Liburan panjang membekukan distribusi, dan pasar langsung merespons. Sejumlah komoditas dapur mencatat kenaikan tajam dalam sehari — cabai rawit merah menembus Rp82.450/kg, sementara minyak goreng masih di atas HET pemerintah.
Pasbana - Setiap tahun, pola ini berulang seperti siklus yang sudah dihapal pedagang pasar: libur panjang berakhir, rantai pasok tersengat, dan harga kebutuhan dapur melompat dalam semalaman. Iduladha 2026 tidak terkecuali.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada komoditas cabai — komoditas yang paling sensitif terhadap gangguan distribusi karena sifatnya yang mudah rusak.
Cabai merah besar naik 26,93% menjadi Rp73.050/kg, cabai merah keriting melonjak 26,78% ke Rp69.600/kg, sementara cabai rawit merah — favorit dapur Indonesia — kini bertengger di Rp82.450/kg, naik 12,18%.
Cabai merah besar
Rp73.050
▲ 26,93%
Cabai rawit merah
Rp82.450
▲ 12,18%
Cabai rawit hijau
Rp59.300
▲ 9,51%
Bawang merah
Rp50.750
▲ 4,96%
Daging sapi kualitas 1
Rp150.700
▲ 1,62%
Daging ayam ras
Rp39.200
▲ 1,82%
Minyak goreng curah
Rp20.650
▼ 0,24%
Bawang putih
Rp38.500
▼ 0,39%
Anomali minyak goreng: Meski harganya sedikit turun hari ini, minyak goreng curah (setara MinyaKita) masih dijual Rp20.650/kg — jauh di atas HET pemerintah sebesar Rp15.700/kg. Selisih Rp4.950/kg ini bukan angka kecil bagi konsumen kelas bawah yang berbelanja harian.
Tak semua komoditas bergejolak. Bawang putih turun tipis 0,39% ke Rp38.500/kg, harga telur ayam stabil di Rp30.500/kg, dan beras medium serta super juga relatif tenang dengan pergerakan di bawah 0,31%. Stabilitas beras menjadi sinyal positif, mengingat komoditas ini adalah indikator utama ketahanan pangan nasional.
Gula pasir premium naik 0,25% ke Rp20.200/kg, sementara gula lokal tidak bergerak di Rp19.200/kg. Daging sapi kualitas 1 tembus Rp150.700/kg, naik 1,62% — angka yang mencerminkan tingginya permintaan pasca momen kurban.
Kenaikan harga pasca libur panjang adalah fenomena struktural yang sudah terpola — bukan sekadar anomali musiman. Pertanyaannya bukan lagi "apakah harga akan naik?", melainkan "seberapa cepat distribusi bisa pulih?" dan "apakah mekanisme penyangga harga pemerintah cukup responsif?"
Dua pertanyaan itu yang akan menentukan seberapa dalam dompet konsumen terkuras pekan ini.(*)




