Pasbana - Gelombang perampingan BUMN kembali bergerak agresif. Kali ini, sorotan tertuju pada Telkom Indonesia dan Semen Indonesia yang diminta memangkas puluhan anak usaha demi efisiensi dan fokus bisnis inti.
Langkah tersebut mencerminkan arah baru transformasi BUMN di bawah Danantara: lebih ramping, lebih fokus, dan lebih terukur dalam mengelola aset. Di tengah tekanan ekonomi global dan kebutuhan efisiensi korporasi, model konglomerasi dengan terlalu banyak entitas dinilai justru membebani operasional serta memperlambat pengambilan keputusan bisnis.
Direktur Telkom Indonesia, Seno Soemadji, mengungkapkan bahwa Danantara meminta perusahaan memangkas sekitar 10 anak usaha pada Juni 2026. Agenda tersebut rencananya akan dibahas dalam RUPS mendatang.
Namun, target jangka panjangnya jauh lebih besar. Dari sekitar 67 entitas yang dimiliki saat ini, TLKM diminta merampingkan struktur menjadi hanya 22 entitas. Proses streamlining akan dilakukan berdasarkan evaluasi bisnis yang tumpang tindih serta performa anak usaha yang dinilai kurang optimal dalam dua tahun terakhir.
Secara bisnis, langkah ini bukan sekadar “pemotongan perusahaan”. Dalam praktik korporasi modern, konsolidasi anak usaha sering dilakukan untuk memperkuat efisiensi biaya, memperjelas fokus investasi, hingga meningkatkan profitabilitas grup secara keseluruhan. Semakin banyak entitas yang overlap, semakin besar pula potensi inefisiensi administratif dan pemborosan modal.
Dorongan serupa juga diarahkan kepada Semen Indonesia. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, meminta SMGR memangkas jumlah anak usaha dari 40 entitas menjadi hanya 12 entitas.
Restrukturisasi ini diharapkan memperkuat daya saing industri semen nasional yang tengah menghadapi tekanan kelebihan pasokan, perlambatan proyek konstruksi, hingga kompetisi harga yang makin ketat.
Sebagai langkah awal, SMGR melalui Solusi Bangun Indonesia telah membubarkan tiga entitas usaha, yakni PT Aroma Sejahtera Indonesia, PT Aroma Cipta Anugrahtama, dan PT Ciptanugrah Indonesia.
Jika berhasil, strategi ini dapat menjadi titik balik transformasi BUMN: bukan lagi besar karena banyak anak usaha, melainkan kuat karena bisnisnya lebih sehat, fokus, dan efisien. (*)




