah.
Konsekuensinya, surat utang negara Indonesia menghadapi penurunan minat investor, tercermin dari lelang SBN yang mulai sepi peminat.
Instrumen seperti Bond Stabilization Fund (BSF) memang dapat menjadi penyangga volatilitas pasar, tetapi sifatnya hanya sementara. Tanpa kenaikan suku bunga sebagai jangkar utama stabilitas, intervensi pasar berisiko menjadi mahal dan tidak berkelanjutan.
Memang, kenaikan bunga identik dengan kredit lebih mahal dan tekanan bagi dunia usaha. Namun dalam logika kebijakan ekonomi, langkah ini dapat dilihat sebagai “biaya asuransi” untuk mencegah risiko yang lebih besar: depresiasi tajam rupiah dan lonjakan harga kebutuhan pokok.
Pada akhirnya, keputusan menaikkan BI Rate bukan soal memperlambat ekonomi, melainkan menjaga keseimbangan. Di tengah badai global, stabilitas sering kali lebih berharga daripada pertumbuhan yang dipaksakan. Pertanyaannya sederhana: lebih baik bunga naik sedikit sekarang, atau harga hidup melonjak tanpa kendali di kemudian hari?




