Notification

×

Iklan

Iklan

Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia: Ambisi Besar Indonesia di Tengah Pertaruhan Energi Global

25 Mei 2026 | 14:02 WIB Last Updated 2026-05-25T07:02:28Z


Pasbana - Ketika harga energi dunia terus bergerak liar dan ketegangan geopolitik belum benar-benar reda, Indonesia mulai memainkan langkah yang tak biasa: membuka jalan impor besar-besaran minyak mentah dari Rusia. 

Nilainya bukan kecil—150 juta barel dalam setahun. Di atas kertas, langkah ini bisa menjadi strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Namun di lapangan, tantangannya jauh lebih kompleks.

Laporan Reuters menyebut pemerintah Indonesia tengah menyiapkan skema impor khusus beserta kerangka regulasi untuk merealisasikan rencana tersebut. Jika target itu tercapai, Indonesia harus mendatangkan sekitar 700 ribu barel minyak Rusia per hari. 

Angka ini tergolong agresif, mengingat total kebutuhan impor minyak Indonesia sendiri berada di kisaran 1 juta barel per hari.
Di sinilah persoalan mulai muncul. Para pelaku perdagangan energi yang diwawancarai Reuters menilai target tersebut tidak mudah diwujudkan. Rusia saat ini sudah mengekspor sekitar 5 juta barel minyak per hari ke berbagai negara.

Artinya, untuk memenuhi kebutuhan Indonesia, Moskow perlu mengalihkan sebagian pasokan dari pembeli yang sudah ada lebih dulu.

Secara ekonomi, langkah Indonesia cukup masuk akal. Minyak Rusia dalam beberapa tahun terakhir kerap diperdagangkan dengan diskon akibat tekanan sanksi Barat. Bagi negara importir seperti Indonesia, harga yang lebih murah dapat membantu menekan beban subsidi energi dan menjaga stabilitas fiskal. Dalam konteks APBN, selisih harga minyak beberapa dolar saja bisa berdampak besar terhadap anggaran negara.

Namun, murah tidak selalu berarti mudah. Hingga kini, pemerintah belum menunjuk perusahaan yang akan menjalankan impor tersebut. Direktur Jenderal Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, kepada Reuters menyebut proses penunjukan masih belum dipastikan jadwalnya.

Data pelacakan pengiriman juga menunjukkan realisasi masih sangat awal. Sejak kesepakatan diumumkan pada April 2026, baru satu pengiriman minyak Rusia yang tercatat tiba di Indonesia.

Situasi ini memperlihatkan satu hal penting: di era energi modern, persoalan pasokan bukan sekadar soal membeli minyak, melainkan juga menyangkut diplomasi, logistik, sistem pembayaran, hingga keseimbangan politik global. Indonesia kini berada di persimpangan antara kebutuhan energi domestik dan dinamika pasar internasional yang semakin sensitif. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update